Keseimbangan Gairah dan Kewajiban

Keseimbangan Gairah dan Kewajiban

Keinginan untuk bersama dia kuat sekali. Kewajiban sebagai suami atau istri lama-lama melelahkan. Pasangan sepertinya tidak terlalu asyik lagi. Gawat!

Ini gejala awal selingkuh. Tidak ada lagi keseimbangan penting yang menurut David Carder, pendeta pelayanan konseling di First Evangelical Free Church di Fullerton, California, Amerika Serikat.

Dalam pernikahan yang sehat, ada keseimbangan antara gairah 'Aku ingin bersama orang ini' dan kewajiban dalam rumah tangga

Jika kewajiban mendominasi dan gairah terabaikan, maka salah satu akan cenderung mencari jalan keluar lain untuk memenuhi gairah. Bila hanya memantik gairah tanpa menjalankan kewajiban maka akan merasa dimanfaatkan. Kedua hal ini perlu berjalan seimbang dalam pernikahan.

Tuhan sudah mengatur hal ini sebagai dua hal yang perlu ada dalam pernikahan. Tanggung jawab tanpa cinta menjadi seperti perbudakan. Cinta yang tidak bertanggung jawab itu liar, tak terkendali dan mempermalukan nama Tuhan.

David Carder berbagi 4 fase perselingkuhan:

  1. Tumbuhnya ketertarikan bersama
  2. Terikat satu sama lain
  3. Putus-nyambung relasi (tapi justru malah menguatkan ikatan)
  4. Terminasi dan resolusi

Sekuens berbahaya ini sering ditandai dengan penyangkalan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak semestinya ini adalah sesuatu yang salah. Sekali lagi, mengakui dan menerima menjadi kunci pemulihan. Mengakui kelemahan di hadapan Tuhan Yesus dan menerima kekuatan dari-Nya untuk tetap setia pada pasangan pemberian-Nya.

Ingat, perselingkuhan terjadi di kepala dulu. Selingkuh itu perzinahan. Tuhan menghukum pezina.

Memandang pada salib Kristus yang tetap setia pada kita yang berdosa, berkhianat dan meninggalkan Dia, tapi Dia tetap mau disalib bagi kita yang tidak setia. Dia tetap setia. Setelah menyadari kasih dan anugerah luar biasa itu, kita juga rindu setia seperti Yesus yang setia. Arahkan padangan pada Yesus, tetapkan hati untuk setia, fokus mata hanya pada pasangan.