Mengarahkan Anak Pada Yesus

Mengarahkan Anak Pada Yesus

Suatu anugerah jika anak mau datang pada Yesus. Syukuri dan temani. Jika anak tampak tidak tertarik, arahkan dan dampingi. Jangan biarkan mereka menyimpang.

Ingat kata Tuhan Yesus dalam Injil Matius,

Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan melarang mereka. Karena orang-orang yang seperti inilah yang menjadi warga kerajaan Allah.”

Matius 19:14 TSI

Anak-anak di sini berfungsi sebagai ilustrasi.  Ungkapan orang-orang yang seperti itulah jelas mengarah pada kesimpulan ini. Orang-orang yang mempunyai kerajaan surga adalah mereka yang seperti anak-anak. Maksudnya, memiliki kesadaran tentang keterbatasan dan kehinaan mereka (Matius 18:1-5). Dalam budaya Yahudi kuno, anak-anak benar-benar tidak dipandang sama sekali. Itulah sebabnya murid-murid Tuhan Yesus sendiri menghalangi orang tua yang hendak membawa anak-anak mereka kepada Tuhan Yesus, karena mereka beranggapan bahwa Sang Guru sedang sibuk dengan urusan lain yang lebih penting.

Beda dengan itu, di masa sekarang, anak malah dipandang sebagai salah satu yang terpenting. Perhatian orang tua, guru, gereja, bahkan pemerintah tertuju pada kesejahteraan anak. Sayang sekali, baik tidak peduli maupun terlalu peduli ternyata sama-sama buruk. Dampak negatif dari perhatian berlebihan pada anak membuat mereka menjadi generasi strawberry atau marshmallow yang terlalu lembut (atau lembek) perasaannya, lemah daya juangnya, tapi menganggap diri terlalu hebat, tahu banyak hal dan merasa bisa hanya dengan menonton video YouTube, Tiktok, dan sebagainya.

Orang tua perlu kembali mengarahkan anak pada Yesus. Tentu saja parents perlu menyayangi anak. Sudah bukan zamannya lagi menghukum anak dengan rotan, bambu, atau kayu sebagai alat pembuat jera. Tetapi juga bukan bentuk kasih yang mengambil alih segala tanggung jawab mulai dari membereskan mainan, menyiapkan buku, membawa tas sepulang sekolah, mengerjakan tugas atau PR mereka, memeriksa jadwal ujian dan kegiatan ekstra kurikuler, dan sebagainya yang bertujuan membuat jalan mereka lancar.

Padahal parents semestinya menyiapkan anak untuk jalan yang Tuhan tetapkan bagi mereka. Bukan menyiapkan jalannya agar rata, lancar, mulus, tanpa halangan dan baik-baik saja.

Mungkin kita sudah menyimpang cukup jauh. Sepertinya kita tidak lagi mengarahkan anak pada Kristus. Yuk, kembali ke jalan-Nya yang benar, parents.

Salah satu yang bisa kita lakukan, latihan disiplin. Juga tidak melakukan semua bagian ini dalam parenting.

Semangat mengarahkan anak pada Yesus.