Mengagungkan Tuhan Dengan Nyanyian Syukur

Mengagungkan Tuhan Dengan Nyanyian Syukur

Seberapa sering kita menyanyikan syukur pada Tuhan? Lebih banyak mana dibanding dengan mengeluh dan menyalahkan Dia?

Pemazmur sering meratap pada Tuhan, curhat dalam doa yang berisi pujian dan pengagungan pada Tuhan. Apa kita melakukan hal yang sama? Atau parents lebih sering hanya berhenti pada keluhan?

Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur

Mazmur 69:30

Orang tua kristen pasti sudah tahu kalau Tuhan mau kita mengucap syukur dalam segala hal. Sayangnya mengetahui itu hanya separuh jalan. Setelah mengetahui, kita perlu melakukan. Ini bagian yang paling tidak mudah. 

Sepertinya lebih gampang mengeluh daripada bersyukur, meratap dibanding mengucapkan terima kasih pada Tuhan Yesus. Padahal Dia sudah datang ke dunia menjadi manusia, menjalani kehidupan sempurna yang tidak bisa kita jalani, merengkuh penderitaan, mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus kita dan menyelesaikan masalah terbesar manusia: dosa. Lalu tidak berhenti sampai di situ. Kristus bangkit mengalahkan maut, ketakutan terbesar kita. Memulihkan kembali relasi kita dengan Bapa. Mengangkat kita menjadi anak-anak Bapa yang dikuduskan dan dikasihi-Nya. Menyediakan tempat di surga bagi kita untuk bersama Dia selama-lamanya.

Bukankah itu semua anugerah terbesar yang semestinya membuat kita mengagungkan Tuhan dengan nyanyian syukur?

Masalah tidak pernah berhenti. Kesulitan datang silih berganti. Badai yang satu reda, yang lain siap menerjang lagi. Rutinitas tiada henti. Namun mari bersyukur karena telah menerima ini, parents!

Sebab kekuatan-Nya juga selalu tersedia. Hikmat-Nya ada terus bagi kita. Topangan anugerah-Nya memampukan kita menghadapi topan. Penyertaan-Nya bagi kegiatan setiap hari.

Mari menyanyikan nyanyian syukur untuk mengagungkan Tuhan Yesus!