Peduli, Berbagi dan Mengasihi

Peduli, Berbagi dan Mengasihi

Seberapa sering kita menggunakan alasan yang tampaknya baik untuk tidak peduli, tidak berbagi dan tidak mengasihi keluarga? Bagaimana menutup celah ini?

Tidak peduli pada kebutuhan pasangan untuk didengarkan dengan alasan sibuk kerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. "Ini kan bentuk kasih?"

Tidak berbagi waktu bersama anak untuk mendidik mereka saat bermain atau belajar dengan dalih melayani pekerjaan Tuhan di gereja. "Apa salahnya? Bukankah harus melayani orang lain?"

Tidak mengasihi orang tua dengan mencukupi kebutuhan mereka dengan pembenaran bahwa uang yang bisa dipakai untuk memelihara mereka sudah terpakai untuk membiayai pembangunan gereja. "Ini bernilai kekal lho!"

Pernah mendengar hal ini? Semoga bukan pernah jadi pelaku ya, parents.

 

Orang Farisi dan Ahli Taurat paling pandai mencari celah dari hukum untuk tidak melakukan sesuatu yang benar dengan alasan yang tampaknya baik.

Matius 15:1-9

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

 

Sepertinya parents perlu mengevaluasi tradisi iman yang merusak hubungan keluarga. Bagaimana kalau menyatukan keluarga dengan iman lewat tradisi baru. Misalnya merayakan hari baptis anak. Ini semacam perayaan kelahiran spiritual anak. Biarkan mereka memilih menu dan aktivitasnya. Jadikan momen ini sebagai waktu untuk mengajarkan dasar-dasar iman Kristen. Ajak untuk bersyukur atas anugerah Tuhan Yesus Kristus bagi anak sejak kecil.

Mau mencoba untuk menutup celah dengan tidak mencari alasan agar hanya melakukan usaha sekecil mungkin dalam hal peduli, berbagi dan mengasihi?

Kalau parents menghormati Tuhan, pasti bisa menemukan caranya. Kalau tidak, pasti bisa mendapatkan alasan untuk tidak peduli, berbagi dan mengasihi.

 

 

Baca juga Kata Bijak lain:

Memelihara Keluarga Menghormati Tuhan

Kasih Tak Bersyarat

Allah Mengasihi Kita