KISAH NYATA
Keramahtamahan, Pengorbanan, dan Kepuasan Dalam Tuhan Lewat Keluarga Jen Pollock Michel

Kapan terakhir kali parents mengajak tetangga, teman kantor, atau sahabat untuk makan bersama di rumah?

 

Masih ingat waktu ketika parents melihat ketika masih kecil dulu bagaimana orang tua menyambut dan saling berkunjung antartetangga?

 

Keramahtamahan seperti sirna perlahan-lahan. Alih-alih ramah dan hangat, banyak rumah yang semakin antisosial dan individual.

 

Kasih semakin dingin dan langka. Relasi menjadi transaksional semata.

 

Padahal Yesus Kristus membuktikan kasih-Nya dengan menebus kita bukan supaya kita jadi orang yang mementingkan diri sendiri.

 

Jen Pollock Michel, pembicara sekaligus penulis buku Teach Us to Want: Longing, Ambition, and the Life of Faith, tinggal dengan suami dan 5 anak di Toronto, Kanada, menuturkan kisahnya tentang keramahtamahan.

 

Kehidupan di Toronto

 

Temukan pantaimu.

 

Kata-kata ini terpampang di papan iklan raksasa di apartemen tempat tinggal salah satu novelis terkenal. Reklame itu memuat gambar botol bir kuning besar berdiri kokoh di atas latar belakang berwarna biru mewah.

 

“Setiap pria dan wanita di kota ini mengejar pantainya sendiri dan Tuhan akan menolongmu jika kamu tak sengaja menghalangi langkah mereka.”

 

Propaganda ini dengan tepat mendeskripsikan arus kaum urban Manhattan yang mengejar aktualisasi diri tak henti.

 

Saya tinggal di Toronto, meski tidak dapat dibandingkan dengan kota New York, kota ini merupakan nadi ekonomi, pengetahuan, dan kesenian Kanada. Delapan tahun lalu, suami dan 4 anak kami (waktu itu masih 4, sekarang sudah 5 anak), pindah dari Chicago ke Toronto.

 

Kami benar-benar ingin menjadikan kota Toronto menjadi ‘rumah’. Ada begitu banyak hal yang kami sukai dari kota ini.

 

Sayangnya etos dari kota masa kini ini begitu banyak bertentangan dengan Injil dalam berbagai cara.

 

  • Injil menceritakan kisah lama, Toronto selalu mencari hal yang baru.
  • Injil mengajak untuk membentuk keluarga dan komunitas, kota ini merayakan segala bentuk kesendirian dan individualisme.
  • Injil mendorong kasih penuh pengorbanan, kota ini menambah ambisi pribadi setiap hari.

 

Di kota ini sepertinya orang hanya mengejar pantainya masing-masing. Rasanya kami belum menjumpai orang yang bertekuk lutut di hadapan salib Kristus.

 

Kami merasa perlu melakukan sesuatu untuk menikmati kepuasan dalam Tuhan di kota ini. Agar tidak ikut hanyut dan tenggelam oleh derasnya godaan dunia yang ditawarkan kota ini, kami perlu memperkuat disiplin dengan membenamkan diri pada kisah Injil dan menyerahkan keinginan kami untuk ‘diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya’ (Mazmur 27:4).

Apa yang kami lakukan berulang kali membentuk kasih kami. Dengan kata lain, kebiasaan menjadi penyembahan kami.

 

Yang saya pelajari adalah disiplin keramahtamahan.

 

Panggilan Ramah

 

Setiap musim gugur, sekolah anak kami di Toronto meminta sukarelawan untuk menjadi tuan rumah acara Pertemuan Orang Tua. Pada tahun itu kami memutuskan untuk menjadi penyelenggara acara itu di rumah.

 

Kami akan menyambut begitu banyak orang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya. Dalam persiapan acara itu saya sudah membayangkan akan sibuk menyapu lantai, memasak makanan, dan mengatur dekorasi ruangan. Memang itu yang terjadi.

 

Dalam bayangan saya, secara abstrak, saya menghargai ide tentang tamu yang datang ke rumah kami. Namun sesungguhnya saya selalu merasa terlalu sibuk dan sangat lelah.

 

Ini membuat keramahtamahan menjadi sebuah disiplin bagi saya. Suatu kesempatan praktek kebenaran Firman Tuhan.

 

Saya tahu apa yang saya percaya tentang Tuhan dan peran saya di dunia. Kesediaan menerima tamu mengundang saya untuk hidup sepadan dengan kepercayaan saya kepada Tuhan.

 

Tuhan itu sangat ramah. Faktanya, Kejadian 1 mencatat pekerjaan rumah tangga yang Ia lakukan. Tuhan menjadikan segala sesuatu baik. Dia mempersiapkan semua hal baik untuk manusia sebagai tamu-Nya. Ia menyambut manusia ciptaan-Nya.

 

Sambutan adalah metafora untuk keselamatan. Ini ditunjukkan dengan jelas dalam perumpamaan Anak Yang Hilang. Bapa yang kaya didesak oleh anak bungsunya untuk membagi warisan bahkan sebelum ia meninggal dunia. Si bontot meninggalkan rumah, mempertaruhkan uangnya untuk menikmati kesenangan dunia, sampai akhirnya sangat lapar sampai mau mencuri makanan babi.

 

Tidak berani membayangkan jika kembali ke rumah, ia akan diterima sebagai anak, malah berharap masih diterima menjadi budak, dia memberanikan diri untuk pulang.

 

Sambutan dari Bapa sangat luar biasa!

 

Berlari menyongsong.

Memeluk.

Mengucapkan kalimat penerimaan.

Memberi pakaian terbaik, cincin, sepatu, dan anak lembu tambun.

Tidak mau menahan diri, Ayahnya malah mengadakan pesta besar untuk merayakan kembalinya si anak.

 

Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (Lukas 15:24).

 

Jika sambutan merupakan hal yang begitu mendasar dalam natur ilahi Tuhan, maka keramahtamahan adalah salah satu praktik untuk bertumbuh makin serupa dengan dan tambah merindukan Kristus.

 

Ketika kami mengundang orang-orang ke rumah, kami mengambil peran sebagai Bapa dari anak yang terhilang dan memperagakan kembali kasih sejati yang telah kami terima sebelumnya.

 

Setiap jengkal lantai yang kami sapu, setiap lembar roti yang matang, dan setiap menit berdiri untuk antri membeli bahan makanan untuk dimasak, membawa kami untuk masuk ke dalam apa yang telah Tuhan lakukan sejak permulaan waktu: mengasihi manusia dan menerimanya dengan senang hati.

 

Menyambut itu adalah urusan yang mahal harganya. Kami perlu menyerah dan meninggalkan ide untuk duduk santai sambil berjemur di pantai dan menikmati kenyamanan.

 

Kami memeluk panggilan untuk mengikuti keramahtamahan berisi pengorbanan diri sendiri yang sudah dinyatakannya sejak permulaan hingga terpenuhi sempurna di salib Yesus Kristus. Tidak pernah berupa pantai, tapi selalu menjadi sukacita.

 

Menyambut Dengan Sukacita

 

Piring telah dicuci. Lantai sudah disapu dan dipel. Sepasang keluarga bertahan lebih lama dibanding orang tua dari teman sekelas anak-anak kami.

 

Pasangan ini mulai menanyakan hal-hal rohani.

 

Olga dan Peter bertumbuh di Rusia dengan paham komunis. “Tidak seorang pun yang pernah mengajari kami tentang agama”, kata mereka.

 

Kami mendekat dan mulai bercerita.

 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, …

 

Kami berbagi sambutan. Penerimaan menjadi kesempatan untuk kesaksian. Saya tidak pernah menyangka hal sederhana yang kami lakukan menjadi begitu berarti bagi Olga dan Peter.

 

Bingung apa yang bisa jadi bahan obrolan?

Mulai dari pekerjaan, politik, olah raga, sampai berita terkini dapat menjadi pembuka pembicaraan.

 

Selain itu, beberapa hal ini sangat menarik untuk dibicarakan:



Menjadi ramah mungkin ide yang aneh.

Dunia sudah membuat sambutan menjadi begitu janggal untuk dilakukan.

 

Parents sudah mengalami kasih Tuhan yang menyambut dan menerima apa adanya, bukan?

 

Mari meneladani sambutan dan penerimaan-Nya dengan membuka rumah, menyediakan waktu, dan memulai relasi dengan sesama.

 

Tunjukkan kasih Kristus dengan sambutan ramah.




Disadur dari Hospitality, Sacrifice, and Delight in God - DesiringGod.org

Bagikan Pendapatmu

BACK