Keluarga Anton Hendrik Membagi Peran Ayah dan Ibu Untuk Menjadi Teladan Bagi Anak

Keluarga Anton Hendrik Membagi Peran Ayah dan Ibu Untuk Menjadi Teladan Bagi Anak

Pernah bingung siapa yang harus lebih dominan mendidik anak dan menjadi teladan? Mama merasa ini tugas Papa. Papa berpikir Mama yang lebih sering dengan anak harusnya yang jadi teladan terdekat.

 

Pasti sering mendengar bagaimana anak mengadu Ayah dan Ibu dalam urusan sederhana seperti belajar atau tidur. Anak lebih memilih tidur. Lalu anak berdalih ke Ayah kalau Ibu menyuruhnya tidur. Padahal Ayah lebih dulu mengingatkan dia untuk belajar. Tidak kompak. Sering menjumpai hal ini?

 

Peran dan teladan memang menjadi sesuatu yang rumit dan sulit ketika sebelumnya tidak ada contoh yang bisa parents ikuti. Apalagi kalau kebiasaan dari keluarga terdahulu juga tidak menunjukkan teladan yang sesuai kebenaran Firman Tuhan.

 

Jangan menyerah, meski tidak ada manusia yang memberi teladan yang baik, parents punya Alkitab sebagai pedoman hidup sesuai kehendak Tuhan.

 

Masih ingat kan Tuhan Yesus pernah berkata,

 

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu,

Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu,

maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;

sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu,

supaya kamu juga berbuat sama seperti

yang telah Kuperbuat kepadamu.

Yohanes 13:14-15

 

Itu salah satu teladan rendah hati. Mementingkan kepentingan sesama di atas urusan pribadi. Ini contoh kasih sejati. Menanggalkan peran dan posisi. Melayani sepenuh hati.

 

Mengikut teladan Kristus memang bukan hal mudah. Sebagai murid-Nya, parents perlu membuat keputusan demi keputusan untuk meniru Dia setiap hari.

 

Dengan begitu parents akan semakin luwes berbagi peran dan teladan.

 

Setelah mengalami semua indah pada waktu-Nya, lalu bekerja sama melakukan tugas rumah tangga, sekarang keluarga Anton Hendrik mau berbagi kisah membagi peran Ayah dan Ibu untuk menjadi teladan bagi anak.

 

Pekerjaan kami berdua membuat kami berjumpa dengan ratusan anak-anak muda setiap hari. Dalam banyak kesempatan, saya khususnya, mendengar mereka menyuarakan kisah pahit, pedih, dan mendukakan hati. Sebagian besar di antaranya disebabkan masalah keluarga. Lebih spesifik lagi, karena ketiadaan figur ayah atau ibu, bahkan dalam keluarga lengkap sekalipun.

 

Berbagai kisah anak didik kami sungguh menjelaskan alasan di balik segala kegalauan, karakter, dan cara mereka bertingkah setiap hari. Itulah yang membuat kami sejak pacaran berdoa, belajar, dan bertekad dapat menjadi role model yang tepat untuk anak kami.

 

Kami sendiri tidak berasal dari keluarga yang sempurna. Kami pun sadar tidak akan menjadi keluarga yang sempurna. Itulah yang mendorong kami banyak belajar lewat berbagai cara seperti seminar, buku, film, mendengar sharing teman, dan sebagainya.

 

Ketika pertama kali tahu jenis kelamin anak kami laki-laki, kami sadar peran ayah akan sangat besar dalam pembentukan role model-nya. Bukan hal yang mudah karena suami saya tidak punya figur seorang ayah sejak kecil. Tapi bersyukur sejak bertobat sungguh-sungguh, Tuhan menolongnya untuk memahami figur Bapa di Surga. Bersyukur juga dalam beberapa kesempatan Tuhan menempanya untuk menjadi seorang leader yang harus mengambil keputusan, menjadi contoh, menganalisis situasi, dan lain-lain. Modal yang sangat berharga untuk menjadi kepala keluarga.

 

Begitu Luc lahir, suami saya tidak pernah melewatkan menyediakan waktu untuknya. Itu sebabnya sampai sekarang anak kami tidak hanya dekat dengan salah satu orang tua. Dia dekat dengan kami berdua. Karena suami saya lebih playful daripada saya, maka anak saya lebih banyak menghabiskan waktu bermain bersamanya. Suami saya juga tidak pernah enggan menunjukkan kasih sayang dalam bentuk physical touch pada Luc.

 

Dalam mendidik Luc, kami sudah bertekad untuk konsisten dalam berbagai hal, termasuk peraturan. Jadi selain dekat dengan kami berdua, Luc tahu kami tidak pernah berbeda pendapat tentang aturan. Kalau papa bilang A, Mama pasti bilang hal yang sama. Itu membuat Luc sejak kecil tidak lari pada orang tua satunya ketika orang tua yang lain memberikan teguran atau hukuman.

 

Kami juga sepakat, suami saya yang ambil peran dalam berbagai hal yang menyangkut manhood. Contohnya mengajari Luc bagaimana seorang pria bersiap pergi. Itu kami lakukan ketika Luc mulai bertanya tentang apa yang saya lakukan ketika make up. Suami saya juga yang menunjukkan contoh memimpin doa saat mau tidur pada Luc. Sesekali, dia meminta Luc yang memimpin doa.

 

Bagi kami, peran Ayah dan Ibu sama-sama sangat krusial bagi seorang anak. Tapi tiap peran punya fungsi dan tugas yang berbeda. Itulah perlunya kerjasama dan diskusi terus-menerus supaya bisa menjalankan fungsi kami dengan tepat dan agar anak bisa menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan.