KISAH NYATA
Putus Asa dan Nyaris Bunuh Diri, Steven James Menemukan Kebenaran Ini

Tahukah parents kalau anak sering mengalami peristiwa yang tampak sederhana dan biasa bagi kita, namun sangat meredupkan semangat hidup bagi anak?

 

Steven James menuturkan kisahnya. Terhimpit, putus ada dan nyaris bunuh diri. Namun dia menemukan kebenaran yang melegakan.

 

Kalah, Gagal, Bunuh Diri.

 

Aku nggak pernah lupa malam itu. Malam waktu aku menulis catatan terakhir. Waktu itu musim hujan di akhir Februari. Tim basket SMA-ku baru saja kalah di pertandingan penting. Karena aku wakil kapten, ini jadi kegagalanku. Tidak tau lagi apa yang harus kulakukan.

 

Jadi aku memutuskan bunuh diri saja.

 

Setelah pertandingan itu, Mama dan Papa mengantarku pulang dari sekolah. Sepanjang perjalanan kami diam. Tidak seorangpun yang membuka mulut. Papa sepertinya bisa merasa aku sangat tertekan dengan kekalahan tadi.

 

Ketika tiba di rumah, Papa bilang, “Itu hanya sebuah pertandingan,” mencoba menghiburku. “Selalu ada minggu yang lain untuk dimenangkan.” Khas Papa. Aku mengangguk seperti setuju dengannya.

 

Kemudian aku masuk ke kamar, menutup pintu, dan membanting badan ke kasur. Aku membuat kesalahan di pertandingan tadi. Kalau saja tidak salah. Seandainya aku melakukannya dengan benar. Pasti tim kami tidak akan kalah. Sial! Bodoh! Semua ini salahku.

 

Pertandingan lain. Gagal Lagi. Ini kisah hidupku. Kuputuskan hidup tak layak dijalani lagi. Aku menuju meja belajar. Mengambil secarik kertas dan mulai menulis. Sambil melihat banyak poster dari pebasket legendaris favoritku, diiringi cipratan hujan deras di jendela kamar.

 

Tidak Ada Yang Bisa Diajak Ngobrol.

 

Beberapa bulan sebelumnya, pelatih basket memanggilku ke ruangannya.

 

“Steve, saya mau memberitahu sesuatu.”

 

Aku duduk pelan-pelan supaya tidak jatuh. Kakiku lemas. Pertuku bergejolak. Ini pasti sesuatu yang tidak baik jika dia sampai memanggilku. Aku memang tidak bermain cukup baik belakangan ini.

 

“Ada apa, coach?” Aku mencoba menjawab dengan nada datar agar terlihat santai.

 

“Steve, saya tidak bisa memasangmu di tim setelah Natal nanti. Kamu tidak berkembang seperti yang saya harapkan.”

 

“Tapi aku wakil kapten! Aku senior! Kenapa kamu melakukan ini padaku, coach?” Kata-kata itu berteriak di kepalaku. Empat tahun berlatih basket sepanjang musim panas. Mulai dari angkat beban, lari, dribbling, shooting, sampai pelatihan intensif berminggu-minggu. Semuanya menguap. Kerja keras dan latihan jadi berasa sia-sia.

 

Aku tidak berkembang. Aku gagal.

 

Aku mencoba menekan perasaan ini. Aku bilang ke pelatih kalau aku bisa mengerti. Aku senang bisa melakukan apapun yang terbaik untuk tim. Kujabat tangan coach lalu pergi.

 

Setelah itu sepertinya semua jadi tambah kacau. Beth, cewek tercantik yang sudah lama mau ku ajak kencan, eh malah keluar dengan cowok lain. Nilaiku juga tidak semakin membaik. Sepertinya nggak ada satupun yang kulakukan yang hasilnya bagus. Semuanya tidak sesuai yang kuharapkan. Segalanya tidak bisa kukendalikan sekarang.

 

Di luar, hidupku tampak cukup baik. Wakil kapten dari tim basket sekolah yang telah memenangkan kejuaran nasional tahun lalu. Tinggal di rumah dan keluarga Kristen yang baik. Sempat jadi murid teladan. Tapi di dalam diri ini seperti rapuh, kosong, dan sepi.

 

Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi padaku?

Kok aku sih, Tuhan?

 

Aku nggak tau lagi mesti ngobrol sama siapa. Rasanya orang tuaku tidak mungkin bisa mengerti. Papa dan Mama cukup baik. Tapi yang kami bicarakan cuma hal-hal permukaan. Dangkal. Nggak penting. Begitu juga dengan teman-teman. Kami memang sering nongkrong. Nggak pernah tuh sampai cerita masalah yang kami alami. Ya cuman becanda, ketawa-ketiwi, bully-bully-an atau kerja tugas bareng.

 

Rasanya sudah jadi pola untuk aku nyimpan masalah sendiri. Memendam. Ya, itu yang sering kulakukan. Daripada berbagi mending mengubur. Takut rasanya cerita tentang perasaanku. Paling juga tidak ada orang yang benar-benar mau dengerin dan peduli.

 

Biar saja begini. Numpuk terus. Sampai akhirnya aku merasa berada di tempat yang sepi sunyi sendiri. Nggak ada jalan keluar. Nggak ada tempat berbalik.

 

Lalu semuanya seperti kembali ke momen kesalahanku di pertandingan penting itu. Tim kalah karena aku. Ini semua salahku.

 

Kesalahan bodoh itu seperti jadi titik terakhir.

 

Jadi aku menulis catatan terakhir. Aku serius. Bahkan sudah mikir mau bunuh diri seperti apa. Naik mobil, menabrakkan diri ke tiang jembatan. Aku tau bagaimana dan kapan akan melakukannya.

 

Aku tidak berharga! Aku tidak ada apa-apanya! Aku bukan siapa-siapa! Aku lebih baik mati saja!

 

Mereka Akan Menyesal

 

Aku duduk cukup lama menghadap meja. Sambil membaca ulang catatan terakhirku. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin menetes.

 

Besok aku akan bunuh diri. Mereka semua bakal menyesal.

 

Aku cuma ingin mereka membayar atas perasaanku yang hancur ini. Pelatih, cewe yang kusukai yang mengabaikanku, atau anak-anak populer pencuri perhatian yang tidak pernah punya ruang untuk aku masuk dalam kelompok mereka. Kalau aku mati, mereka akan merasa bersalah. Itu bentuk balas dendamku.

 

Dalam sekejap terlintas pikiran seperti ini, “Tapi kalau mereka memang tidak peduli padaku, ngapain mereka menyesal kalau aku mati?”

 

Lalu ada suara lain, “Sudah. Bunuh diri saja. Tidak ada lagi gunanya kamu hidup.”

 

Ketika selesai menulis, catatan itu ku simpan di bagian bawah tempat sampah. Supaya tidak ada yang  bisa menemukannya. Rencanaku, besok malam mau kukeluarkan, lalu taruh di meja. Biar bisa ditemukan Papa Mama, polisi, atau siapapun nanti.

 

Aku coba tidur. Tapi tidak bisa. Semua kenangan pahit dan bikin sakit kembali menghantui. Aku sakit hati. Seperti tersayat potongan kaca. Tambah dipikir malah makin bikin putus asa.

 

Apa begini saja? Hidup sebentar, melakukan ini dan itu, lalu mati. Apa semua ini ada artinya? Pengennya sih ada tempat yang cocok untukku di dunia ini. Aku berharap ada orang yang menganggapku penting.

 

Aku sudah ke gereja selama ini. Tapi tidak menemukan harapan atau iman sejati di dalam Kristus.

 

Seseorang Yang Peduli

 

Waktu bangun pagi, anehnya aku ngerasa malah lebih baik dari kemarin. Mungkin karena aku sudah memutuskan pilihanku. Aku duduk dan bermain game di ruang keluarga.

 

Mama mendatangiku dengan menangis. Ada catatanku di tangannya.

Ternyata dia masuk ke kamarku. Dia menemukan catatan terakhirku.

 

Awalnya aku sangat marah. Aku berteriak ke Mama karena sudah melanggar privasiku dengan mengecek barang-barangku. Mama membela diri dengan berkata, “Catatan itu jatuh waktu Mama membersihkan tempat sampah.” Kemudian Papa datang. Kami saling berteriak, marah, sedih, dan menyakiti. Emosi kami meledak. Sampai akhirnya Papa bilang, “Stop. Kita semua harus menenangkan diri. Ayo kita bicarakan ini dengan tenang.”

 

Kami mencoba tenang. Duh, begitu canggungnya. Awkward! Mau ngomong apa ini. Kami semua bingung. Ngelihat dan ngerasain kepedulian Papa Mama saja sudah bikin aku lega. Ini benar-benar berbeda dari apa yang kupikirkan.

 

Sebenarnya aku lega karena Mama menemukan catatanku. Jauh di dalam hati, aku tidak mau bunuh diri. Aku tidak ingin mati. Aku cuma mau hidup dan tau kalau hidupku berarti.

 

Waktu kami ngobrol, Papa Mama menunjukkan kalau mereka peduli dan sayang aku, aku sadar kalau aku penting. Aku berharga. Aku dicintai. Aku berarti. Hidupku berarti. Hidupku, bukan kematianku. Ini seperti cahaya di lorong gelapku.

 

Titik Balik

 

Memang sih masalahku tidak secara ajaib terselesaikan semua pada hari itu. Namun Tuhan memulai petualanganku bersama-Nya untuk menemukan hidup dan pengharapan yang kucari. Di dalam Dia, aku menemukan kalau hidupku itu penting. Penting karena Tuhan yang bilang kalau hidupku penting.

 

Yesus cukup peduli tentang aku sampai Dia menyerahkan nyawa-Nya, disiksa dan menderita menggantikan aku, menawarkan pengampunan supaya aku bisa memiliki pengharapan dan hidup yang baru. Segitunya aku berharga bagi Dia. Sebesar itu Dia mengasihi aku.

 

Aku juga sadar kalau kasih Tuhan itu tidak bersyarat. Nggak bersyarat sama sekali. Dia menerima, mengampuni, mengasihiku nggak peduli aku menang pertandingan basket, kencan dengan gebetan, lulus ujian atau gagal. Tuhan peduli denganku, sebagaimana adanya aku. Bukan karena apa yang kucapai. Kasih-Nya yang bikin aku berharga.

 

Suatu malam aku berdoa, “Seumur hidup aku menyebut diriku kristen, namun, Tuhan tolong aku untuk mulai menghidupi apa yang kukatakan pada orang lain sebagai sesuatu yang kupercayai. Tolong aku hidup sebagai pengikut Kristus.” Sejak saat itu Tuhan menjadi yang utama dalam hidupku.

 

Masih banyak waktu-waktu gelap dalam hidupku setelah itu. Tapi aku tau kalo bunuh diri bukan jalan keluar yang Tuhan inginkan.

 

TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.

(Zefanya 3:17)

 

Aku sadar kalo Tuhan bergirang dan bersorak-sorak karena aku. Wow! Tuhan, pencipta dan pemelihara alam semesta, bisa senang karena aku.

 

Aku nggak akan pernah lupa kalau Tuhan tidak akan membiarkan masalah datang tanpa disertai pertolongan-Nya.

 

Ada masalah menyerang, ada Tuhan menolong.


Aku nggak bakal ketemu kebenaran ini kalau malam itu aku melakukan apa yang kutulis di catatan terakhirku.

 

 

Disadur dari Ignite Your Faith.

Foto oleh Dmitry Ratushny di Unsplash.

Bagikan Pendapatmu

BACK