KISAH NYATA
Sendiri Tetapi Tidak Sendirian

Pagi ini sinar matahari begitu hangat menerpa. Aku merenungkan sesaat di meja kerja. Betapa penyertaan Tuhan di dalam hidupku sungguh besar kurasakan. Saat kedua putriku kini telah dewasa, itu semua karena anugerah Tuhan. Aku bangga sekali sekarang melihat mereka sudah bekerja. Si sulung yang sekarang bekerja di Dubai. Adiknya juga memiliki pekerjaan yang baik. Tanpa terasa mataku basah mengenang saat-saat lampau. Aku, Ibu yang bangga kepada dua gadisku.

 

Kuingat betul, saat mereka masih kecil, aku membesarkan dengan susah payah. Sendiri, tanpa suami, namun tidak sendirian. Aku tahu Tuhan ada bersamaku dalam hari-hari kami menjalani hidup hingga dapat terus bertahan.

 

Masalah pasti selalu ada. Seperti kerikil-kerikil yang Kita injak di jalan. Hanya saja, jangan sampai kerikil itu membuat jatuh tergeletak, hingga membuat putus asa. Kedua orang tua, saudara, dan kerabat yang terus memberikan dukungan kepada kami bertiga, saat itu. Dukungan mereka inilah salah satu wujud kehadiran Tuhan di dalam kami mengatasi segala masalah dalam hidup.

 

Aku mendidik anak-anak dengan takut akan Tuhan. Setiap pagi dan malam kami berdoa. Bertiga mendirikan mezbah keluarga. Biarlah doa dan pengharapan kami di dalam Tuhan terus menjadi penerang dalam hidup . Kebenaran Firman Tuhan terus kami perkatakan untuk membuat kami kuat di dalam Tuhan. Kala itu aku juga mengajar Sekolah Minggu sehingga anak-anak juga kubawa untuk rajin beribadah kepada Tuhan.

 

Air mataku menetes karena sangat-sangat bersyukur. Kedua putri kecilku tidak pernah minta aneh-aneh. Mereka memahami kondisi Mamanya sebagai orang tua tunggal. Keduanya juga berada di lingkungan pertemanan yang baik dan tidak aneh-aneh. Juga memiliki teman-teman bergaul yang membawa mereka mendekat hanya kepada Tuhan. Sungguh sebuah anugerah yang terbesar.

 

Kini benih-benih yang kutaburkan mulai kulihat buahnya. Sesibuk apapun kedua gadisku bekerja di hari Minggu, mereka tetap memberi waktu untuk beribadah kepada Tuhan. Mereka juga tertanam di komunitas yang takut akan Tuhan. Sungguh baik Dia memelihara aku dan anak-anakku sepanjang kami berjalan melewati berbagai kerikil itu. Tidak lupa aku mengingatkan bahwa semua yang kita dapatkan semua dari Tuhan, maka persepuluhan tidak boleh lupa.

 

Pengalaman hidup ini membuat aku semakin kuat dan diproses dengan sangat indah oleh Tuhan. Setiap aku bertemu dengan Ibu-Ibu yang mengasuh anak seorang diri, aku selalu berbagi kepada mereka apa yang juga aku alami. Penyertaan Tuhan, kasih setia-Nya yang kurasakan itu sungguh nyata. Kita tidak boleh kehilangan pengharapan kepada Tuhan. Kita tidak boleh meninggalkan-Nya saat Kita merasa susah.

 

Menjadi orang tua memang sulit. Bahkan kalau pengalamanku, sangat sulit namun bukan berarti aku menyerah meratapi nasib karena harus membesarkan kedua putriku seorang diri. Bukan berarti aku harus mengeluh dan menjadi sinis dengan kehidupan. Justru saat aku lemah, aku menjadi kuat karena Tuhan besertaku.

 

Zakaria 4:6b

Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.

 

Kisah Ibu Corrylina sebagaimana dituturkan dengan penuh ucapan syukur.

Parents bangga jadi orang tua yang tak pernah sendirian? Selalu disertai-Nya, bukan? 

Bagikan Pendapatmu

BACK