Surat Seorang Ibu Untuk Anaknya Tentang Pornografi

Surat Seorang Ibu Untuk Anaknya Tentang Pornografi

Masih ingat kapan terakhir kali parents menulis surat untuk anak?

 

Bahasa tulisan sering lebih mewakili perasaan daripada kata-kata. Sesuatu yang sulit terungkap melalui mulut dapat tertuang dengan mudah di atas kertas.

 

Sebuah surat dari seorang Ibu kepada anak-anaknya tentang pornografi bisa menjadi contoh untuk parents.

 

Liz Wann, tinggal di Filadelfia, Amerika Serikat, bersama suami dan dua anak laki-laki. Dia seorang ibu rumah tangga sekaligus editor MorningByMorning dan penulis di lizwann.com.

 

Ini suratnya untuk anak-anaknya.

 

Anak-anakku tersayang,

 

Mata melihat banyak hal yang baik dan jahat dalam hidup ini. Melihat menuntun kepada menjadi. Apa yang kita letakkan di depan mata dan pikiran akan membentuk dan menentukan siapa kita.

 

Entah suatu gambar itu menunjukkan kebenaran atau kebohongan, namun mereka tetap berbicara. Di atas semuanya, mata kita secara alami adalah sesuatu dengan nafsu yang sukar terpuaskan (1 Yohanes 2:16). Satu pandangan penuh nafsu bisa mengubah kita. Selintas pandang dapat memberi makan monster yang ada di dalam pikiran yang kotor sehingga dia berteriak meminta lebih.

 

“Makan. Beri saya makan,” begitu kata si monster. Selera makannya ganas dan tidak bisa dipuaskan. Sekali melihat tidak akan cukup. Akan ada melihat lagi, lagi, dan terus lagi.

 

Inilah kerajaan nafsu seksual - dunia yang penuh dengan pornografi ringan dan bebas - rahasia yang terpendam dalam history peramban web (web browser) yang sudah dibersihkan agar tak terlihat.

 

Kamu akan menjadi seperti apa yang kamu lihat, Nak. Kalau kamu mencelupkan teh terlalu lama, ia akan menjadi pahit. Seperti itu juga kalau kamu membenamkan diri dalam fantasi-fantasi porno, hidupmu akan menjadi pahit. Mungkin pertama rasanya manis, namun rasa pahit selalu menjadi hal yang pasti di ujungnya. Dan kepahitan ini akan kamu bagikan suatu hari nanti dalam relasimu dengan teman perempuan: bagaimana kamu berpikir tentang cewek, berbicara, memperlakukan dan mengejar mereka.

 

Pendidikan Yang Jahat Dalam Seks

 

Pornografi merusak gambaran kitia tentang perempuan, entah kamu sadar atau tidak. Suatu hari nanti, pornografi akan berpengaruh pada calon istrimu.

 

Para wanita gemerlap di layar komputermu tidak langsung merasakan efek dari nafsumu, namun secara tidak langsung mereka merasakan dampak dari apa yang kamu konsumsi, karena kamu mengisi bahan bakar bagi industri yang memperbudak dan memperdagangkan mereka. Dengan melihat pornografi, kamu ikut membantu industri itu untuk terus mengikat para perempuan itu dalam siklus pornografi tak berujung.

 

Namun gambar-gambar itu tidak dapat merasakan sakit dan penderitaan seorang istri ketika dosa tersembunyi suaminya akhirnya terungkap.

 

Mama memohon padamu untuk tidak membiarkan teh itu tercelup terlalu lama, Nak. Jangan bolehkan satu pandangan berubah menjadi ribuan pandangan sepanjang tahun. Jika ini terjadi, kamu akan merasakan pahit, Nak. Kamu akan merasa perlu memuntahkannya.

 

Nafsu mendistorsi kemuliaan pria dan wanita secara alkitabiah. Nafsu melawan mandat ilahi di Taman Eden. Laki-laki semestinya memelihara wanita. Menyediakan dan melindungi dengan kekuatan yang rendah hati. Bukan mengeksploitasi dan mendominasi. Wanita seharusnya kuat, sanggup, dan setara dengan pria, bukan objek untuk digunakan dan dibuang begitu saja.

 

Tapi industri pornografi menghina pria dan wanita, mengecilkan peran mereka hingga menjadi aktor untuk mempertontokan nafsu hewani melalui film. Industri ini sama sekali tidak merayakan laki-laki dan perempuan sebagai pembawa gambar dan rupa Tuhan yang mulia dan sempurna.

 

Inilah komunitas konsumen di mana kita hidup, merendahkan manusia seakan mereka hanya untuk dikonsumsi. Industri pornografi berlomba mengisi celah daring (online) dengan kebun binatang nafsu yang menyajikan kenikmatan melihat tontonan aksi porno.

 

Tempat Yang Jauh Lebih Baik Untuk Melihat

 

Nak, kamu dipanggil Tuhan untuk menolak konsumerisme seksual. Kamu diajak Kristus untuk mencari kepuasan di dalam Dia, dan menuangkan hidupmu dalam pemberian tanpa pamrih untuk Tuhan dan sesama.

 

Yesus Kristus adalah lawan dari pornografi. Yesus menjalani kehidupan yang berisi penyangkalan dan pengorbanan. Tidak ada berahi, sedikit pun tidak. Tidak sama sekali. Seks bagi dia bukan sesuatu yang penting. Dia menggambarkan Tuhan dengan sempurna.

 

Dia menjadi yang terbelakang dan menempatkan diri paling akhir untuk menjadikan kita yang pertama. Pornografi itu meninggikan diri sendiri. Meletakkan kesenangan dan kepuasanmu sebagai yang utama, melampaui kemuliaan Tuhan dan kebaikan orang lain.

 

Karena Kristus adalah kebalikan dari pornografi, maka pandanglah kepada-Nya dalam perjuanganmu melawan godaan seksual dan dosa. Ketika kamu memperhatikan dan berfokus pada Kristus, kamu akan menjadi seperti dia.

 

Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!",

Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita,  

supaya kita beroleh terang dari pengetahuan

tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

(2 Korintus 4:6)

 

Pandanglah wajah-Nya, maka pornografi akan mulai terlihat meredup.

 

Tempat Yang Aman Setelah Kegagalan Seksual

 

Ketika Musa meminta Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya (Keluaran 33:18), kemuliaan Tuhan dalam Injil Yesus Kristus belum sepenuhnya dinyatakan. Betapa lebih mulianya bagimu sekarang, ketika kamu meminta Tuhan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya setelah salib dan kebangkitan?

 

Kamu hanya perlu membaca tentang kemuliaan ini dalam Firman Tuhan, lalu merenungkannya di dalam hati dan pikiranmu. Kamu akan berubah.

 

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?

Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

(Mazmur 119:9)

 

Dan jika kamu ditarik oleh kesenangan gelap dari internet, ingatlah kata-kata Robert Murray McCheyne, “Setiap kali kamu memandang diri sendiri, pandanglah Kristus 10 kali.”

 

Satu kali menuruti nafsu berdosa, ingat untuk memandang sebanyak 10 kali kepada Yesus yang dipaku di atas kayu salib untukmu. Berada di dalam Kristus adalah satu-satunya kualifikasi yang kita perlukan untuk tetap memandang kemuliaan-Nya, bahkan setelah kita melakukan dosa.

 

Yesuslah satu-satunya obat dan pencegah untuk dosamu.

 

Be Thou My Vision

 

Ingat apa yang Yesus katakan dalam Matius 6:22:

 

“Mata adalah pelita tubuh.

Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu.”

 

Mata yang baik berkonotasi dengan penglihatan yang terang. Mata yang baik berarti kamu memiliki cara pandang secara rohani yang sehat terhadap segala sesuatu (termasuk karunia seks).

 

Namun matamu dapat menipumu jika kamu hanya melihat menggunakan mata, tidak melihat melampaui mata. Mata bisa mendistorsi hati dan pikiran bila hanya dipakai untuk melihat langsung apa yang ada di hadapanmu. Ketika matamu dipenuhi kemuliaan Kristus, kamu akan melihat dengan jelas melampaui kebohongan nafsu yang memutarbalikkan kebenaran.

 

Sebelum Papa dan Mama memiliki kalian, kami merencanakan pernikahan. Saya mau memainkan himne favorit, Be Thou My Vision (Kaulah Ya Tuhan Surya Hidupku, Kidung Jemaat 405), sebelum kami menuju altar untuk diberkati dalam pernikahan kudus.

 

Doaku adalah agar Kristus selalu menjadi fokus pandang dalam pernikahan kami. Doa yang sama juga sekarang untukmu, Nak.

 

Mama berdoa supaya Yesus menjadi fokus pandang dalam seluruh hidupmu. Agar matamu dipenuhi kemuliaan yang menuntun pada kebenaran, hidup, dan sukacita.

 

Apa yang kamu letakkan di depan matamu akan mengubahmu. Biarlah yang kau taruh di depan matamu adalah terang, bukan gelap.

 

Dengan kasih,

Mamamu.



Bagaimana perasaan parents setelah membaca surat ini?

Maukah parents membacanya sekali lagi bersama anak?

Atau mungkin menulis ulang dengan bahasa dan pengalaman parents sendiri?

 

Selamat menulis surat dan mengarahkan anak untuk memandang Kristus!



Kadang perlu memakai kertas

Untuk membongkar batas

Saat kata tak lagi bisa dirangkai tuntas

Biarlah tak putus asa lekas

Pandang Kristus dengan antusias

Dia saja sumber puas

 

Sayang untuk dilewatkan:

Parents pasti tertarik juga membaca kisah Lindsey Carlson, ibu rumah tangga berhati misi ini.

Pengorbanan rahasia Shanna Mallon sebagai ibu bisa menjadi kisah nyata yang menguatkan parents.

Begitu juga dengan momen berantakan Kelli B Trujillo sebagai orang tua tentu identik dengan apa yang parents alami.

 


Disadur dari A Letter to My Sons About Pornography - DesiringGod.org