7 Peran Tak Tergantikan Dari Orang Tua Bagi Anak-Anak

7 Peran Tak Tergantikan Dari Orang Tua Bagi Anak-Anak
  • Selama ini kami nyaris selalu menuruti keinginan anak.
 Dia mau apa kami turuti. 
Kadang terasa melelahkan sih.
 Yah gimana lagi, biar anak senang, orang tua mengalah. 

Tapi baru saja seorang sahabat menegur saya dan suami.
 Menurut dia, apa yang kami lakukan itu tidak bijak, tidak benar dan malah cenderung jahat. 
Kami kaget, namun siap untuk berubah.

 Sekarang saya sedang mengandung anak kedua.
 Kami ingin mengubah cara mendidik anak pertama dan bisa lebih baik dalam mendidik anak kedua.

 Bagaimana cara menjadi orang tua yang bijaksana? Mama yang ingin berubah.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Selamat untuk parents yang ingin mengambil langkah perubahan, tidak sekadar mengikuti kemauan anak-anak. Ya, parents memunyai peran istimewa dalam tumbuh kembang anak. Melakukan peran ini dengan dasar kebenaran Firman Tuhan akan membantu parents menjadi orang tua yang bijaksana. Ini 7 peran tak tergantikan dari orang tua bagi anak-anaknya.
  • Apa saja 7 hal itu, Pak? Satu per satu ya biar saya dan suami bisa membaca dan membahas bersama.
  • 1. Orang tua adalah yang pertama menanamkan kepercayaan dasar atau prinsip hidup. Anak lahir tanpa membawa kepercayaan dasar atau prinsip hidup. Parentslah yang mendapatkan kesempatan pertama menanamkan prinsip itu dalam kehidupan anak-anak. Misalnya, sebagai orang Kristen, salah satu prinsip kehidupan mendasar adalah pengendalian diri sebagai buah Roh Kudus. Parents harus mengajarkan dan memberikan teladan tentang hal ini dalam hidup anak-anak.
  • Menanamkan prinsip hidup sesuai Alkitab ya, Pak... Oke. Lalu apa lagi?
  • 2. Orang tua adalah pihak yang pertama mengajar ketrampilan berelasi. Anak-anak terlahir tanpa membawa teman karib. Mereka harus berjuang mencari atau menjadi teman yang karib bagi orang lain. Anak-anak harus belajar berelasi, yang pertama dan terutama dari parents. Orang tua adalah sahabat pertama bagi anak-anak. Sobat yang akan mengajar bagaimana berteman dengan baik dan sehat.
  • Mengajari berteman dengan baik dan sehat. Pedomannya ya Alkitab kan ya, Pak? Apa lagi?
  • 3. Orang tua adalah pihak yang pertama membentuk tanggapan anak-anak terhadap perintah. Anak-anak lahir tanpa kesadaran akan tanggung jawab. Perhatikan saja bayi yang dapat menangis sesuka hatinya dan kapan saja. Parents yang harus mengajar anak-anak tentang tanggung jawab yang harus dilakukan. Bukan sekadar menuntut hak mendapatkan sesuatu. Bagian penting dan mendasar dalam hal ini adalah bagaimana anak-anak menaati perintah parents. Perhatikan bagaimana respon dari anak. Apa sudah sesuai dengan harapan parents? Belajar tanggap dan taat pada perintah akan menolong anak-anak menjalani kehidupan di masa depan.
  • Nah ini dia bagian yang kami masih harus banyak belajar, Pak. Soalnya pasti tidak mudah melakukannya setelah beberapa waktu lamanya kami terlalu memanjakan anak. Kemudian apa lagi, Pak?
  • 4. Orang tua adalah pihak yang pertama mengajarkan anak-anak mengutarakan pendapat. Anak-anak tidak terlahir dengan kemampuan untuk mengutarakan pendapat dan pilihan. Parents harus menolong anak untuk mengenali pikiran dan perasaan, memilih kata yang tepat dan mengutarakan pendapat dengan cara dan dalam situasi yang tepat. Sekali lagi, mereka akan belajar bukan saja dari apa yang parents katakan, tetapi juga perlihatkan.
  • Iya sih, bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan tindakan ya, Pak... Wah belum sampai 7, sudah terasa memang bakal jadi orang tua bijak nih kalau mengikuti saran Bapak. Hehehe! Apa lagi nih, Pak?
  • 5. Orang tua adalah pihak yang pertama mengajarkan anak-anak tentang empati. Empati berbicara tentang kemampuan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Anak-anak mesti diajar untuk tidak hanya peduli dengan pikiran dan perasaannya, tetapi juga keadaan orang lain. Sikap-sikap yang melecehkan pikiran dan perasaan orang lain, misalnya menertawakan dan membuat lelucon tentang kekurangan orang lain merupakan sesuatu yang tidak patut dan mesti dihindari. Sekali lagi. anak-anak akan belajar tentang hal ini juga dari contoh-contoh sikap parents terhadap mereka.
  • Benar. Empati itu penting.
  • 6. Orang tua adalah pihak yang pertama mengajarkan anak-anak untuk menerima kegagalan diri. Ini adalah hal penting yang seringkali terlupakan. Menerima kegagalan diri sendiri. Banyak parents mendidik anak untuk menjadi cerdas dan mau bekerja keras. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa kita, demikian juga anak-anak, tak selalu berhasil dalam hidup ini. Belajar menerima kegagalan dengan respon yang tepat merupakan hal yang penting. Agar anak-anak tak menjadi patah dengan kegagalan mereka. Apalagi sampai menjadi tekanan berat yang membuka peluang untuk mengambil langkah bunuh diri.
  • Wih, ngeri juga ya kalau anak-anak tidak bisa menerima kegagalan! Saya sampai merinding mendengar beberapa cerita tentang anak bunuh diri hanya karena kegagalan yang sebenarnya sepele.
  • 7. Orang tua adalah pihak yang pertama mengajarkan anak-anak sikap terhadap otoritas. Orang tua adalah wakil Tuhan di dunia ini. Otoritas parents perlu ditegaskan dan diperlihatkan pada anak-anak. Bukan sebagai otoritas yang kaku dan beku, namun penuh dengan cinta kasih. Anak-anak juga harus belajar memberikan respon yang tepat kepada otoritas ini. Karena cepat atau lambat, mereka pasti berjumpa dengan otoritas-otoritas lain dalam hidup. Misalnya guru, pemimpin di gereja, aparat keamanan, bos di kantor, dan sebagainya.
  • Tunduk pada pada Tuhan, juga pada otoritas ya, Pak. Belajar tunduk ini memang perlu diajarkan ternyata... Terima kasih, Pak. Saya dan suami akan mencoba menjadi orang tua yang bijak sesuai 7 arahan dari Bapak.
  • Selamat melakukan 7 peran tak tergantikan orang tua dalam pendidikan anak-anak! Sertakan Tuhan dalam segala proses mendidik mereka.