Keluarga ‘Broken Home’ Makin Banyak, Bagaimana Mengajarkan Kesetiaan pada Anak-Anak?

Keluarga ‘Broken Home’ Makin Banyak, Bagaimana Mengajarkan Kesetiaan pada Anak-Anak?
  • Teman sekolah anak kami banyak yang tinggal di rumah dengan salah satu orangtua saja.
    Dengan kata lain: broken home. Ada yang tinggal sama Papa saja, ada juga yang cuma sama Mama. Orang tua mereka bercerai. Padahal kebanyakan ya orang Kristen. Begitu juga teman-teman gereja beberapa juga single parents. Tidak banyak, tapi ada beberapa.

    Kami ingin mengajar anak tentang kesetiaan. Termasuk setia dengan pasangan yang dari Tuhan. Mereka sudah remaja, SMP kelas 3 dan SMA kelas 2.

    Apa yang perlu dilakukan untuk menjaga kesetiaan dan kekudusan dalam pernikahan?

  • Kehidupan pernikahan masa kini memang sudah banyak berubah dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

    Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya mengamati, dulu hampir setiap pernikahan dimulai dengan perjodohan, namun mayoritas bertahan hingga maut memisahkan.  

    Kini, mayoritas pasangan memilih sendiri, namun hanya seumur jagung pernikahannya.  

  • Iya ya, Pak...

  • Mirip dengan alat elektronik yang di zaman dulu jika rusak akan diperbaiki, sementara di masa kini jika barang rusak maka akan dibuang dan diganti dengan yang lebih baru.

    Apalagi pada zaman now harga barang-barang tertentu makin murah bukan?  

  • Benar juga ya, Pak...

    Tapi mestinya kesetiaan kan sesuatu yang tak lekang oleh waktu, Pak.

  • Benar.

    Manusia tentu saja bukan barang elektronik yang nilainya makin murah.  

    Nilai hidup manusia tetap tak berubah dari dulu. Tetap berharga dan tak akan menjadi murah apalagi dengan mudah ”dibuang”.  

    Dalam perspektif seperti inilah kesetian menjadi berharga untuk diperjuangkan dalam relasi.
     

  • Kalau begitu bagaimana mengajarkan kesetiaan pada anak di tengah kondisi begitu banyak keluarga broken home, Pak?

  • Parents, bagikanlah 3 (tiga) hal ini untuk mengajar anak-anak tentang kesetiaan dalam relasi dan kekudusan dalam pernikahan.
     

  • Apa saja 3 hal itu, Pak?

  • Pertama, gagasan tentang kesetiaan dan kekudusan berasal dari Tuhan.

  • Memang penting untuk selalu kembali pada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu, termasuk setia yang merupakan salah satu karakter-Nya ya, Pak...

  • Tuhan setia, sekalipun manusia tidak setia.

    Dia mengajarkan kesetiaan kepada manusia karena ketidaksetiaan akan menimbulkan luka dan merusak relasi.

    Tuhan juga adalah kudus, menghendaki manusia untuk hidup dalam kekudusan, yakni hidup seturut dengan kehendak-Nya.
     

  • Sepertinya anak-anak sudah tahu tentang ini, Pak.

    Apa perlu mengingatkan lagi?

  • Menanamkan bahwa gagasan kesetiaan dan kekudusan berasal dari Tuhan adalah penting karena di dalam hidup ini selalu akan ada orang-orang yang mengecewakan dan melukai.

    Kekecewaan dan luka tidak boleh menjadi pengendali atas hidup parents dan anak.  

    Hidup ini, dalam situasi apa pun, mesti bergerak ke arah gagasan Tuhan yang dinyatakan dalam firman-Nya.
     

  • Apa hubungan antara bergerak ke arah gagasan Tuhan dengan kesetiaan, Pak?

  • Ketika parents sekeluarga bergerak ke arah kehendak Tuhan, bertumbuh dalam kesetiaan dan kekudusan, maka perilaku kepada orang lain akan mengikuti hal ini. Bahkan ketika orang lain tak menunjukkan kesetiaan dan kekudusan itu.
     

  • Jadi tidak bergantung pada kesetiaan orang lain, tapi pada Tuhan yang setia ya, Pak.

    Memang ini penting sekali.

  • Kedua, manusia yang melanggar standar kesetiaan dan kekudusan akan menerima konsekuensi.

  • Ini yang sering terlupakan.

    Mengingatkan bahwa tidak setia itu membawa pada konsekuensi buruk.

    Soalnya anak zaman now ini tidak bisa hanya mengetahui dampak baik saja, tapi juga perlu mengerti efek buruk sesuatu hal, Pak.

  • Parents, anak-anak juga perlu belajar bahwa setiap pelanggaran terhadap kehendak Tuhan akan menghasilkan konsekuensi tertentu.  

    Tuhan tentu mengampuni mereka yang mengaku dosanya, namun akibat sosial dari kesalahan tersebut tetap akan menjadi bagian hidup.
     

  • Bagaimana menjelaskannya lewat contoh ya, Pak?

  • Misalnya, raja Daud yang berzinah dengan Betsyeba.  

    Tuhan menerima pengakuan dosa dan memberikan pengampunan pada Daud.  Namun, tetap ada hukuman akibat dosa Daud tersebut.  Anak dalam kandungan mati dan beberapa perisitwa memilukan dan memalukan terjadi.

  • Wah ini contoh yang tepat, Pak!

    Berhubungan dengan ketidaksetiaan dan konsekuensi.

    Tapi bagaimana jika anak bertanya, 'Mengapa tuhantak menghilangkan konsekuensi dari sebuah perbuatan dosa dan salah ketika Dia mengampuni?'

  • Karena lewat kesalahanlah manusia belajar banyak dan bertumbuh.

    Tanpa konsekuensi, pelajaran dan pertumbuhan sulit terjadi.

    Bahkan kesalahan akan mudah diulangi kembali karena tidak memiliki konsekuensi yang berdampak.

    Hal ini perlu ditegaskan kepada anak-anak karena bisa saja mereka melihat figur publik tertentu yang melakukan kesalahan ini dan seolah-olah tak terlihat dampaknya.

  • Sangat setuju.

    Lalu apa hal ketiga, Pak?

  • Ketiga, kesetiaan dan kekudusan tak pernah mudah, namun merupakan jalan terbaik.

  • Perlu banyak memberi contoh juga di sini ya, Pak?

  • Iya.

    Anak-anak perlu memahami realita betapa sulitnya hidup dalam kesetiaan dan kekudusan relasi di tengah zaman yang terus berubah ini. Tak mudah, namun ini adalah jalan yang terbaik.

  • Bagaimana menjelaskan tentang jalan terbaik itu ya, Pak?

  • Gagasan tentang kesetiaan dan kekudusan yang berasal dari Tuhan tak pernah dimaksudkan-Nya hanya untuk menjadi beban dalam hidup manusia.

    Kesetiaan dan kekudusan adalah pagar yang Tuhan berikan agar manusia hidup bahagia dalam kehendak-Nya. Supaya parents sekeluarga aman dari bahaya dan konsekuensi ketidaksetiaan yang akan merusak kehidupan.

  • Oh iya, ingat ini, Pak.

    Bukan seperti kurungan yang mengekang tapi pagar yang melindungi kan, Pak?

  • Ya!

    Seperti pagar di rumah parents. Memang membatasi gerak, namun juga melindungi parents sekeluarga.  Hidup dalam rumah dengan pagar akan memberikan rasa aman bukan?

  • Terima kasih, Pak.

    Kami akan mengajarkan 3 hal ini pada anak.

    Doakan kami ya, Pak...

  • Tuhan menolong parents.

    Tetap berjuang. Yang terbaik masih akan datang.