Apa Benar Ada Anak Pintar dan Anak Bodoh?

Apa Benar Ada Anak Pintar dan Anak Bodoh?
  • Apa benar ada anak pintar dan anak bodoh? Ibu muda di Surabaya
  • Pdt Wahyu ‘wepe’ Pramudya menjawab, Ibu muda di Kota Pahlawan, suatu kali saya mendengar kabar tentang teman-teman saya di SMU. Lepas 20 tahun di sekolah anak fenomena yang menarik. Ada teman yang dari dulu memang sudah pintar, dan kini menjadi orang dengan karir yang baik. Sebaliknya, ada orang-orang yang dulu biasa-biasa saja, eh kini malah sukses luar biasa. Ada juga yang dulu berprestasi, namun ternyata karirnya biasa-biasa saja. Ya, hidup ini memang penuh dengan perjalanan yang tak terduga.
  • Maksudnya apa ya, Pak Pendeta?
  • Saya perlu mengisahkan hal tadi untuk menolong kita memahami sesuatu. Pintar dan bodoh adalah kata yang kita gunakan untuk menjelaskan kemampuan akademik yang sebagian tercermin dalam bentuk angka. Pintar jika nilai-nilainya luar biasa, bodoh jika nilai-nilainya di bawah standar dan tak naik sekolah. Nah, masalahnya hidup ini berjalan terus. Stempel pintar itu juga tak dengan sendirinya akan terus demikian. Sebaliknya, stempel bodoh itu juga tak kekal. Situasi berubah menurut niat dan upaya juang anak-anak kita.
  • Benar juga sih, Pak...
  • Jadi, jangan pernah melekatkan pintar dan bodoh sebagai sebuah stempel yang berlaku kekal. Sama sekali jangan pernah. Anak yang pintar pun tak akan menghasilkan sesuatu yang optimal jika berhadapan dengan sesuatu yang tak diminatinya. Sebaliknya anak yang bodoh akan sangat bersemangat belajar hal yang diminatinya, sehingga hasilnya pun baik.
  • Ada contoh lain, Pak?
  • Pintar dan bodoh bukanlah stempel yang bahkan dapat berlaku kapan saja dan di mana saja. Bisa jadi ada anak yang secara akademik lemah, tetapi mempunyai kecerdasan relasional yang luar biasa. Kelak ia bisa menjadi salesman yang sangat baik dengan penghasilan yang sangat tinggi. Hidup ini bukan sekadar ada di kelas-kelas sekolah bukan?
  • Oke. Saya paham sekarang, Pak. Tidak baik memberi stempel anak pintar dan anak bodoh ya. Lalu apa yang bisa saya lakukan?
  • Jadi, berhentilah memberi label. Apalagi menganggap label pintar dan bodoh itu sebagai karakter yang menentukan masa depan. Doronglah anak untuk menemukan bidang minatnya, ragam kecerdasannya, dan bekerja keras mewujudkan impiannya.
  • Saya akan mencoba. Terima kasih, Pak.
  • Dra. Sintowati Soetanto, M.Pd. menjawab, Ibu muda, menurut pandangan saya, tidak ada anak bodoh, semua anak itu pintar. Firman Tuhan dalam Mazmur 112:2 berkata, “Anak cucunya akan perkasa di bumi, angkatan orang benar akan diberkati.”
  • Perkasa dan diberkati dalam hal apa nih, Bu?
  • Tuhan menciptakan setiap anak secara unik dengan kemampuan, kemauan, keberadaan yang beragam.
  • Itu berkat juga ya? Saya sering tidak menyadarinya.
  • Orang tua memiliki tugas untuk memahami dan mengenali potensi anaknya sehingga bisa mengembangkan menjadi anak yang pintar.
  • Saya akan coba memahami dan mengenali potensi anak-anak saya, Bu.
  • Jadi kembali pada pernyataan saya di depan. Tidak ada anak bodoh. Yang ada adalah anak yang belum menemukan potensi, kecakapan dan karakternya.
  • Terima kasih, Bu. Semoga saya bisa menemukannya segera. Bantu doa ya, Bu?
  • Ibu pasti akan menemukan potensi dan kecakapan anak dengan pertolongan Tuhan.