Ketika Anak-Anak dan Remaja Mulai Bertanya tentang Tujuan Hidup, Orang Tua Lakukanlah Hal-Hal Ini

Ketika Anak-Anak dan Remaja Mulai Bertanya tentang Tujuan Hidup, Orang Tua Lakukanlah Hal-Hal Ini
  • Baru saja anak kami yang SMP menanyakan pertanyaan sulit. Untuk apa saya dilahirkan? 
Bagaimana mengetahui tujuan hidup saya?

 Kami tidak mau mendikte. Kami ingin dia menemukan sendiri maksud Tuhan dalam hidupnya.

 Bagaimana kami menjelaskan apa yang Tuhan rencanakan untuk hidupnya?
 Papa Mama yang tidak suka mendikte.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Parents, ini adalah pertanyaan yang menarik. Sungguh bersyukur ketika anak duduk di bangku SMP sudah menanyakan pertanyaan seperti ini. Mark Twain, seorang penulis ternama, pernah mengungkapkan kalimat ini, “The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.”
  • Kami juga terkejut sekaligus senang, Pak.
  • Ada dua hal yang parents perlu sampaikan kepada anak-anak terkait dengan tujuan hidup. Yang pertama adalah tujuan yang bersifat umum, orang-orang yang percaya kepada Tuhan mesti berjuang untuk mengasihi-Nya dengan segenap diri.
  • Iya sih. Itu tujuan utama. Lalu yang kedua apa, Pak?
  • Yang kedua adalah tujuan yang bersifat khusus. Tujuan yang bersifat khusus ini terkait dengan segala keunikan yang ada di dalam diri seseorang. Nah, keunikan ini ada yang sudah diketahui dan ada yang akan ”muncul” dalam proses kehidupan. Tegaskan kepada anak-anak untuk menjalani tujuan yang bersifat umum terlebih dahulu, sembari menemukan tujuan yang khusus itu
  • Oh begitu ya, Pak... Sudah sih kalau tujuan umum.
  • Ketika anak-anak menjalani tujuan yang bersifat umum yakni mengasihi Tuhan, parents dapat memulai percakapan dengan anak-anak terkait menemukan tujuan yang khusus. Perjalanan menemukan tujuan khusus ini akan berlangsung seumur hidup anak. Nah, bagaimana kita melakukan percakapan tentang menemukan tujuan khusus ini, parents dapat memperhatikan bagaimana cara anak belajar.
  • Wow! Seumur hidup? Tapi benar juga sih. Kami sendiri masih terus selalju bertanya pada Tuhan apa yang Dia mau untuk kami lakukan. Untuk apa memperhatikan bagaimana anak belajar, Pak?
  • Bagi anak yang belajar secara visual, parents dapat menyodorkan buku-buku biografi orang-orang pada zaman lalu atau masa kini. Anak-anak yang belajar visual cenderung lebih suka mendekam di kamar dan membaca, sambil membuat outline pemikiran dari bacaannya. Biografi-biografi itu akan menolong anak-anak untuk merefleksikan perjalanan hidupnya. Apalagi sekarang tersedia biografi dalam bentuk komik yang sangat menarik bagi anak-anak SMP.
  • Oke.
  • Bagi anak yang belajar secara audio, parents dapat mengajaknya menonton film atau YouTube yang mengisahkan tentang orang-orang yang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya. Demikian pula anak-anak dapat diajak untuk mengikuti seminar atau ceramah tertentu. Tontonan film atau seminar ini dapat disertai dengan diskusi bersama anak-anak. Anak-anak boleh berbicara tentang apa yang ia pelajari dari tontonan tersebut. Bagi orang yang belajar secara audio, menggunakan indra pendengaran adalah bagian penting.
  • Ooh begitu...
  • Bagi anak yang belajar secara kinestetik, parents dapat mengajak anak-anak untuk merasakan langsung pembelajaran untuk menemukan tujuan hidup dengan melakukan napak tilas perjalanan hidup seseorang. Misalnya melalui kunjungan ke kediaman orang tersebut secara pribadi atau setidaknya lewat museum. Anak-anak juga dapat diminta mengikuti acara-acara kamp yang bersifat eksperiensial alias ada pengalaman langsung untuk menerapkan pembelajaran yang ada.
  • Sepertinya anak kami lebih kinestetik.
  • Selamat menolong anak-anak untuk menemukan tujuan hidup. Ingatlah untuk melakukan tujuan hidup yang umum: mengasihi Tuhan. Lalu tidak lupa berjuang menemukan tujuan hidup spesifik yang sesuai dengan karakter dan talenta. Anak-anak mesti memahami bahwa menemukan tujuan hidup yang spesifik ini berlangsung seumur hidup, sehingga mereka tak mudah menyerah dan kecewa.
  • Iya, soal proses seumur hidup ini yang perlu disampaikan juga. Biar mereka mengerti bahwa ini bukan sekedar untuk satu jangka waktu tertentu.
  • Terkadang pertanyaan yang anak kita tanyakan terasa sulit, bahkan kita bisa terpana, kok bisa pertanyaan ‘ajaib’ seperti itu mampir di kepala mereka. Izinkan kesulitan menjawab yang kita alami, dibarengi dengan rasa syukur, karena kognitif anak kita sedang berkembang dengan baik.
  • Oh begitu ya, Pak...
  • Setiap kita belajar dengan cara berbeda-beda. Paling tidak ada tiga cara belajar yang perlu parents kenali dan pergunakan sebagai cara untuk menolong anak kita mengenali apa yang Tuhan rencanakan dalam hidupnya.
  • Terima kasih, Pak.