Menolong Anak Menghadapi Rasa Takut dan Trauma, Ini 3 Cara Efektifnya

Menolong Anak Menghadapi Rasa Takut dan Trauma, Ini 3 Cara Efektifnya
  • Guntur selalu menjadi suara menggelegar yang merontokkan nyali anak kami yang masih SD.  Dia sangat takut dan selalu menangis saat mendengar bunyi geledek.

    Beda lagi dengan Kakaknya yang walaupun sudah SMP tapi masih takut gelap. Lampu kamar selalu terang. Tidak pernah berani berjalan jika gelap gulita. Sangat ketakutan saat listrik padam.

    Kami kasihan pada mereka.

    Bagaimana menolong anak mengatasi ketakutan?

  • Parents, terima kasih telah memperhatikan kehidupan anak-anak dengan detail, sehingga bisa memahami ketakutan mereka.

    Ketika parents mengetahui ketakutan mereka, maka penyelesaian masalah atau pergumulan dapat bergerak ke arah yang tepat.

    Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, mau membagi tiga hal yang dapat parents lakukan untuk menolong anak-anak mengatasi rasa takut mereka.

  • Terima kasih juga mau berbagi dengan kami, Pak!

    Apa saja 3 hal itu, Pak?

  •  

    Pertama, parents sebaiknya mengakui dan menghargai perasaan anak, bukan malah melecehkannya.

    Parents mesti menghindarkan diri untuk menertawakan atau melecehkan perasaan anak dengan mengatakan, "Gitu aja kok takut sih? Anak-anak lain tidak merasa takut, tuh? Cengeng! Dasar penakut!"

    Penghakiman seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah ketakutan yang ada.

    Pengakuan terhadap perasaan anak akan membuka jalan untuk percakapan lebih lanjut dalam rangka penyelesaian masalah yang ada.

  • Oh begitu ya, Pak...

    Kami kadang kalau sudah jengkel ya sedikit mengejek dan menyalahkan anak sih, Pak.

    Ternyata itu tidak benar.

  •  

    Kedua, parents dapat menegaskan kepada anak-anak bahwa rasa takut adalah sebuah respons emosi hasil pembelajaran atau pengalaman di masa lalu.

  • Maksudnya respon emosi itu seperti apa, Pak?

  •  

    Emosi adalah suatu perasaan yang muncul di dalam diri seseorang sebagai akibat dari adanya rangsangan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar.

    Dalam perjalanan hidup, parents dan anak-anak membuat kaitan antara sebuah peristiwa emosi yang muncul dengan penilaian terhadap diri sendiri atau situasi tertentu.

  • Hmm...

    Masih sedikit bingung, Pak...

  • Seperti adik yang merasa takut ketika mendengar bunyi geledek. Ia menjadi takut karena mengaitkan bunyi tersebut dengan pengalaman tertentu yang pernah terjadi di masa lalu. Entah peristiwa apa itu.

     

    Demikian pula dengan kakak yang merasa takut ketika lampu padam. Peristiwa lampu padam itu sendiri semestinya tak otomatis menghasilkan rasa takut. Rasa takut itu muncul terkait dengan pengalaman yang mungkin terjadi di masa lalu.

  • Berarti perlu menggali pengalaman mereka ya, Pak?

  •  

    Tepat!

    Nah, parents dapat berbicara kepada anak untuk menggali pengalaman-pengalaman yang menyebabkan munculnya rasa takut ketika geledek atau kegelapan itu muncul.

  • Apa yang perlu kami tanyakan, Pak?

  •  

    Pertanyaan kunci terkait hal ini adalah:

    Apakah anak-anak masih mengingat pengalaman pertama menjadi takut setelah mendengar bunyi geledek atau mengalami kegelapan?

  • Untuk area ini perlu mendengarkan dengan empati ya, Pak?

  • Tepat sekali.

    Parents bisa mencoba beberapa tips ini:

    1. Dengar dengan penuh perhatian.
    2. Tunjukkan kepedulian dengan mengulangi apa yang jadi ungkapan perasaan mereka.
    3. Biarkan mereka membuka diri tanpa dihakimi.
    4. Hindari menertawakan atau mengejek.
  • Kami akan berjuang untuk mencoba, Pak.

    Lalu apa yang ketiga, Pak

  •  

    Ketiga, parents dapat mengajarkan anak-anak untuk membawa segala ketakutan dan kekuatiran itu kepada Tuhan di dalam doa.

  • Ini yang paling penting ya, Pak?

  •  

    Alkitab mengakui bahwa ketakutan adalah bagian dari kehidupan.

    Alkitab mengajarkan untuk menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan.

    Parents dapat mengajar dan memberi teladan doa pada anak-anak.

  • Kalau anak bertanya untuk apa berdoa, kami jawab apa, Pak?

  •  

    Berdoa merupakan upaya mengarahkan diri pada kehadiran Allah. Fokus tidak lagi pada ketakutan, namun pada kekuatan yang dari Tuhan.

    Parents dapat menegaskan bila anak-anak berjumpa atau mengalami sumber ketakutannya, maka langkah selanjutnya adalah berdoa.

  • Ketika takut, jangan lari, sembunyi atau diam, tapi langsung berdoa.

    Langkah jitu menghadapi ketakutan.

    Ada lagi yang lain mungkin, Pak?

  • Selain berdoa, parents dapat mengajarkan anak-anak untuk menghafalkan ayat Alkitab tertentu.

     

    Misalnya:

    Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: "Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau." (Yesaya 41:13)

    Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku (Mazmur 62:2)

    Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat (Amsal 18:10)

     

    Ayat-ayat ini menolong anak-anak untuk mengingat kehadiran Tuhan di dalam kehidupannya.

  • Terima kasih banyak, Pak!

    Kami percaya Tuhan menolong mengatasi ketakutan anak-anak.