Apa Yang Harus Saya Lakukan Sebagai Istri dan Ibu Yang Tidak Berdaya?

Apa Yang Harus Saya Lakukan Sebagai Istri dan Ibu Yang Tidak Berdaya?
  • DMparents, tolong saya… Sebagai Ibu, saya merasa tidak banyak berdaya. Tak seperti Ibu-Ibu lain, saya kurang berpengaruh dalam hidup anak. Saya memasak, membersihkan rumah, menyiapkan segala keperluan anak. Namun sepertinya saya tidak lebih dari asisten rumah tangga dan tangan kanan Ayah. Seluruh keputusan bahkan sampai yang paling kecil harus diambil oleh suami saya. Anak harus bertanya ke Ayahnya jika akan melakukan sesuatu. Saya tidak pernah merasakan kebanggaan sebagai seorang Ibu. Apa yang harus saya lakukan? Ibu Tak Berdaya
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Tiap rumah tangga mempunyai kebijaksanaan yang unik terkait dengan pembagian tugas dan aturan-aturan yang berlaku di dalam rumah. Nah, memang hal-hal ini seharusnya adalah hasil kesepakatan antara suami dan istri. Jika salah satu merasa keberatan, maka ada baiknya dipercakapkan bersama sebagai pasangan.
  • Benar, Pak Wepe. Saya dan suami sepertinya belum pernah benar-benar membicarakan pembagian tugas dan aturan dalam rumah.
  • Salah satu pergumulan ibu rumah tangga penuh waktu adalah rasa berarti dan berharga. Pergumulan ini wajar saja mengingat dunia perempuan berubah menjadi lebih sempit sejak ia menjadi ibu rumah tangga. Dulu, ia bekerja dan berurusan dengan banyak orang, kini dunianya sebagai ibu rumah tangga menyempit. Tak lagi bertemu dengan orang-orang yang “selevel” kini banyak berurusan dengan: tukang sayur, tukang air, tukang listrik dll. Percakapan dengan suami pun tak menjadi hal yang menggembirakan karena mayoritas ungkapan istri akan melulu soal problem “domestik” alias hal-hal yang terjadi dalam rumah. Pada akhirnya tak menarik minat suami lagi. Maka tak jarang ibu rumah tangga merasa kesepian dan stres.
  • Itu memang yang saya rasakan, Pak. Lalu apa yang sebaiknya saya lakukan? Saya tidak ingin begini terus...
  • Saya mendorong ibu untuk menerima dengan syukur posisi sekarang: sebagai ibu rumah tangga. Diam-diam saya yakin suami dan anak-anak pun mensyukuri keberadaan ibu sebagai pengelola rumah tangga. Tak perlu memperbandingkan diri dengan perempuan lain, karena tiap pribadi dan rumah tangga bersifat unik. Seiring waktu, anak semakin besar, saya menyarankan ibu untuk melakukan pekerjaan apa saja. Bukan hanya untuk memberikan kebanggaan diri karena masih bisa mencari uang, namun juga dalam rangka untuk memperluas kembali dunia dan pergaulan ibu.
  • Oh kuncinya bersyukur yaa... Saya akan mencoba bersyukur, Pak. Lalu yang dengan suami bagaimana?
  • Pada saat yang sama di masa kini, cobalah cari kesempatan untuk berbicara dengan suami. Percakapan untuk melakukan negosiasi ulang terkait dengan peran Ibu di rumah tangga dan pendidikan anak. Ungkapkan dengan jujur, tanpa menyalahkan suami. Minta bantuannya untuk mencari jalan keluar atas kegelisahan Ibu.
  • Mungkin saya memang terlalu banyak mengeluh. Jadi sepertinya tidak enak di telinga suami. Bagaimana menurut Bapak?
  • Sekadar tips untuk Ibu: Dalam berbicara dengan suami, gunakanlah kalimat yang bernuansa permintaan tolong dan bukan perintah. Apalagi dengan nada menyalahkan. Selamat mencoba.
  • Terima kasih, Pak Wepe. Saya pasti langsung mencobanya.
  • Dra. Sintowati Soetanto, M.Pd. menjawab, Boleh saya menambahkan, Bu?
  • Oh, tentu saja, Bu Sinto... Senang sekali kalau Ibu juga peduli dengan masalah saya ini.
  • Setiap wanita pasti memiliki impian, apabila menikah nanti ingin menjadi ibu dan istri seperti apa. Bisa saja itu dipengaruhi oleh berbagai hal misalnya: Teladan ibu dan istri yang pernah dilihatnya Teladan ibu kandungnya Firman Tuhan Pengalaman dan pengamatan sebelumnya
  • Impian saya apa ya... Coba saya ingat-ingat dulu, Bu.
  • Hal inilah yang juga semestinya diungkapkan kepada suami.
  • Saya ingat sekarang. Saya ingin jadi Ibu seperti Ibu saya. Beliau sanggup mengurus segala sesuatu dan selalu dilibatkan oleh Ayah dan anak-anaknya dalam mengambil keputusan. Peran saya dalam keluarga masih jauh dari impian saya.
  • Apabila saat ini dalam realitanya Ibu tidak menikmati peran seperti yang Ibu harapkan, maka saran saya, Ibu perlu melakukan beberapa langkah seperti ini: Merenungkan kembali bagaimana realita yang sekarang ibu alami. Apa yang membuat Ibu nyaman dan yang membuat tidak nyaman? Pikirkan dan diskusikanlah dengan diri Ibu sendiri. Peran dan tanggung jawab seperti apa yang ibu inginkan? Mengapa punya impian seperti itu? Sekarang coba ibu pikirkan dari sisi suami. Menurut Ibu, mengapa suami mengambil sikap demikian? Apakah ibu pernah membicarakan kegalauan Ibu ini dengan suami? Ajak suami memikirkan solusi bersama sehingga menjadi sebuah komitmen yang disepakati berdua. Mulailah dengan hal yang sederhana. Siapkan diri dengan perubahan yang perlu Ibu lakukan. Misalnya menyesuaikan impian Ibu dengan harapan suami. Seringkali hal ini tidak seperti yang Ibu harapkan.
  • Apakah saya mampu melakukannya, Bu?
  • Tidak ada ibu dan istri yang sempurna. Ibu dan istri yang baik adalah orang yang terus mau mengoreksi diri, terbuka dengan perubahan dan mau terus belajar. Ibu pasti bisa bersama Tuhan.
  • Baiklah. Saya pasti mencoba saran Pak Wepe dan Ibu Sinto. Terima kasih.
  • Semoga bermanfaat dan selamat mencoba, Bu.