Bagaimana Cara Menasihati Anak Yang Senang Bermain Game?

Bagaimana Cara Menasihati Anak Yang Senang Bermain Game?
  • Tolooong...
 Anak senang sekali bermain game.
 Bahkan dia juara kompetisi game.

 Di satu sisi sebagai orang tua kami merasa bangga dan senang. 
Namun kami juga khawatir.
Apa dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bagaimana dengan nilai-nilainya.

 Yang mengejutkan kami adalah nilai-nilainya selalu bagus.
 Tidak pernah jelek.
 Bahkan di atas rata-rata.
 Nah, main game jago, tapi pelajaran tidak kalah dari anak lain.

 Sekarang kami bingung, bagaimana cara menasihati anak yang seperti ini? 
Apa perlu menegurnya? Mama yang pusing dan Papa yang bingung.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Saya memahami kesenangan anak bermain game. Bahkan keberhasilannya juara kompetisi game tentu membanggakan. Namun, ternyata juga membersitkan kekuatiran dalam hati parents, bukan?
  • Benar, Pak.
  • Parents perlu memberikan apreasiasi bagi anak atas nilainya yang di atas rata-rata dan juga kehebatannya dalam bermain games. Apresiasi ini mesti dilakukan dengan cara yang dapat diterima dan disukai oleh anak-anak. Lewat apresiasi ini parents menegaskan kebanggaan sebagai orang tua. Sekaligus menjadi pembuka percakapan yang baik untuk mengingatkan beberapa hal bagi masa depan anak.
  • Iya. Duh, kami terlalu khawatir sampai lupa mengapresiasi anak...
  • Para ahli yang mengamati bagaimana otak manusia bekerja menarik kesimpulan bahwa game adalah salah satu dari 4 (empat) kekuatan digital yang berpotensi ”menyerang” dan memberikan dampak pada otak dan keseimbangan hidup manusia.
  • Wah gawat juga dong ya, Pak? Terus bagaimana dong, Pak?
  • Sila parents mengamati hal-hal mungkin terjadi. Beberapa aktivitas ini memiliki kaitan langsung atau tidak langsung dengan bermain game.
  • Baik. Apa saja itu, Pak?
  • 1. Multi-tasking Tuhan mendesain otak untuk mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Ketika mengerjakan beberapa tugas dalam satu waktu, otak tidak melakukan multi-tasking. Otak melakukan switching/perpindahan dengan sangat cepat. Kebiasaan menggunakan gadget/gawai/terhubung pada dunia digital saat mengerjakan tugas lain membuat otak tidak bekerja dengan baik. Dampaknya tidak berhenti di sana, namun juga memunculkan rasa depresi dan kemarahan. Dalam kasus bermain games, switching yang terus menerus dan tanpa henti itu bahkan bisa berdampak pada kematian. Parents mungkin pernah membaca berita anak atau remaj yang berhari-hari bermain games tiba-tiba ambruk di depan layar komputernya. Mati karena kelelahan yang luar biasa. Meskipun ini adalah kasus yang ekstrem, parent perlu mempercakapkan hal ini juga dengan anak-anak.
  • Wah ternyata sampai segitu berbahayanya switching ya, Pak? Perlu memberitahu anak nih... Tapi dengan cara yang bijak pastinya.
  • 2. Social media addiction Ada beberapa istilah baru yang menggambarkan kekuatan digital ini. FOMO (fear of missing out). Keingintahuan berdasarkan ketakutan ketinggalan berita yang mendorong seseorang untuk tetap up-date dengan apa yang terjadi di dunia digital. Fake of Acceptance. Kebiasaan melakukan beautify foto atau berburu likes di dunia digital. Extreme selfie. Kerelaan mengambil foto-foto di tempat yang membahayakan jiwa, misalnya di tepi jurang untuk ditampilkan di dunia digital Phubbing (fab-bing). Sibuk dengan gawai/dunia digital sampai tidak peduli dengan lingkungan yang nyata di sekitarnya.
  • Sepertinya setara dengan kecanduan yang lain ya, Pak... Misalnya kecanduan rokok, narkoba, judi, belanja atau pornografi.
  • 3. Video game addiction WHO (World Health Organization - Organisasi Kesehatan Dunia) telah memasukan kecanduan game online ke dalam salah satu gangguan jiwa. Mengapa seseorang menjadi begitu kecanduan bermain game? Para ahli otak meneliti dan menemukan bahwa saat seseorang mengalami kesenangan dari bermain game, otak mengeluarkan Dopamine (hormon yang mengatur rasa senang, penasaran dan kecanduan) yang diproduksi oleh sistem limbid di otak. Dalam kondisi terus-menerus bermain game, Dopamin akan membanjiri Pre Frontal Cortex (PFC)/otak depan yang berfungsi mengatur pemahaman, logika, konsentrasi, perencanaan dan pengambilan keputusan. Ini membuat PFC mengecil, tidak berfungsi dengan baik. Sebaliknya sistem limbid membesar, maka seseorang akan semakin kecanduan game.
  • Kata suami sih dopamin itu penting. Tapi memang benar kalau kebanyakan juga bahaya ya... Semua ini fakta-fakta penting yang perlu kami sampaikan ke anak.
  • 4. Porn addiction Narkolema (narkoba lewat mata) adalah istilah baru untuk menggambarkan kecanduan game/pornografi. Menjadi kecanduan karena proses yang sama seperti ketika kita terus-menerus bermain game. Kecanduan pornografi ini menyebabkan kerusakan PFC seperti yang tadi saya jelaskan. Saat ini telah ditemukan scan FMRI yang bisa menunjukan pada kita dampak narkolema ini pada otak kita. Pada tahun 2016, industri pornografi menjaring 3.1 milyar GB unduhan video. Pada tahun 2017 meningkat menjadi 3,7 milyar GB. Industri ini juga berhasil menjaring pelanggan remaja dan anak-anak. Parents pasti sekarang semakin menyadari kekuatan, gempuran dan dampak merusak dari pornografi bukan?
  • Gawaat, gawaaat, Pak... Kami harus segera menyampaikan semua ini ke anak.
  • Kiranya parents dapat membimbing agar kesenangan memainkan game masih berada dalam tahap yang dapat dikendalikan demi keseimbangan hidup anak-anak. Mintalah hikmat Tuhan untuk mengajar anak mengendalikan kegemarannya bermain game. Ajak anak mencari tahu bersama fakta-fakta yang parents sudah ketahui lebih dahulu. Sebaiknya tidak langsung melarang mereka bermain game. Biarkan mereka menggali bersama parents tentang 4 kekuatan digital. Arahkan mereka untuk melihat apa kata kebenaran Firman Tuhan tentang hal ini. 
Doronglah anak-anak untuk berprestasi, termasuk dalam sekolah dan bermain game. Pada saat yang sama, doronglah anak-anak untuk mengembangkan pergaulan di dunia nyata.
  • Terima kasih, Pak.