Bagaimana Memiliki Kehidupan Seks Yang Lebih Baik Dalam Pernikahan Kristen?

Bagaimana Memiliki Kehidupan Seks Yang Lebih Baik Dalam Pernikahan Kristen?
  • Kami pasangan suami istri dengan dua anak. Sekarang sedang liburan bersama anak. Kami menyewa 2 kamar. Satu untuk anak-anak, satu untuk kami. Sudah cukup lama kami sibuk dengan urusan masing-masing setelah akhirnya bisa liburan. Ahem, sepertinya kami merasa pengen punya anak ketiga. Pertanyaan ini sedikit janggal dan memalukan. Tapi kami benar-benar ingin tahu jawabannya. Bagaimana memiliki kehidupan seks yang lebih baik dalam pernikahan Kristen? Suami istri yang tetap kasmaran.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Terima kasih atas pertanyaan parents! Saya senang parents berhasil mengatasi rasa malu dan memberikan pertanyaan yang mungkin mewakili pasangan kristen lain, yang masih malu-malu tapi benar-benar ingin tahu tentang kehidupan seks yang lebih baik.
  • Ah Pak Pendeta bisa saja... Hehehe!
  • Tentu saja pertanyaan ini tidak janggal dan memalukan karena Alkitab juga mencatat dengan lugas tentang pernikahan. Tentang kehidupan seks yang ada dalam pernikahan. Lebih tepatnya, kehidupan seks hanya boleh ada dalam pernikahan.
  • Setuju, Pak!
  • Kejadian 2:21-25 (TB) Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
  • Wah jadi keingat lagi tentang ayat ini! Terima kasih, Pak. Lalu maksudnya apa?
  • Tuhan merancang siklus keluarga mulai dengan seorang laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya. Siklus ini akan kembali berulang ketika anak-anak mulai menginjak masa dewasa. Mereka akan meninggalkan parents untuk menempuh studi, bekerja dan menikah. Itulah alasan terkuat mengapa sebagai orang tua dalam proses membesarkan anak, sangat penting bagi parents untuk tidak mengabaikan kebutuhan keintiman suami-isteri, termasuk dalam kehidupan seks.
  • Tuhan yang merancang ya, Pak. Setuju dengan bagian 'sangat penting untuk tidak mengabaikan kebutuhan keintiman suami istri, termasuk kehidupan seks.'
  • Bila pasangan menginginkan kehidupan seks yang lebih baik, milikilah tiga paradigma baru ini.
  • Apa saja 3 paradigma baru untuk seks yang lebih baik itu, Pak?
  • Pertama, kehidupan seks adalah ekspresi cinta bahkan ekspresi cinta yang tertinggi antara suami pada isterinya, demikian sebaliknya seorang isteri pada suaminya. Kita memberikan ekspresi cinta pada banyak orang, berupa pelukan, kecupan di pipi, tetapi tidak pernah menjadi begitu intim sampai berhubungan seks dengan siapa saja. Hanya pada pasangan yang kepadanya janji pernikahan kita ucapkan. Jadi, karena sifatnya yang intim, beritahukanlah pada pasangan bagaimana cara menyenangkan Anda. Kemudian beresponslah pada usahanya menyenangkan Anda.
  • Seks itu tentang ekspresi cinta tertinggi antarpasangan. Jadi perlu jujur tentang apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam seks. Lalu berikan respon atas usaha pasangan ya, Pak? Baiklah. Lalu apa yang kedua, Pak?
  • Kedua, sadari bahwa dalam siklus pernikahan, yang akan selalu ada bersama parents adalah pasangan. Anak-anak yang parents besarkan akan meninggalkan parents dan bersatu dengan pasangannya kelak. Prioritaskan pasangan lebih daripada anak-anak. Kadang-kadang, menitipkan anak pada orang yang kita percaya. Misalnya mengikutkan mereka dalam acara retreat gereja. Agar parents berdua bisa honeymoon 3 hari 2 malam. Ini bukanlah dosa. Melakukan ini tidak berarti kita mengabaikan anak-anak. Mereka mendapat pengalaman mandiri. Parents mendapat kesempatan memprioritaskan pasangan. Jadi, berusahalah ‘mencuri’ waktu berduaan dengan pasangan.
  • Bagian ini sering kali terlewatkan. Sepertinya anak sudah mengganti posisi pasangan sebagai prioritas setelah Tuhan. Tipsnya boleh kami coba ya, Pak. Hehehe! Lalu yang terakhir apa?
  • Ketiga, anak-anak belajar dari pernikahan kita. Karena hubungan seksual bersifat pribadi tentu kita tidak akan mempertontonkan pada orang lain. Namun sebaliknya, ekspresi cinta yang mendahuluinya tidak bersifat pribadi. Izinkan anak-anak melihat parents memandang pasangan dengan mata berbinar-binar, mencium bibir pasangan dengan lembut, merangkul dengan tawa kebahagiaan, bergandengan tangan sepanjang jalan, berdansa dengan musik romantis, dan sebagainya. Maka anak-anak akan belajar bagaimana memperlakukan pasangannya kelak dengan hangat. Jadi, buang jauh-jauh rasa tabu parents. Mulailah mesra di depan anak-anak.
  • Wow! Ini juga patut dicoba. Memperlihatkan rasa sayang pada pasangan di depan anak-anak. Terima kasih, Pak! Kami akan mencoba mengubah paradigma sesuai kebenaran Firman Tuhan dan menikmati seks yang lebih baik.
  • 
Selamat mencoba. Selagi liburan masih tersisa sedikit di depan mata.