Bagaimana Menerapkan Kasih dan Mengajar Ketaatan Pada Anak?

Bagaimana Menerapkan Kasih dan Mengajar Ketaatan Pada Anak?
  • Saya dan suami punya 3 anak dengan rentang usia TK, SD dan SMP. Namun kami kadang masih bingung membedakan kapan saat yang tepat untuk menyayangi anak dengan membiarkannya melakukan apa yang dia mau. Juga kapan waktu yang pas untuk mengajari dia untuk taat pada larangan orang tua untuk melakukan sesuatu. Bagaimana menerapkan kasih dan mengajar ketaatan pada anak? Ibu yang gelisah.
  • Pdt Wahyu ‘wepe’ Pramudya menjawab, Dalam tiap rentang usia, anak-anak mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor-faktor yang terkait dengan perkembangan psikologi, sosiologis, dan bahkan teologis anak. Ditambah lagi dengan faktor kepribadian anak yang berbeda-beda yang membuat sebuah perlakuan yang cocok untuk anak pertama, belum tentu cocok untuk anak kedua dan seterusnya.
  • Oh tidak bisa diperlakukan sama ya, Pak...
  • Namun, ada beberapa pedoman mendasar untuk mengajar anak tentang kasih dan ketaatan.
  • Apa saja pedoman dasar itu, Pak?
  • Pertama, ketaatan bukanlah syarat untuk mendapatkan kasih. Saya rasa ini sangat mendasar walaupun seringkali tak tereksekusi dengan baik dalam hidup berkeluarga. Jika ketaatan adalah syarat untuk dikasihi, maka anak anak akan merasa tak aman dan tertekan. Merasa harus melakukan ini dan itu demi mendapatkan kasih. Padahal salah satu kebutuhan manusia, termasuk anak-anak, secara mendasar adalah diterima dan dikasihi apa adanya. Lewat parents, anak-anak seharusnya mampu merasakan anugerah dan penerimaan yang apa adanya dari Pencipta Kehidupan.
  • Ketaatan bukan syarat mendapatkan kasih. Pedoman selanjutnya apa, Pak?
  • Kedua, ketaatan lahir dari rasa hormat kepada orang lain. Dengan demikian, agar anak dapat belajar untuk hidup dalam ketaatan, maka parents perlu membangun kehidupan pribadi yang layak untuk dihormati anak-anak. Ada banyak parents gagal untuk mendidik anaknya dalam ketaaatan, karena tak memberikan teladan. Melarang anak untuk bermain handphone dengan alasan agar tidak kecanduan, namun ia sendiri sudah tak mampu lepas dari HP.
  • Ahem, malu... Kok tau, Pak? Dalam beberapa hal jika mencoba introspeksi, kami kadang tidak menghidupi yang kami ajarkan.
  • Ketiga, anak-anak perlu dilatih untuk taat, pertama-tama dan terutama bukan pada parents, namun pada Tuhan yang memberikan kehidupan. Jika relasi anak dengan Tuhan terbangun dengan baik, maka tak menjadi sulit bagi mereka untuk menghormati parents. Apalagi bila parents menunjukkan teladan hidup yang baik.
  • Jadi, kesimpulan tentang pedoman dasar mengajar anak soal kasih dan ketaatan ada 3 itu ya, Pak? 1. Ketaatan bukan syarat mendapatkan kasih. 2. Ketaatan lahir dari rasa hormat. 3. Anak harus dilatih untuk taat.
  • Benar. Tiga hal tersebut adalah hal-hal mendasar yang perlu diingat oleh parents dalam mendidik dan mengajar anak tentang ketaatan dan kasih. Ingat, tak ada pendidikan anak yang sekali jadi. Jatuh bangun dalam ketaatan adalah hal yang wajar, sepanjang terus ingin bergerak ke arah yang lebih baik.
  • Kami jadi lega setelah tahu hal ini, Pak. Meski jatuh bangun, kami akan terus berjuang ke arah yang lebih baik. Terima kasih, Pak.
  • Sambil tetap ingat mengandalkan Tuhan dan bersandar pada-Nya, Ibu dan Bapak.