Bagaimana Mengajar Anak Memilih Pacar Yang Baik?

Bagaimana Mengajar Anak Memilih Pacar Yang Baik?
  • Parah! Sebagai orang tua, kami ngeri dengan berita pembunuhan seorang perempuan oleh pacarnya sendiri sehari sesudah mereka melakukan prewedding. Bagaimana mengajar anak untuk memilih pacar yang baik? Mama yang takut.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Seiring dengan perkembangan zaman, anak-anak dalam usia yang lebih mudah sudah familiar dengan kata pacaran. Entah mereka mengerti makna yang sebenarnya atau tidak. Ini adalah sebuah tantangan yang baru. Di balik setiap tantangan juga ada kesempatan. Kesempatan untuk mengajar apa yang benar bagi anak-anak bahkan sejak dini.
  • Kebanyakan sih belum mengerti, Pak. Apa yang bisa kami ajarkan?
  • Terkait dengan soal pacaran dan memilih pacar ini adalah beberapa hal yang orangtua dapat ajarkan sejak dini. Pertama, pacaran adalah proses saling mengenal dalam rangka persiapan pernikahan. Perspektif ini penting dan mendasar serta menjadi landasan jawaban atas pertanyaan: berapa usia yang tepat untuk pacaran? Jika pacaran adalah proses saling mengenal, maka sebaiknya anak-anak tak berpacaran pada usia yang terlalu dini. Pada saat anak-anak masih duduk di bangku SMA atau bahkan SMP tentu bukan hal yang tepat untuk berbicara tentang pacaran dan memilih pacar. Barangkali tahun kedua atau ketiga di perguruan tinggi adalah waktu yang tepat untuk mulai memikirkan tentang pacaran.
  • Perspektif penting ya, Pak... Benar sih. Kalau mereka memahami bahwa pacaran itu saling mengenal dalam rangka persiapan pernikahan, mereka bakal bisa lebih leluasa berteman dengan lawan jenis tanpa harus pacaran ya, Pak...
  • Benar. Kedua, ajarlah anak-anak untuk memilih pacar berdasarkan tiga hal ini: 1. Standar yang Tuhan harapkan melalui firman-Nya, 2. Kecocokan dengan diri anak 3. Faktor selera. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menikah dengan yang sepadan dalam makna seiman. Hal mendasar ini harus dipahami anak-anak sebagai bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Soal kecocokan, maka inilah guna dari proses pacaran yang ada. Pacaran tak harus dibebani dengan keyakinan harus sekali seumur hidup dan harus ”jadi”. Jika tidak cocok masa pacaran, maka tak perlu berlanjut ke pernikahan. Hal terkait dengan selera juga harus dimengerti oleh anak-anak. Bukan berarti soal selera tak penting, tetapi ini adalah urutan terakhir setelah soal seiman dan cocok.
  • Yang sering terjadi malah sebaliknya ya, Pak... Urutan memilih pacar malah selera duluan, baru cocok, lalu standar yang Tuhan harapkan menjadi yang paling terakhir untuk dipertimbangkan anak-anak.
  • Untuk itulah parents perlu mengajar anak bagaimana memilih pacar berdasarkan 3 hal tadi. Ketiga, anak-anak harus diajak terbuka untuk menceritakan perjalanan pacaran mereka. Dorong anak, yang sudah pada usia yang tepat, untuk melibatkan anggota keluarga lain dalam proses perkenalan. Tujuannya bukan sekadar keluarga mengenal calon pacar ini, tetapi juga anak yang akan memasuki masa pacaran mendapatkan masukan dari penilaian keluarga. Lebih banyak mata yang mengamati lebih baik, bukan?
  • Betul itu. Lebih terbuka akan lebih mudah bertanggung jawab. Boleh juga kami mulai keterbukaan dengan menceritakan perjalanan pacaran saya dan suami ya, Pak?
  • Tepat sekali! Parents perlu melakukan hal itu untuk menjadi teladan sebelum anak berani menceritakan pengalaman pacarannya. Selamat menemani anak yang sudah cukup umur untuk memasuki masa pacaran. Selamat mengajak anak untuk menunda pacaran jika usia anak belum cukup. Selalu libatkan Tuhan dalam setiap relasi, termasuk pacaran.
  • Terima kasih, Pak. Ini sangat berguna untuk anak kami yang sudah maupun yang belum pacaran.