Bagaimana Mengajar Anak Untuk Menunda Keinginannya?

Bagaimana Mengajar Anak Untuk Menunda Keinginannya?
  • Anak baru saja bercerita. Teman sekolahnya baru saja dibelikan drone. Sepertinya itu mainan anak-anak SD zaman now. Anak kami bertanya apa dia boleh juga memiliki drone. Kami salut karena dia tidak merengek dan memaksa kami untuk membelikannya. Sebenarnya kami sanggup membeli, namun kami ingin anak bisa menunda keinginannya. Bagaimana mengajar anak untuk menunda keinginannya? Papa dan Mama yang kagum.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Saya rasa bagian tersulit dalam permintaan anak ini bukanlah nilai nominal dari barang yang diminta. Ada pelbagai varian harga drone, mulai dari yang murah sampai yang jutaan rupiah. Bagian tersulitnya adalah mengajar anak untuk mengelola keinginan serta melatih kesabaran untuk mendapatkan keinginan tersebut.
  • Nah itu dia, Pak...
  • Ada parents yang sangat murah hati kepada anak-anaknya. Setiap permintaan anak dengan mudah dikabulkan. Anak tak belajar untuk mengelola keinginan dan menanti. Hasilnya? Apa saja yang diterima si anak tak berumur panjang. Tak terawat dengan baik, sebab ia mudah mendapatkannya. Tak jarang ada juga barang yang masih utuh dan tak tersentuh, karena tiba-tiba anak-anak merasa bosan.
  • Benar, Pak. Soalnya anak memang cepat merasa bosan. Tidak semua keinginan anak juga harus dituruti kan ya, Pak?
  • Anak-anak perlu belajar untuk mengelola keinginan. Bahwa karena beberapa teman mendapatkan dan memainkan barang tertentu, maka itu tak berarti bahwa mereka juga harus memilikinya. Cobalah bertanya ke anak: mengapa harus memiliki barang itu? Apa yang terjadi kalau kamu memilikinya? Apa konsekuensi perawatannya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membuat anak berpikir lebih jauh.
  • Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ke anak itu untuk apa ya, Pak?
  • Pertanyaan-pertanyaan ini juga bermaksud menguji seberapa besar keinginan anak itu. Jika anak-anak bersungguh-sungguh, maka mereka akan mencari jawaban terhadap pertanyaan itu. Demikian juga keinginan mendapatkan sesuatu itu tak akan lenyap hanya karena mesti menjawab beberapa pertanyaan ini.
  • Wah boleh dicoba itu ya, Pak!
  • Jadi, parents mesti mengajar anak untuk mengelola keinginannya alias tidak semua keinginan harus dan mesti menjadi kenyataan. Di dalam hidup anak-anak akan belajar kenyataan tak menyenangkan ini. Jika tak di dalam rumah anak-anak belajar lentur dengan menerima hal-hal yang tak menjadi kenyataan, maka di mana lagi mereka akan belajar?
  • Sepakat, Pak. Rumah memang tempat paling tepat untuk belajar. Apa lagi yang bisa kami lakukan?
  • Selain itu, mereka mesti belajar bahwa segala sesuatu ada waktu dan konsekuensinya. Parents dapat meminta anak untuk menunda kesempatan memiliki dengan alasan yang masuk akal. Misalnya tentang harga dan usia yang tepat terkait dengan mainan tertentu. Selain waktu, setiap mainan juga membawa konsekuensi masing-masing. Misalnya konsekuensi perawatan dari mainan.
  • Segala sesuatu ada waktu dan koneskuensinya ya, Pak? Bagaimana dengan tren mainan, Pak? Begitu banyak video dan cerita dari teman-teman tentang ini. Kadang cukup menggoda anak dan mengganggu kami sih, Pak.
  • Parents tak perlu merasa takut anaknya tertinggal tren mainan. Sebab tren seperti ini akan terus dengan cepat berubah. Justru ini adalah kesempatan baik untuk mengajar anak bahwa tak selalu apa yang menjadi tren harus mereka ikuti.
  • Untuk segala sesuatu ada waktunya ya, Pak... Tidak mengikuti tren bisa berarti mencukupkan diri dengan apa yang ada. Terima kasih, Pak.
  • Selamat berjuang, parents!