Bagaimana Mengajar Anak Untuk Tekun dan Pantang Menyerah?

Bagaimana Mengajar Anak Untuk Tekun dan Pantang Menyerah?
  • Saya merasa anak kurang tekun.
 Suami melihat anak mudah menyerah.
 Beberapa sahabat secara halus mengatakan anak kami terlalu gampang bosan.

 Padahal kami tidak seperti itu.
 Saya dan suami selalu menunjukkan kerajinan dan ketekunan.
 Itu memang karakter bawaan kami.

 Apa mungkin karena sudah zamannya anak-anak gampang bosan karena terlalu banyak pilihan? 
Bantu kami, DMparents...

 Bagaimana mengajari anak untuk tekun dan pantang menyerah? Mami Papi rajin pangkal tekun.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Setuju dengan parents bahwa beberapa life skill penting adalah tekun dan pantang menyerah. Sayangnya, ketekunan dan pantang menyerah tidak diturunkan pada anak-anak melalui kelahiran. Ketekunan dan pantang menyerah sangat bergantung pada efikasi diri anak. Ya, parent tak salah membaca. Efikasi. Bukan edukasi.
  • Edukasi, eh efikasi. Efi-kasi. Efikasi. Apa itu, Pak?
  • Apa itu efikasi diri? Keyakinan anak bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas. Keyakinan ini timbul dari hasil pengamatan anak terhadap akibat-akibat tindakannya dalam situasi tertentu. Parents bisa melakukan 5 hal ini untuk menolong anak memiliki efikasi diri yang tinggi.
  • Wow! Nah ini yang kami butuhkan, Pak. Memiliki efikasi diri yang tinggi agar tekun dan pantang menyerah. Apa saja 5 langkah yang perlu kami lakukan itu, Pak?
  • 1. Pengalaman keberhasilan. Parents dapat menciptakan tantangan yang seru namun masih dapat diselesaikan anak-anak. Ketika mereka berhasil meraih keberhasilan dalam tantangan itu, kepercayaan diri bertumbuh. Apa yang bisa dilakukan? Sesuaikan standar diri dengan kemampuan anak. Tingkatkan standar setelah mengamati pengalaman keberhasilan anak. Parents yang suka meminta anak melakukan segala sesuatu dengan serba cepat dan serba rapi sempurna justru akan mendorong anak memiliki efikasi diri yang lebih rendah.
  • Wah ternyata sahabat saya benar dalam hal ini. Saya pernah mendengar ini sebelumnya dari sahabat, Pak. Orang tua perlu menciptakan tantangan. Bukan menjauhkan anak dari tantangan. Seperti bermain game yang asyik pasti penuh challenges dengan level yang berbeda, begitu juga orang tua semestinya membuat tantangan-tantangan menarik untuk anak. Tentu dengan reward yang menarik juga. Saya ingat sekali dia dan istrinya berkata seperti itu.
  • 2. Pengalaman orang lain. Anak bisa belajar dari pengalaman anak lain karena kemiripan di antara mereka. Tugas parents adalah menciptakan suasana akur di antara anak-anak parents, saling mengasihi dan saling peduli. Sebaliknya parents yang suka membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain akan menimbulkan kejengkelan dalam hati anak. Ini membuat efikasi diri mereka menjadi rendah. Bila parents memiliki anak tunggal, usahakanlah anak parents menikmati interaksi yang lebih banyak dengan anak sebaya.
  • Memberi ruang untuk belajar dari pengalaman anak lain lewat interaksi ya, Pak? Benar juga. Biar tidak berteman lewat hp terus.
  • 3. Persuasi verbal. Nah, inilah tugas parents sepanjang masa perkembangan anak. Setiap ucapan parents perlu menjadi pompa semangat bagi keberhasilan anak. Ada beda antara pujian yang kosong dengan pujian yang memompa semangat. Daripada mengatakan “Engkau anak hebat!” sepuluh kali dalam sehari, lebih baik parents mengamati satu keberhasilan anak dan memujinya dengan tepat. Misalnya mengatakan, “Papa sangat menghargai kerelaanmu meminjamkan mainan barumu pada adik.”
  • Oh, pujiannya harus tepat dan jelas ya, Pak... Benar juga. Mending memuji dengan tepat daripada kebanyak memuji tidak jelas.
  • 4. Imajinasi keberhasilan. Imajinasi artinya membayangkan. Parents bantulah anak-anak membayangkan sisi-sisi kesenangan dari apa yang akan ia hadapi. Yakinkan anak-anak akan kemampuan mereka. Ingatkan tentang ada pertolongan Tuhan bila di tengah keterbatasan yang ada. Hal-hal ini akan mendorong efikasi diri anak yang lebih tinggi.
  • Membayangkan keberhasilan ternyata perlu juga ya... Kami akan mencoba tips ini.
  • 5. Sensasi keberhasilan. Sensasi artinya merasakan dengan indera. Parents bisa membantu anak menikmati keberhasilannya dengan mengaitkan kesuksesan dengan apa yang bisa dirasakan indera. Misalnya memakan kue keberhasilan menyelesaikan UAS, menikmati ulang di rumah pertunjukan menyanyi yang mereka pentaskan di gereja. Sensasi ini akan bertahan di ingatan mereka dan mendorong efikasi diri yang lebih tinggi.
  • Semacam reward bagi diri sendiri yang telah berhasil ya, Pak?
  • Tepat! Ingatkan sekali lagi bahwa keberhasilan ini bisa tercapai karena pertolongan Tuhan. Semua talenta dan kemampuan yang ada itu asalnya dari Tuhan. Nah, sila mencoba 5 hal ini demi pertumbuhan efikasi diri anak.
  • Terima kasih, Pak.