Bagaimana Mengatasi Prasangka Buruk Anak Tentang Golongan Tertentu?

Bagaimana Mengatasi Prasangka Buruk Anak Tentang Golongan Tertentu?
  • Anak sepertinya sudah terpengaruh dengan teman. Kami tidak pernah mengajari dia untuk benci terhadap suatu golongan. Mungkin kami kurang menguatkan dasar tentang hal ini. Bagaimana berbicara dengan anak tentang prasangka buruk soal golongan tertentu ketika dia sepertinya sudah teracuni dengan pandangan yang tidak benar?
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Ada dua hal yang sangat mempengaruhi pilihan dan tindakan anak-anak di masa kini. Pertama, adalah teman seumuran yang ada di sekolah atau lingkungan tempat tinggal. Kedua, media sosial. Apabila parents tak mengajarkan kebencian terhadap satu kelompok sosial atau agama tertentu, maka kemungkinan besar bersumber pada dua hal itu. Hal ini akan bertambah parah apabila ternyata ada pengalaman pribadi yang tak menyenangkan hati terkait dengan golongan tertentu.
  • Oh salah satu dari dua hal itu ya, Pak... Apa pengaruh dari dua hal ini bisa dihilangkan?
  • Dua hal yang mempengaruhi ini, teman seumuran dan media sosial, tak dapat dihilangkan begitu saja dari kehidupan anak-anak. Sulit pula untuk melakukan pembatasan. Nah, saya ingin mengusulkan beberapa hal untuk membuat pengaruh buruk terhadap anak menjadi lebih minimum, walau mungkin tak menghapus sama sekali.
  • Oke. Usul Bapak apa?
  • Pertama, dialog parents dan anak. Parents mengambil inisiatif untuk membicarakan relasi dengan kelompok yang lain. Peristiwa kekinian yang terjadi dan sedang heboh dapat menjadi pintu masuk bagi percakapan ini. Dengarkanlah pendapat anak terlebih dahulu tanpa keinginan untuk menyalahkan atau membenarkan. Gali alasan-alasan di balik pendapatnya. Pada tahap akhir percakapan, berikanlah perspektif pembanding.
  • Ngobrol dan beri perspektif pembanding ya... Baiklah. Lalu apa lagi, Pak?
  • Kedua, perluas lingkup sosial dan pergaulan anak-anak. Saya merasa anak-anak yang pernah bersentuhan dengan mereka yang berbeda akan cenderung ekslusif dan berprasangka buruk terhadap kelompok lain. Apabila sekolah anak-anak sudah homogen lingkungannya. Maka carilah lingkup pergaulan lain. Misalnya klukb-klub berdasarkan hobi yang anggotanya heterogen. Pergaulan yang nyata ini akan menguji dan mengoreksi persepsi tertentu yang mungkin salah tentang kelompok lain.
  • Memperluas lingkungan pergaulan. Benar juga.
  • Ketiga, ajarlah anak-anak untuk membedakan antara ketidaksukaan dan kebencian yang agresif. Kita bisa jadi tidak suka terhadap kelompok tertentu, namun ketidaksukaan ini tidak boleh menjadi kebencian yang agresif. Misalnya karena benci maka hal menyerang kelompok lain. Media sosial sering dijadikan ajang menyerang. Ketidaksukaan adalah sebuah pilihan, yang saya harap dapat berubah seiring dengan perjalanan waktu.
  • Hmm... Saya jadi ingat kalau kita dipanggil untuk mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi kita kan ya, Pak?
  • Benar. Selamat mengajar anak untuk mencintai yang berbeda. Seperti Kristus mengasihi kita. Demi masa depan Indonesia.