Bagaimana Menolong Anak Mengembangkan Diri dan Relasi?

Bagaimana Menolong Anak Mengembangkan Diri dan Relasi?
  • Seorang teman dekat menyarankan saya untuk menanyakan hal ini ke DMparents.

 Suami saya bukan seorang pendiam.
 Dia suka menyapa orang dan berbicara dengan siapa saja.
 Saya cukup ceria dan punya banyak teman, meski tak sebanyak kenalan suami.

 Kami dikaruniai 2 anak.
Satu laki-laki, satu perempuan.
 Yang laki seperti Papanya.
 Supel. Punya banyak teman di sekolah, gereja, dan komunitas lain.
 Dia sekarang sudah SMA. 

Tapi anak perempuan kami malah cenderung pendiam.
 Temannya nyaris tidak ada.
 Paling yang kami tahu hanya satu.

 Mungkin kemampuan sosialisasinya kurang.
 Atau entahlah...
 Sekarang dia sudah SMP.

 Apa yang harus kami lakukan untuk menolong anak memiliki lebih banyak teman? Ibu ceria yang bingung.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Saya mengerti kekuatiran parent memiliki anak yang berbeda kepribadian dengan parents. Secara sosial, ada dua tipe kepribadian. Ada orang yang memiliki banyak teman, namun biasanya relasi pertemanan tidak mendalam. Sebaliknya, ada orang yang hanya memiliki satu-dua orang teman dengan relasi lebih mendalam. Tidak ada yang salah dengan keduanya. Masing-masing memunyai kekuatan dan kelemahannya.
  • Terima kasih sudah mau mengerti. Iya sih, Pak. Kami juga menyadari tentang dua tipe orang seperti yang Bapak sampaikan.
  • Mereka yang memiliki banyak teman, walau tak mendalam, akan memperluas jaringannya dengan cepat. Mereka yang hanya memiliki sedikit teman, namun mendalam, akan menikmati relasi yang ada ini.
  • Begitu ya, Pak...
  • Yang terpenting adalah anak-anak tidak cenderung bersikap antisosial. Sikap antisosial ini terlihat dari kecenderungan untuk mengurung diri, membenci orang-orang lain dan enggan berelasi dengan orang-orang lama atau baru. Ekspresinya, lisan atau tulisan, cenderung menunjukkan ketidaksukaan atau bahkan kebencian terhadap orang lain.
  • Oh tidak sampai seperti itu kok, Pak. Syukurlah...
  • Nah, jika anak tidak bersikap antisosial, maka ada dua hal yang akan menolongnya untuk mengembangkan diri dan relasinya.
  • Ini yang kami nantikan. Apa saja 2 hal itu, Pak?
  • Pertama, parents sendiri mesti menerima perbedaan pola pergaulan yang ada. Jangan sampai hanya menghitung berapa jumlah teman yang dimiliki kakak dan berapa yang dimiliki adik. Seolah-olah memberikan kesan bahwa makin banyak teman itu sudah pasti lebih baik. Padahal ada dimensi lain, yakni: kedalaman relasi. Bukan sekadar kuantitas, tetapi juga kualitas pertemanan. Bukankah tak jarang juga terjadi mereka yang tampaknya populer justru mengalami kesepian?
  • Menerima dan tidak membandingkan. Oke. Lalu?
  • Kerinduan parents agar anak yang pendiam memunyai lingkup pergaulan yang luas juga bukanlah harapan yang salah. Namun, sebelum ”memaksa” nya bergaul, parents perlu melakukan hal kedua ini.
  • Apa yang kedua itu, Pak?
  • Kedua, parents dapat belajar memberikan ruang bagi anak yang cenderung pendiam ini untuk mengekspresikan perasaan dan pemikirannya, khususnya terhadap parents. Ajaklah berbicara empat atau enam mata. Berikan kesempatan seluas-luasnya agar ia menceritakan aktivitas harian, emosi dan perasaannya.
  • Oh begitu ya, Pak?
  • Lewat cara ini parents bisa mencermati apa yang ada di balik realita jumlah temannya yang terbatas. Bisa saja ia sengaja memilih membatasi jumlah temannya karena merasa teman-teman itu memberikan pengaruh buruk kepadanya. Mungkin pula ada penyebab lain, misalnya kurang percaya diri karena ada hal-hal tertentu di dalam dirinya. Parents dapat berkomunikasi untuk menggali latar belakang yang ada. Bukan sekadar menilai perilaku yang muncul di permukaan.
  • Ini memang sering terlewatkan sih, Pak. Kami menilai dari apa yang tampak di luar.
  • Seiring perjalanan waktu dan pergantian konteks pergaulan (misalnya perpindahan sekolah) parents dapat mengamati apakah anak yang pendiam ini juga berubah. Misalnya setelah melewati waktu tertentu, si anak malah memunyai lebih banyak teman. Berarti dia butuh waktu dan tempat yang berbeda.
  • Benar juga sih, Pak.
  • Jika ternyata sikap pendiamnya makin menjadi-jadi, jumlah temannya makin sedikit, mulai tampak kecenderungan bersikap antisosial, maka parents dapat mengajaknya untuk menemui konselor keluarga terdekat. Namun, jika ia berubah, maka kita dapat mengerti bahwa kecenderungan itu hanya bersifat sementara saja karena faktor-faktor tertentu, baik yang berasal dari lingkungan atau dirinya sendiri.
  • Ya. Kami akan mencoba 2 hal yang Bapak sarankan untuk menolong anak kami.
  • Ajak anak untuk berdoa dan berserah pada Tuhan. Selalu libatkan Tuhan dalam setiap pergaulan mereka. Selamat membantu anak mengembangkan diri dan relasinya!