Berbagi Kisah Paska bagi Mereka Yang Berbeda Keyakinan, Laksanakan 3 Hal Ini

Berbagi Kisah Paska bagi Mereka Yang Berbeda Keyakinan, Laksanakan 3 Hal Ini
  • Sebentar lagi Paskah, eh salah Paska. Biasanya ada keluarga adik saya yang datang berkunjung ke rumah. Mereka belum percaya Kristus, tapi sangat menghargai perayaan agama. Salah satu cara mereka menghormati keluarga kami dengan main ke rumah menjelang dan sampai selesai Paska.

    Kami rindu adik dan keluarganya bisa mendengar tentang pengurbanan, kematian dan kebangkitan Yesus. Tapi,  bingung mesti mulai dari mana.

    Bagaimana menjelaskan tentang kematian dan kebangkitan Yesus pada keluarga lain?

  • Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, menyampaikan, Selamat menyambut Paska bagi parents.

    Walapun situasi tak memungkinkan untuk merayakan seperti biasa rangkaian acara dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi hingga Minggu Paska, namun tak mengubah kenyataan sejarah bahwa Yesus Kristus telah mati karena begitu besar kasih-Nya pada dunia ini

  • Iya.

    Selamat menyambut Paska juga, Pak!

    Kita perlu tetap memaknai Paska sebagaimana mestinya ya, Pak.

  • Parents perlu bersyukur bahwa ada saudara yang berbeda keyakinan namun menunjukkan penghargaan pada perayaan agama yang berbeda.

    Dalam konteks Indonesia yang beragam, kita membutuhkan sikap yang seperti ini.
     

  • Iya, kami sangat bersyukur karena Tuhan membuka kesempatan ini, Pak.

    Itulah mengapa kami ingin berbagi dengan keluarga yang menunjukkan ketertarikan pada perayaan Jumat Agung dan Paska ini, Pak.

  • Jika parents ingin berbagi pandangan dan pengalaman dalam merayakan Paska, maka ada tiga hal yang penting ini.
     

  • Apa saja 3 hal itu, Pak?

  • Pertama, message alias pesan apakah yang ingin parents bagikan kepada mereka yang berkeyakinan lain. 
     

  • Iya, pesannya harus pas, relevan dan kontekstual kan, Pak?

    Tapi harus mulai dari mana?

  • Beberapa hari yang lalu saya mendapati data dari Google Trends Indonesia bahwa pencarian untuk frasa ”Minggu Palma” ternyata sampai menyentuh angka 50 ribu.

     Dugaan saya yang melakukan pencarian ini bukan saja terbatas pada umat Kristen atau Katolik, namun juga umat beragama lain.  Saya rasa ini adalah ekspresi rasa ingin tahu yang wajar. 
     

  • Lalu apa yang bisa saya lakukan dengan data dan fakta itu, Pak?

  • Dengan menyampaikan data itu, saya ingin parents memahami bahwa barangkali ada hal-hal yang ingin diketahui oleh saudara terkait rangkaian hari raya mulai Kamis Putih sampai dengan Minggu Paska.

    Perhatikan apa yang menjadi minat atau malah apa yang ditanyakan terkait dengan Paska.

    Tentu saja parents juga perlu berdoa untuk memohon hikmat Tuhan agar pesan yang parents sampaikan menjawab rasa ingin tahu mereka.

  • Iya, berdoa dan mendengarkan.

    Lalu apa lagi, Pak?

  • Kedua, media apa yang akan parents gunakan untuk menyampaikan pesan Paska kepada yang berbeda keyakinan.

  • Langsung ngobrol saja kan, Pak?

  • Sepertinya mudah untuk menyampaikan lewat berbicara langsung kepada orang lain, termasuk saudara sendiri.  

    Dalam praktiknya ternyata tak mudah untuk melakukan hal ini, bukan?

    Perlu ada sesuatu yang berfungsi untuk membuka percakapan.  Apakah itu film, lagu, atau bacaan tertentu?
     

  • Ahem, benar juga sih, Pak...

    Kalau ada yang bisa dijadikan pembuka pembicaraan memang lebih baik.

  • Jika situasi memungkinkan dan saudara yang berbeda keyakinan tidak berkeberatan, maka parents juga dapat mengisahkan rangkaian cerita Paska kepada anak dan selanjutnya dilaksanakan games sederhana untuk menguji ingatan anak-anak.  

    Tanya jawab dengan anak ini dapat menjadi membuka percakapan bukan?

  • Sekaligus melibatkan anak-anak ya, Pak?

    Cara yang cerdik seperti ular, tulus seperti merpati, hehehe!

  • Ketiga, momen atau saat apakah yang paling tepat untuk berbagi pengalaman iman terkait Paska kepada yang berbeda.

  • Mungkin saat sedang santai atau makan bersama, Pak?

  • Ada satu hal yang parents perlu pikirkan sebelum berbagi keyakinan dan pengalaman iman terkait Paska kepada anggota keluarga yang berbeda keyakinan.  

    Apakah saudara tersebut telah merasakan bagaimana nilai-nilai iman parents memengaruhi dan mewujudnyata dalam relasi sehari-hari dengannya?  

    Bukankah tindakan seringkali berbicara lebih keras daripada perkataan? Keteladanan lebih menyentuh daripada sebuah khotbah.

  • Kami cukup yakin untuk hal ini.

    Seharusnya sudah sih, Pak.

    Itu salah satu alasan mengapa keluarga ini tertarik untuk main ke rumah kami menjelang Paska.

    Mereka sudah melihat cukup banyak teladan hidup sebagai pengikut Kristus.

    Memang tidak sempurna, tapi berbeda.

  • Dari pengalaman saya menyimpulkan ada dua momen terbaik untuk membagikan pengalaman dan keyakinan iman, yakni saat paling menggembirakan atau saat paling menyedihkan bagi yang bersangkutan.

    Parents dapat mempertimbangkan dua momen ini sebagai waktu yang tepat untuk berbagi keyakinan, selain menjelang perayaan Paska. 
     

  • Titik tertinggi dan titik terendah ya, Pak?

    Terima kasih.

    Kami akan mencobanya.

  • Selamat menyambut Paska.  

    Yang terbaik masih akan datang!