Anak-Anak Zaman Now Gampang Mengeluh? Orang Tua, Inilah 3 Cara Yang Terbukti Efektif Untuk Menanggapinya

Anak-Anak Zaman Now Gampang Mengeluh? Orang Tua, Inilah 3 Cara Yang Terbukti Efektif Untuk Menanggapinya
  • Bagaimana menanggapi anak gampang mengeluh? 

Ruangan panas sedikit, ngomel. Pelajaran susah sedikit, ngedumel.
 Tidak bisa menyelesaikan level di game kesukaannya, bersungut-sungut.

 Rasanya dia kurang sekali bersyukur. Padahal kami sering mengingatkannya untuk berterima kasih pada Tuhan untuk semua hal. 

Kami sampai bingung bagaimana lagi cara untuk menghadapi anak yang mudah mengeluh seperti ini? Papa Mama kekenyangan keluhan.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Saya mengerti kekuatiran yang muncul. Parents kuatir keluhan-keluhan anak itu adalah tanda bahwa mereka kurang bersyukur. Namun, parents juga harus mengingat bahwa belum tentu hal itu yang ada di benak anak-anak. Bisa saja anak-anak sekadar menumpahkan perasaannya, tanpa memaknainya secara rohani terkait dengan ucapan syukur.
  • Oh begitu ya, Pak? Lalu bagaimana memahami keluhan mereka?
  • Ketika parents mendengar anak-anak mengeluh, tiga hal ini akan menolong untuk melakukan komunikasi yang ’nyambung’ dengan mereka.
  • Ini yang kami tunggu, Pak. Apa saja 3 hal itu?
  • Pertama, pahamilah tujuan anak. Setiap perilaku anak tentu memunyai tujuan. Tujuan yang paling umum adalah untuk mendapatkan perhatian parents. Bila mereka tidak berhasil menarik perhatian parents dengan cara yang positif, mereka akan melakukannya dengan cara-cara yang negatif. Bisa saja di balik keluhan yang mereka sampaikan, ada kebutuhan untuk mendapatkan perhatian. Walaupun anak-anak akhirnya dimarahi oleh parents, namun bagi mereka mungkin lebih baik dimarahi daripada didiamkan. Parents perlu memahami dan menyadari hal ini.
  • Memahami tujuan anak. Benar juga sih, Pak... Kalau kami ingat-ingat lagi, biasanya memang hanya karena ingin mendapat perhatian.
  • Kedua, dengarkanlah dengan utuh. Bila anak-anak mengeluh, lalu parents langsung menyambar dengan memberikan nasihat demi nasihat, maka komunikasi seperti ini tidak akan ’nyambung’. Parents perlu terlebih dahulu menyediakan telinga, sebelum membuka suara. Izinkan anak-anak mengeluarkan uneg-unegnya secara tuntas. Tahanlah nasihat yang ada di ujung lidah parents.
  • Oke, sepertinya ini bagian yang cukup sulit. Tapi kami akan berjuang mencobanya. Lalu setelah mendengar dengan utuh, apa yang perlu kami lakukan, Pak?
  • Setelah mendengarkan dengan utuh, kemudian merespons dengan pertanyaan untuk melakukan klarifikasi atau mendapatkan data yang lebih banyak, sekarang parents dapat menanyakan, 'Apa yang mereka harapkan dari parents?' Tentu anak-anak tak selalu membutuhkan nasihat, bukan?
  • Oh bertanya pada anak apa yang mereka harapkan dari kami ya... Ini belum pernah kami lakukan sih, Pak.
  • Ketiga, berikan nasihat tepat pada waktunya. Penulis Amsal pernah berkata,” Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:10). Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya akan menjadi indah dan bermakna.
  • Kapan saat yang tepat itu, Pak?
  • Tentu bukan pada saat parents sedang marah. Juga bukan pada waktu anak berada di dalam sebuah kondisi tertekan. Nasihat terbaik yang ’nancep’ di benak anak-anak terjadi ketika mereka dalam keadaan rileks. Saat berjalan-jalan santai di mall, menikmati pemandangan, atau bermain bersama. Demikianlah juga saat anak menanyakan tentang suatu hal, maka itu adalah saat terbaik untuk memberikan jawaban serta menyisipkan nasihat.
  • Wah lengkap nih, Pak! Memahami tujuan. Mendengar dengan utuh. Lalu bertanya apa yang anak inginkan dari kita. Menasihati tepat pada waktunya. Terima kasih, Pak!
  • Selamat berjuang dengan mengandalkan hikmat Tuhan, parents!