Cegah Anak Terpapar Pornografi? Orang Tua, Buang Jauh-Jauh 3 Sikap Ini!

Cegah Anak Terpapar Pornografi? Orang Tua, Buang Jauh-Jauh 3 Sikap Ini!
  • Baru saja kami mendengar anak tetangga kepergok orang tuanya sedang menonton video porno yang lagi viral dengan teman-temannya. Ternyata ini sudah dilakukan berulang kali.

    Kami jadi sedikit khawatir dengan anak kami. Soalnya dia juga bergaul dengan anak tetangga.

    Kami tidak ingin anak terpapar pornografi. Dampaknya sangat parah, merusak otak, mengacaukan mental, menurunkan semangat belajar dan merusak mata.

    Tapi di sisi lain kami berulang kali mendengar kesaksian dan cerita kalau sulit sekali melindungi anak dari pornografi di zaman internet begitu bebas dan mudah seperti sekarang. 

    Apa yang orang tua perlu lakukan untuk mencegah anak terpapar pornografi?

  • Parents, rasa ingin tahu adalah salah satu hal yang muncul begitu kuat pada masa remaja.  

    Saya rasa parents pernah mengalaminya juga bukan?

    Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya mencoba berbagi bagaimana berurusan dengan rasa ingin tahu remaja, khususnya terkait dengan pornografi.

  • Iya, bagaimana caranya, Pak?

    Apa yang perlu segera kami lakukan?

  • Buang jauh-jauh dulu tiga sikap ini dari diri parents, karena tidak efektif atau malah kontra produktif dalam mencegah anak terpapar pornografi.

  • Apa saja yang tidak perlu dilakukan, Pak?

  • Pertama, sikap yang harus parents buang jauh jauh adalah naif.

  • Naif yang seperti apa, Kak?

  • Tidak mungkin memangkas semua serangan pornografi pada anak-anak.  Jangan bersikap naif bahwa parents bisa melakukannya.  

    Buka video online ternyata dapat muncul iklan yang menjurus ke arah pornografi.  Main games pun demikian.  Tak terhindarkan juga ketika membaca kartun.  Belum lagi percakapan online antaranak yang dapat menjurus pada bertukar gambar atau video porno.  

  • Iya, seperti mengurung dan ada di mana-mana ya, Pak...

    Jadi bagaimana solusinya, Pak?

  • Kadang anak tak berminat mencari hal yang berbau pornografi, tetapi eh begitu saja tersaji di depan mata mereka.

    Parents marah dan menghardik anak tanpa tahu duduk perkaranya.  Anak bisa menjadi putus asa.

    Daripada bersikap naif yang terwujud dalam kemarahan dan ancaman, mengapa tak empatik terhadap pergumulan anak?  

    Mendengarkan pergumulan mereka untuk hidup yang benar, sambil berbagi pengalaman tentang hal ini.
     

  • Berarti tidak boleh cepat marah, tapi lebih baik mendengarkan mereka ya...

    Syukurlah Bapak mengingatkan tentang hal ini.

    Lalu sikap lagi yang perlu dihindari, Pak?

  • Kedua, sikap yang harus parents buang jauh jauh adalah menyalahkan zaman.

  • Iya sih, Pak.

    Mau menyalahkan juga zamannya sudah seperti ini ya?

  • Ya, ada sebagian parents yang menyalahkan zaman di mana pornografi menjadi begitu mudah seperti sekarang ini.

    Mereka merasa pantas saja anak-anak tak mampu bertahan di tengah tekanan zaman ini.

    Padahal apa yang tersedia pada zaman now, seperti pornografi, tak berarti harus dikonsumsi bukan?

    Seperti tawaran iklan di mana-mana, namun tak pernah sanggup memaksa parents membeli bukan?

    Sifatnya hanya menggoda untuk membeli, tapi tidak punya daya paksa sama sekali.

  • Iya sih, benar juga ya...

    Berarti sesungguhnya Tuhan sudah memperlengkapi dengan kekuatan yang cukup untuk menghadapi godaan di zaman ini ya, Pak?

  • Tepat sekali!

    Menyalahkan kondisi zaman now seringkali berarti mengabaikan bahwa ada kekuatan pada diri anak-anak untuk bertahan di tengah godaan zaman yang begitu kuat ini.

    Padahal kesadaran bahwa ada kekuatan yang Tuhan anugerahkan untuk menolak godaan pornografi akan menjadi dasar untuk terus berjuang mempertahankan perilaku yang benar. 
     

  • Sikap yang ketiga yang perlu dibuang apa, Pak?

  • Ketiga, sikap yang harus parents buang jauh jauh adalah tertutup.

  • Harus lebih terbuka ya, Pak?

  • Di tengah zaman di mana akses pengetahuan seksual dan pornografi meluas, maka sangat ironi apabila parents bersikap tertutup alias menganggap tabu topik percakapan seksual.  

    Beberapa parents sengaja menghindari dan tak pernah mempercakapkan soal seksual ini bersama anak-anak yang bertumbuh remaja. 

    Ini suatu sikap yang keliru.
     

  • Apa akibatnya jika orang tua menghindari pembicaraan dengan anak dalam topik seksualitas, Pak?

  • Parents kehilangan kesempatan untuk mengajar anak-anak tentang seksualitas yang sehat.

    Peranan itu akhirnya digantikan oleh segala macam sumber di internet dan teman sebaya mereka.

    Malah menjadi tidak benar dan tidak sehat.

  • Setelah tahu tiga sikap yang perlu dihindari, kalau begitu apa yang sebaiknya kami lakukan, Pak?

  • Parents, latihlah diri untuk menjadi guru yang berinteraksi dengan anak-anak terkait hal-hal seksual ini.  

    Anak-anak perlu mendapatkan sumber informasi yang tepat dan sehat lewat rekan yang mempercakapkan hal ini dengan terbuka.  

    Siapa lagi rekan paling tepat selain parents
     

  • Benar juga ya...

    Terima kasih, Pak.

    Kami akan mencoba jadi guru yang baik dengan hikmat dan anugerah-Nya.

  • Selamat berjuang.

    Anugerah Tuhan akan memampukan.

    Andalkan Dia selalu, libatkan Dia dalam segala hal.

    Parents akan melihat yang terbaik akan segera datang.