Bisakah Percakapan Lepas Dari Gosip? Tentu Saja Bisa. Ini Cara-Caranya!

Bisakah Percakapan Lepas Dari Gosip? Tentu Saja Bisa. Ini Cara-Caranya!
  • Sepertinya tidak ada topik pembicaraan selain menggunjingkan tetangga, selebritas, politik, suami, anak, makanan dan diskon setiap kali saya dan Ibu-ibu tetangga di lingkungan rumah bertemu dan ngobrol.

    Awalnya saya mengikuti sebagai pendengar yang baik demi menjalin relasi dengan tetangga. Lama kelamaan saya bosan karena merasa pembicaraan kami seru tapi sangat tidak sehat dan tidak benar.

    Apa bisa menjalin relasi dengan tetangga tanpa bergosip?

  • Parents, terima kasih untuk kejujurannya.

    Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, bersyukur karena parents mau jujur tentang hal yang sering ditutup-tutupi ini.

    Nampaknya sulit sekali ya untuk terlibat perbicangan tanpa gosip?

    Bukan hanya untuk para perempuan saja, laki-laki pun juga seringkali terlibat dalam percakapan yang mencakup gosip. Hanya beda saja topik-topik gosipnya.

  • Iya, Bapak sepertinya sangat memahami.

  •  

    Sebelum lebih lanjut, kita definisikan dulu ya apa yang disebut sebagai gosip.

    Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikan gosip sebagai obrolan tentang orang-orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan.

    Dari definisi ini kita bisa memahami bahwa gosip adalah hal yang buruk ketika itu bukan sekedar obrolan tentang orang lain, tetapi juga mengandung unsur cerita negatif tentang orang lain.

  • Oh berarti kalau membicarakan orang lain tapi tidak ada unsur buruknya, itu bukan termasuk gosip ya, Pak?

    Tapi sepertinya sulit sih...

  •  

    Parents mungkin bertanya, ”Kalau tidak bergosip alias menceritakan sesuatu yang negatif tentang orang lain maka bicara tentang apa?"

    Nah, ada 3 (tiga) tingkat (level) dalam percakapan yang parents perlu ketahui, juga nantinya dalam rangka mengajar pada anak-anak.

  • Apa saja tingkatan percakapan itu, Pak?

  •  

    Pertama, bicara tentang informasi.

  • Seperti apa maksudnya informasi ini, Pak?

  •  

    Perkenalan kita dengan orang baru selalu dimulai dengan pertukaran informasi.

    Ini adalah tingkat percakapan paling mendasar.

    Parents berbagi informasi dengan orang lain, sebaliknya parents menerima informasi dari orang lain.

  • Tukar menukar informasi dasar ya, Pak?

  •  

    Pada tahap awal ini, beberapa orang juga seringkali berupaya untuk ”menjaga image” dengan tak banyak berkata-kata atau malah mungkin sebaliknya, terlalu banyak berkata-kata.

  • Hahaha! laugh

    Dari situ kita bisa mengenal karakter mereka ya, Pak? Jaim atau ngobros.

    Lalu apa lagi yang bisa diobrolin pada tahap informasi ini, Pak?

  •  

    Parents juga bisa bertukar informasi tentang apa yang sedang terjadi di dunia sekitar.

    Jika menemukan persamaan minat, parents akan mulai akrab dan percakapan pun menjadi hangat. Percakapan menjadi sangat mungkin untuk bergerak ke tingkat selanjutnya.

  •  

    Lalu pada tahap selanjutnya, apa yang diobrolin, Pak?

  •  

    Kedua, bicara tentang orang lain.

  • Nah ini yang rentan berubah jadi gosip kan, Pak?

  •  

    Setelah percakapan menemukan kecocokan, percakapan pun bergerak tentang orang lain.

    Awalnya mempercakapkan sesuatu yang baik. Lambat laun bergerak ke arah kabar buruk tentang orang lain.

    Seperti yang parents alami dalam pergaulan dengan para ibu di lingkungan perumahan.

    Obrolan tentang tetangga, selebritas, dan tokoh politik.

  • Iya, Pak.

    Terus bagaimana caranya biar tidak berubah jadi gosip?

  •  

    Pada titik inilah gosip mulai muncul ke permukaan.

    Kesadaran bahwa gosip bukan hal yang baik akan menolong parents mengendalikan diri dan menghentikan percakapan ketika hal-hal yang buruk tentang orang lain mulai mengemuka.

    Apalagi jika tidak berhenti, terus menerus melakukan gosip, maka biasanya makin lama makin banyak keburukan yang muncul.

    Secara kuantitas dan kualitas, percakapan yang berisi buruk makin meningkat. Sebelum hal ini terjadi, parents bisa mengupayakan pergeseran isi percakapan pada tingkat selanjutnya, yakni soal ide atau gagasan.

  • Oh jadi berupaya menggeser isi percakapan ya, Pak...

    Lalu masuk ke tahapan mana dong percakapannya, Pak?

  •  

    Ketiga, bicara tentang pikiran dan perasaan.

  • Lho, lho, apa nggak malah berbalik jadi gosip karena perasaan yang diungkapkan, Pak?

    Terus bukankah sulit menggeser arah percakapan, Pak?

  •  

    Pada umumnya percakapan tertahan alias berhenti pada tingkat kedua.

    Tidak banyak orang yang berusaha menggiring percakapan ke tingkat ini karena keterbatasan keterampilan berkomunikasi dan kekurangsediaan untuk membuka diri.

  • Nah bagaimana meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan membuka diri, Pak?

    Pertanyaan apa yang baik untuk ditanyakan sebagai pengubah arah obrolan?

  •  

    Pertanyaan yang bagus pada tingkat ini misalnya, ”Apa yang kamu pikirkan tentang peristiwa yang terjadi pada anakmu?”

    Contoh lain, ”Apa yang kamu rasakan tentang masalah yang kamu alami?”

    Demikian juga pertanyaan: ”Hikmah apa yang kamu peroleh dari perjalanan karirmu?”

  • Benar juga ya...

    Itu pertanyaan-pertanyaan yang menjauhkan dari gosip.

    Lalu bagaimana sebaiknya respon saya atas jawaban dari teman-teman setelah saya menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan pikiran dan perasaan itu, Pak?

  •  

    Pada tingkat ini, parents memberikan pujian, peneguhan dan dukungan bagi orang lain.

    Keterbukaan menjadi pintu masuk bagi persahabatan.

    Pada tingkat ini konflik juga berpotensi terjadi.

    Namun, jika konflik dikelola dengan baik maka terbuka pintu lebih lebar untuk menjadi lebih akrab dan dekat.

  • Wah dengan begini obrolan tidak hanya sekedar pengisi waktu, tapi bisa jadi peluang untuk lebih dekat satu sama lain.

  •  

    Tepat.

    Dalam keakraban dan kedekatan, saling memengaruhi adalah hal yang lazim terjadi.

    Kehidupan parents menjadi lebih kaya dengan pengalaman dan perspektif orang lain.

    Tuhan bisa memakai cerita orang lain untuk menjadi pelajaran berharga.

    Parents juga bisa membawa kasih Kristus ke dalam percakapan tentang bagaimana Dia menolong dan menyertai perjalanan hidup.

  • Mantul!

    Mantap betul!

    Terima kasih, Pak.

  • Nah, percakapan tak melulu harus berisi gosip bukan?

    Parents, cari atau bentuklah komunitas yang menolong parents untuk mencapai tingkat pertukaran gagasan dan pikiran.