Kasus Penganiayaan Audrey, 3 Hal yang Orang Tua Harus Ajarkan pada Anak-Anak

Kasus Penganiayaan Audrey, 3 Hal yang Orang Tua Harus Ajarkan pada Anak-Anak
  • Miris hati saya sebagai orang tua membaca kisah penganiayaan terhadap Audrey (siswi SMP) yang dilakukan oleh 12 siswi SMA di Kota Pontianak.  

    Mengapa mereka tega melakukan hal seperti ini?

    Bagaimana caranya agar anak-anak kami kelak tidak melakukan penganiayaan seperti itu? 

    Jika anak-anak ada yang menjadi korban tindak semacam itu, apa yang sebaiknya mereka lakukan?

  • Sama, Bu.

    Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya terkejut ketika melihat ada trending topic #JusticeforAudrey yang dipicu kabar penganiayaan tersebut.  

    Lebih terkejut lagi ketika saya membaca twit awal dari akun@syarifahmelinda  yang berbunyi, ’Nasib kurang beruntung dialami oleh Ay (14), siswi SMPN 17 Pontianak yang menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan 12 orang pelajar berbagai SMA di Kota Pontianak.”

  • Parah ya, Pak?

  • Audrey (14 tahun) menurut pemberitaan sebuah media online mengalami penganiayaan seperti ini:

     “Audrey dikeroyok oleh 12 siswi SMA ini dengan cara beberapa kali kepalanya dibenturkan ke aspal, mencekik, hingga menyiramnya secara bergantian.

    Disebutkan juga kalau Wajah Audrey beberapa kali ditendang hingga terjadi pendarahan dan benjolan serta luka dalam.

    Paling parah, salah satu pelaku mencoba melakukan kekerasan di daerah kewanitaan Audrey sehingga menimbulkan pembengkakan.”
     

  • Sadis benar anak-anak itu!

  • Menyedihkan sekali bukan?

    Mengapa para pelaku tega melakukan hal ini?

    Terpicu karena urusan asmara yang masih belum terlalu jelas duduk perkaranya. Pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus ini.

  • Semoga segera terungkap agar para pelaku juga bisa tobat ya, Pak?

  • Iya.

    Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kasus penganiayaan Audrey.

  • Apa saja, Pak?

  • Pertama, kasus penganiayaan terhadap Audrey ini menunjukkan bahwa siapa saja berpotensi untuk melakukan kekerasan terhadap pihak lain.  
     

  • Bukan hanya anak laki-laki ya, Pak?

  • Biasanya orang berpendapat bahwa yang berpotensi untuk melakukan kekerasan adalah anak laki-laki dan bukan perempuan.

    Anggapan umum ini bertentangan dengan apa yang terjadi dalam kasus penganiayaan terhadap Audrey. Para penganiaya Audrey yang berjumlah 12 orang itu semuanya adalah perempuan.  
     

  • Mengapa anak-anak perempuan ini menjadi berani dan begitu buas ya, Pak?

  • Mungkin karena mereka melakukan hal ini secara bersama-sama.

    Dalam kebersamaan itu timbul kesatuan dan keberanian untuk melakukan pelanggaran hukum.

  • Berarti perlu mengajar anak laki-laki dan perempuan tentang apa nih, Pak?

  • Kita perlu memeriksa ulang anggapan bahwa hanya anak laki-laki yang berpotensi melakukan kekerasan.  

    Kita harus mengajar anak-anak, baik laki atau perempuan, untuk mengendalikan diri dan emposi dan bertindak menggunakan akal sehat

    Anak-anak, laki atau perempuan, juga perlu belajar bahwa sesuatu yang dilakukan bersama-sama tidak membuat perbuatan itu menjadi benar. Apa yang salah adalah tetap salah walaupun dilakukan oleh banyak orang.  

    Anak-anak perlu diajar untuk memunyai kemandirian sikap, khususnya ketika mereka melakukan hal yang benar.

  • Mengendalikan diri, emosi, tetap melakukan yang benar dan tidak ikut-ikutan teman melakukan yang salah.

    Lalu apa lagi yang bisa kita pelajari dari kasus penganiayaan Audrey ini, Pak?

  • Kedua, parents juga harus mengajar anak-anak untuk berani melaporkan dan menceritakan penganiayaan yang mereka alami di mana pun juga.

  • Benar juga ya, Pak.

    Mereka tidak boleh takut bercerita tentang penganiayaan dalam bentuk apapun.

  • Dalam beberapa kasus, penganiayaan fisik mulai dengan bullying (perundungan) secara lisan.

    Apabila dibiarkan begitu saja maka makin lama intensitasnya bertambah.

    DI era media sosial seperti sekarang ini, anak-anak kita dapat bertukar pendapat atau malah bertengkar lewat jalur tulisan di dunia maya. 
     

  • Kata-kata yang menyerang ini memang awal dari tindakan penganiayaan.

    Jadi kami perlu mendorong anak untuk tidak takut menceritakan apa yang dia alami ya, Pak?

  • Nah, sebelum situasi berubah menjadi lebih parah, parents harus melatih keberanian anak untuk menyuarakan apa yang terjadi pada diri mereka.

    Keberanian ini semoga dapat menghentikan bullying yang ada, serta mencegah agar tidak berkelanjutan apabila meningkat intensitasnya.
     

  • Kalau berani dan tegas memang biasanya teman-temannya juga akan takut mem-bully.

  • Ketiga, parents harus mengajar anak-anak bahwa sebuah tindakan penganiayaan dapat mempunyai konsekuensi hukum.
     

  • Benar nih, Pak.

    Jangan sampai ada anak yang mengira bisa lolos begitu saja dari konsekuensi perbuatannya.

  • Anak-anak perlu tahu semenjak kecil bahwa ada konsekuensi hukum dari setiap tindakan.

    Konsekuensi ini harusnya diperkenalkan sejak dini agar menjaga anak-anak dari sekadar mengikuti sebuah tindakan orang lain, apalagi atas nama tren.

    Mengikuti tren adalah hal yang wajar, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan dan peraturan hukum yang ada.  

    Nah, sejak kecil anak-anak perlu memahami hal ini.

  • Baiklah.

    Kami akan mengajari hal-hal itu pada anak laki-laki dan perempuan di rumah.

    Semoga tidak terjadi lagi kasus penganiayaan seperti yang menimpa Audrey ya, Pak...

    Terima kasih, Pak.

  • Selamat berjuang mengajari anak dengan hikmat Tuhan, parents!