Mau Lebih Kompak Dalam Bekerja Sama Sebagai Suami Istri Dalam Keluarga? Perhatikan 3 Wilayah Bermasalah Ini!

Mau Lebih Kompak Dalam Bekerja Sama Sebagai Suami Istri Dalam Keluarga? Perhatikan 3 Wilayah Bermasalah Ini!
  • Orang bilang kami kurang kompak.
 Bagi kami, itu karena kami terbiasa melakukan pembagian tugas dan peran. 
Namun ketika mengikuti retreat pasutri, memang terbukti kami sulit bekerja sama. 
Kami ingin memperbaiki kekurangan ini.

 Bagaimana cara agar kami bisa lebih baik dalam bekerja sama sebagai suami istri? Suami istri sulit kompak.
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Melakukan pembagian tugas yang sudah parents lakukan tentu saja adalah hal yang baik. Ini adalah salah satu wujud kekompakan dalam rumah tangga. Ingatlah pedoman sederhana ini: Kompak = suami-istri vs masalah Tidak Kompak = suami vs istri
  • Oh begitu ya, Pak. Kami memang sering tidak kompak sih, Pak.
  • Sayang dalam kisah yang parents ceritakan tidak terlalu detail memaparkan di mana letak kesulitan kerja sama yang ada. Namun, ada beberapa wilayah di mana seringkali suami dan istri tidak kompak menghadapinya. Ini 3 wilayah masalah itu.
  • Apa saja wilayah masalah itu, Pak?
  • 1. Menghadapi anak-anak Ini kelihatannya adalah wilayah yang paling mudah dihadapi. Namun, pada kenyataannya seringkali suami istri tidak kompak menghadapi sebuah isu yang muncul. Yang paling ideal tentu saja adalah merumuskan sikap bersama sebelum suatu masalah ditanyakan oleh anak-anak. Jangan sampai terjadi perdebatan suami-istri di hadapan anak. Ini akan membingungkan anak-anak, sekaligus membuat anak-anak dengan cepat berpihak pada salah satu, entah ayah atau ibu mereka, untuk suatu masalah.
  • Benar juga. Kami sering merasa terpecah karena tidak punya kesepakatan saat menghadapi anak.
  • Satukan pendapat terlebih dahulu. Keputusan ayah adalah keputusan ibu, demikian sebaliknya. Bila parents berdua tidak kompak, anak-anak akan melihat hal ini, lalu menemukan celah untuk memanfaatkannya.
  • Keputusan ayah adalah keputusan ibu. Sebaliknya, keputusan ibu adalah keputusan ayah. Sepakat dan kompak. Baiklah, akan kami coba. Lalu wilayah kedua apa, Pak?
  • 2. Menghadapi mertua Ini adalah area kedua di mana suami istri seringkali tidak kompak. Misalnya suami tahu istri sangat berhati-hati mengatur keuangan. Mmaka jangan sampai dengan sengaja malah tidak melibatkan istri ketika ingin memberikan uang kepada orang tua. Demikian juga ketika menantu menyaksikan apa yang mertua lakukan. Mungkin sesuatu yang janggal dan tidak biasa menurut menantu. Jauh lebih baik untuk menceritakan dan mendiskusikannya bersama pasangan. Daripada memunyai prasangkat negatif terhadap mertua.
  • Waduh! Untuk area ini kami benar-benar keliru.
  • Kadangkala terjadi salah tafsir atas sikap mertua. Karena sebagai menantu tak sepenuhnya paham kebiasaan yang ada di dalam keluarga. Hal seperti jangan dipendam begitu saja. Bertanya atau komunikasikan pada pasangan. Pasangan parents, sebagai anak yang telah lama hidup bersama orang tuanya, pasti dapat menerjemahkan sikap mertua itu dengan lebih tepat sesuai konteks kebiasaan yang ada.
  • Saran yang sangat tepat, Pak. Kami sering bertengkar karena hal ini. Persoalan menantu-mertua. Tanpa berdiskusi, kami malah berprasangka buruk.
  • Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali orang tua atau mertua meminta pendapat kita tentang suatu hal. Jauh lebih baik apabila kita meminta waktu untuk berbicara terlebih dahulu dengan pasangan, sebelum menyampaikan sikap bersama. Hal ini menjadi penting agar orang tua atau mertua memahami bahwa sebagai suami istri ada komitmen bersama untuk tidak menyampaikan pendapat sebelum ada kesepakatan.
  • Weleh weleh, kok tau, Pak? Tanpa sepakat kami sering menyampaikan sesuatu pada orang tua atau mertua. Ujung-ujungnya malah berantem.
  • Tepat karena sudah sering mendengar masalah serupa dari banyak pasangan suami istri.
  • Oke, Pak. Kami akan coba memperbaiki urusan dengan orang tua dan mertua ini. Lalu yang ketiga apa, Pak?
  • 3. Menghadapi publik. Hidup di dalam masyarakat seringkali menimbulkan kejutan tertentu. Mungkin kita akan mendengar gosip, kisah memalukan tentang pasangan, atau kabar burung tertentu. Tak perlu semuanya diceritakan secara detail pada pasangan, apalagi hal-hal tersebut disampaikan di depan publik.
  • Rasanya kami memang sangat tidak kompak. Dari ketiga wilayah yang Bapak sampaikan, tidak satu pun yang tidak jadi masalah bagi kami. Tapi terima kasih, Pak. Kami jadi sadar akan ketidakkompakan kami. Kami akan berjuang bersama untuk semakin kompak.
  • Oh begitu ya, Pak? Ada saran?
  • Cukup tanyakan garis besar yang parents dengar tentang pasangan. Lihat bagaimana respon pasangan. Tentukan sikap bersama sebagai suami-istri. Tugas parents adalah melindungi pasangan. Bahkan di tengah kesalahan dan keterbatasannya. Jika ada hal-hal yang memang tak dapat diselesaikan berdua, carilah nasihat dan pertolongan dari orang bijak yang takut akan Tuhan. Pasti parents sudah tahu sebaiknya datang ke siapa kan?
  • Selamat berjuang bersama pasangan! Selalu libatkan Tuhan dalam membina kekompakan