Ingin Balas Dendam Karena Menjadi Korban Penipuan? Mengapa Tiga Melakukan 3 Hal yang Efektif Ini Demi Masa Depan yang Lebih Baik?

Ingin Balas Dendam Karena Menjadi Korban Penipuan?  Mengapa Tiga Melakukan 3 Hal yang Efektif Ini Demi Masa Depan yang Lebih Baik?
  • Kami barusan ditipu orang, Pak.

    Kami kehilangan cukup banyak. Ini mengguncang keuangan keluarga kami.
    Dari yang tadinya tidak punya utang, menjadi punya kewajiban mengembalikan tunggakan yang cukup besar.

    Di satu sisi memang ini kesalahan suami karena terlalu mudah percaya pada orang.
    Selain itu juga sangat oportunis dan tidak hati-hati menggunakan hot money alias uang pinjaman, bukan tabungan.

    Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, uang sudah dibawa kabur. Rasanya ingin membalas dengan merusak nama si penipu itu di media sosial. Biar seluruh dunia tahu dan tidak terjebak di lubang yang sama.

    Tapi pembalasan kan hak-Nya Tuhan ya, Pak? Lalu apa yang harus dilakukan pada orang yang sudah menipu dan merugikan?

  • Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, mencoba memahami parents.

    Kita semua pernah tertipu, bukan?

    Menjadi korban penipuan menghasilkan dua luka yang mendalam.

  • Apa saja 2 luka itu, Pak?

  • Pertama, luka yang muncul karena kehilangan sejumlah uang atau harga yang berharga.  

    Bukan saja kehilangan, namun seringkali harus menanggung beban membayar hutang yang jumlahnya cukup besar sebagai akibat dari penipuan tersebut.  Menyesakkan hati, bukan?

  • Bapak kok tahu sih?

    Iya, benar, Pak.

    Jengkel bercampur marah.

  • Kedua, luka akibat penyesalan akan kebodohan diri.  

    Terus menerus bergema pertanyaan, "Mengapa saya atau kami bisa ditipu? Mengapa kami begitu bodohnya?"

    Seandainya dulu begini dan begitu pasti tidak akan terjadi.  

    Penyesalan yang seperti ini akan terus membebani langkah di masa depan.
     

  • Iya, Pak.

    Marah sama diri sendiri juga selain dengan si penipu.

    Lalu apa saya boleh membalas, Pak?

    Sudah siap-siap nih.

  • Uang yang hilang bisa dicari, namun penyesalan yang cenderung menyebabkan seseorang menyalahkan diri sendiri inilah yang akan terus membekas di hati bila tak dituntaskan.  

    Keinginan untuk membalaskan dendam hanyalah sebagian dampak dari penyesalan ini.  

    Pembalasan dendam sepertinya bisa memberikan kelegaan emosi, namun tak akan pernah bisa mengembalikan apa yang sudah hilang.  Tak bisa memulihkan luka yang sudah terjadi.

  • Iya sih, Pak.

    Malah bisa jadi saling membalas tanpa henti ya...

    Lalu mesti bagaimana, Pak?

  • Pertama, pengalaman adalah pelajaran berharga, maka belajarlah sesuatu.

  • Belajar lebih hati-hati ya, Pak?

  • Parents telah kehilangan sejumlah uang yang besar.  Ini adalah ongkos belajar yang mahal.  

    Sayang sekali jika hanya meninggalkan penyesalan, tanpa pembelajaran yang berarti.  

    Apa yang dapat dipelajari?  

    Tentang kehati-hatian dalam menaruh kepercayaan.  

    Tentang manusia yang barangkali dapat berubah di hadapan sejumlah harta.  

    Pembelajaran akan mengubah beban akibat menjadi korban penipuan menjadi bekal yang berharga di masa depan.

  • Oh begitu ya, Pak?

    Benar juga.

    Jangan sampai sudah kehilangan uang, eh juga tidak menarik pelajaran apapun.

    Dobel ruginya kalau seperti itu.

  • Kedua, pengampunan itu melegakan, maka ampunilan diri sendiri dan orang lain.

  • Mengampuni diri sendiri?

    Bukannya hanya mengampuni si penipu, Pak?

  • Ketika berbicara tentang pengampunan, maka biasanya segera terpikirkan orang-orang yang telah melukai parents.

    Padahal pengampunan juga harus parents lakukan pertama dan terutama bagi diri sendiri.  

    Parents perlu mengampuni diri sendiri untuk kesalahan yang parents perbuat, baru kemudian berbagi pengampunan itu bagi orang lain.

  • Oh, iya, paham.

    Soalnya saya juga marah pada diri sendiri kenapa bisa sampai tertipu.

    Bagaimana dengan mencoba melupakan peristiwa yang sudah terjadi agar lebih mudah memaafkan, Pak?

  • Parents perlu memahami bahwa pengampunan tidak berarti melupakan apa yang telah terjadi.  

    Parents tidak mungkin melupakan apa yang telah terjadi.  

    Pengampunan berarti kesediaan memberikan makna baru untuk peristiwa yang sudah berlalu.  

    Makna itu bisa dalam arti pembelajaran yang telah didapatkan sebagai bekal masa depan atau kesadaran bahwa apa pun yang terjadi Tuhan tak pernah meninggalkan parents.  Sebuah pengalaman yang baru untuk mengalami Tuhan.

  • Iya.

    Saya baru sadar kalau ini suatu pengalaman baru lagi bersama Tuhan.

    Meski tertipu, Tuhan tetap menolong dan menyertai kami.

  • Ketiga, perencanaan adalah upaya menata masa depan, maka perjuangkanlah rencana.

  • Bukan rencana untuk menyergap si penipu kan, Pak?

    Hehehe!

  • Hahaha!

    Masih bisa bercanda berarti tanda sukacita meski di tengah badai.

     

    Rencana merupakan langkah yang penting.

    Pelajaran dari masa lalu ditambah dengan kesediaan mengampuni diri dan orang lain mesti mewujud dalam sebuah rencana.  Rencana untuk berubah dan menata kembali kehidupan.  

    Hidup ini tak bisa dijalani hanya dengan bekal air mata dan penyesalan bukan?

  • Pengalaman baru berjalan bersama Tuhan ini lho yang membuat saya jadi malah bersukacita, Pak.

    Rencana untuk berubah dan menata kehidupan setelah jadi korban penipuan.

    Baiklah. Kami akan mencoba membuat rencana dengan mengandalkan Tuhan, Pak.

  • Masih ingat perumpamaan Tuhan Yesus tentang pengampunan di Matius 18:21-35?

    Coba baca kembali bersama pasangan.

    Bagian ini pasti parents ingat:

    Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? "Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

     

    Selamat mengampuni, parents!

    Yang terbaik masih akan datang.

     

  • Terima kasih, Pak!