Mengapa Anak Saya Minder?

Mengapa Anak Saya Minder?
  • Anak saya minder. Tidak tahu dia meniru siapa. Padahal saya begitu percaya diri. Ibunya juga cantik, ramah, baik, dan tidak pernah diejek orang. Kami pasangan yang sempurna. Setidaknya itu yang terlihat. Sampai orang bertemu anak kami. Anak ini tidak membanggakan sama sekali. Saya sempat berpikir, apa mungkin ini karena kami sering mengolok-olok dia? Ayah Ganteng
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Tak mudah mencari jawaban tunggal mengapa anak menjadi minder. Ada banyak faktor yang memengaruhi anak sehingga muncul rasa minder. Sila memeriksa beberapa hal ini.
  • Faktornya apa saja, Pak?
  • Pertama, ada anak yang minder justru karena memunyai orangtua yang ‘sempurna’ Ya, orangtua ‘sempurna’ bisa menjadi sumber kebangaan anak. Namun, yang sebaliknya juga bisa terjadi. Anak malah minder karena merasa ‘kesempurnaan’ itu tak turun pada dirinya. Saya sering menjumpai ini pada anak-anak yang malah bertanya-tanya mengapa mereka tak secantik ibu mereka, atau seganteng ayah mereka, atau tak seperti kedua orang tua yang ada. Bahkan sampai ada yang merasa seperti anak pungut.
  • Nah sepertinya anak kami termasuk yang kategori ini.
  • Kedua, ada anak yang minder karena tak mendapatkan apresiasi yang memadai. Anak seperti ini bukan tanpa prestasi dan kelebihan. Namun, apapun prestasi dan kelebihan tak mendatangkan apresiasi, malah mendapatkan tuntutan tambahan lagi. Tak adanya apreasiasi memadai, dan malah bertambahnya tuntutan tentu akan sangat melelahkan bagi anak-anak. Ujung-ujungnya, anak merasa tak berdaya, malas berusaha dan bahkan tak mau mencoba. Minder.
  • Wah, ini membuat kami perlu berpikir kembali. Jangan-jangan kami ya kurang mengapresiasi anak.
  • Ketiga, ada anak yang minder karena perbandingan bahkan pertandingan yang dilakukan oleh orangtua atau linkungannya. Ada orangtua yang berpendapat bahwa cara memunculkan prestasi anak adalah dengan membandingkan. Bahkan mempertandingkan anak dengan saudara kandungnya atau orang lain. Saya memahami persaingan dapat memicu orang untuk menjadi lebih baik. Ini berlaku bagi yang menang, namun seringkali orangtua tak punya kapasitas untuk mengelola anak yang kalah dalam persaingan. Mentalnya hancur berantakan dan tak mampu berdiri tegak lagi.
  • Membandingkan. Iya sih. Kami lebih sering membandingkan anak dengan pencapaian kami sih, Pak. Duh, ternyata 3 hal ini keliru ya. Saya pikir sudah benar, ternyata salah.
  • Selamat memeriksa diri sebagai orang tua.
  • Iya, kami pasti melakukannya, Pak. Terima kasih. Ini jawaban yang melegakan. Kami perlu mengubah pendekatan kami pada anak agar dia tidak minder.
  • Dra. Sintowati Soetanto, M.Pd. menjawab, Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Bapak dan Ibu: Setiap anak memiliki keunikan yang khas. Tugas orang tua adalah mengenali, menerima, menghargai keunikan anak. Lalumengembangkannya menjadi sebuah potensi yang khas milik anak tersebut. Setiap anak juga menduduki posisi yang berbeda dalam struktur keluarga. Anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Masing-masing tanpa disadari akan saling belajar untuk melihat bagaimana mereka mendapatkan cinta kasih orang tuanya. Pola mereka akan berbeda satu dengan yang lainnya. Bila anak sulung mendapatkan perhatian orang tuanya karena prestasi di sekolah, maka anak lain akan berupaya mendapatkan perhatian orang tuanya dengan cara yang berbeda sesuai karakter dan potensi anak itu. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda akan bentuk kasih dari orang tuanya. Kebutuhan ini juga selaras dengan karakter anak. Setiap orang tua juga memiiki keunikan yang khas. Sebagai orang tua alangkah baiknya jika Bapak dan Ibu telah mengenali, menerima dan menghargai keunikan sendiri. Baik itu dalam bentuk kelemahan maupun kekuatan. Mengenali dan menerima keunikan pribadi dapat menjadi dasar bagi orang tua untuk bisa mengenali, menerima dan menghargai keunikan anak. Juga memudahkan ketika mendampingi anak menemukan potensi yang masih tersembunyi dalam dirinya. Setiap orang tua juga memiliki masa lalu hasil pendidikan orang tuanya. Pola ini tentu berpengaruh terhadap cara mendidik anak ketika menjadi orang tua.
  • Makin jelas lagi yang perlu kami lakukan setelah membaca penjelasan Bu Sinta. Ada tips praktis yang bisa Ibu bagikan untuk kami?
  • 1. Memeriksa diri terlebih dahulu sebagai orang tua, masalah-masalah apa yang selama ini belum diselesaikan. 2. Membuka diri terhadap masukan dan kritikan yang membenahi, saling mengingatkan antarpasangan untuk memiliki tujuan dan visi hidup yang saling mendukung. 3. Mendekati anak dengan kerelaan dan kejujuran, menerima apa adanya. 4. Menemani anak menghadapi masalah-masalah yang mencemaskannya. 5. Bersama-sama saling belajar untuk menjadi lebih baik.
  • Terima kasih, Bu Sinta. Kami akan mencoba.
  • Selamat berdoa dan mencoba ya, Bapak dan Ibu. Semoga anak segera menemukan percaya dirinya kembali yang bersumber dari kepercayaan kepada Tuhan.