Tetangga Sering Bikin Ulah, Apa yang Sebaiknya Kami Lakukan?

Tetangga Sering Bikin Ulah, Apa yang Sebaiknya Kami Lakukan?
  • Tetangga kami seperti di game Neighbour From Hell. Itu game favorit saya dan istri dulu.
    Ceritanya tentang tetangga yang sangat jahil, menyiapkan banyak jebakan untuk tetangganya.

    Nah, tetangga kami ini tidak pernah menebang ranting pohonnya yang menyeberang ke rumah kami. Sering menyalakan mobilnya yang asapnya hitam dan bikin sesak napas padahal tahu kalau anak kami sedang bermain di depan rumah.Sama sekali tidak pernah membalas sapaan.

    Sering memutar film dan musik dengan suara yang sangat keras. Sampahnya sering dibiarkan tumpah ke taman depan rumah kami.

    Sepertinya mereka membenci kami. Tapi kami tidak tahu pernah melakukan sesuatu yang salah.

    Apa yang harus dilakukan pada tetangga yang membenci tanpa alasan?

  • Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya ingin menunjukkan sesuatu yang sangat menarik apabila parents memperhatikan hukum ke-2 tentang mengasihi sesama dalam terjemahan bahasa Inggris tertulis: love your neighbor. 

    Terjemahan harafiahnya adalah kasihilah tetanggamu.  

    Ya, sesama manusia yang paling dekat adalah tetangga bukan?
     

  • Lha, kami baru menyadari ini, Pak.

    Benar juga ya...

    Jadi bagaimana mengasihi tetangga yang suka bikin ulah ini, Pak?

  • Pertama, membalas bukanlah pilihan.

  • Bukankah itu tetap pilihan, tapi tidak boleh diambil, Pak?

  • Membalas bukanlah pilihan karena akan memperpanjang masalah.  

    Bukankah hukum kasih yaitu mengasihi sesama, lahir dalam konteks kebiasaan membalas seperti tercakup dalam frasa ”mata ganti mata, gigi ganti gigi.”

    Artinya jelas bahwa pembalasan dendam tidak akan menyelesaikan masalah yang ada.

  • Tapi jujur, sepertinya ada bisikan yang kuat untuk membalas saja, Pak.

  • Mungkin membalas adalah sesuatu hal yang terasa lebih natural ketika parents terluka.  

    Ada rasa puas ketika sudah bisa membalas.  

    Namun, apalah artinya rasa puas ketika hal itu tak membuat masalah selesai.  

    Justru akan terus berlanjut.

    Parents tentu tidak mau 'perang' terus dengan tetangga bukan?

  • Iya sih, Pak.

    Sebagai anak-anak terang ya tentu perlu membawa damai.

    Lalu apa lagi yang bisa kami lakukan sebagai bentuk kasih, Pak?

  • Kedua, bertindak aktif dalam menyatakan kasih.

  • Maksudnya duluan menunjukkan kasih meski tetangga masih tetap menjengkelkan gitu ya, Pak?

  • Tuhan memanggil parents untuk mengasihi sesama.  

    Kasih selalu mengambil langkah pertama. Kasih tak pernah menunggu.  

    Di tengah ulah yang tetangga buat, mengapa tidak dengan tulus justru mengirimkan makanan bagi mereka?  

    Jika ada sampah yang ditumpahkan ke halaman rumah parents, maka tak perlu mengembalikan ke halamannya, justru parents dapat membersihkan dan membuangnya. Anggap saja membantu tetangga menyelesaikan urusan sampahnya.

    Jika kebetulan berjumpa, parents dapat meminta bantuannya untuk membuang sampah pada tempatnya. Parents juga dapat menanyakan, "Apakah ada kesulitan sehingga membuang di halaman tetangga?" atau "Boleh saya bantu membersihkan sampah Bapak atau Ibu?"

  • Menyindir juga tetap didasari dan dilakukan dengan kasih ya, Pak?

    Hehehe!

    Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.

  • Oh, ya, jangan lupa tetap aktif menyapa!

    Sapaan dan tindakan kasih akan menjadi pengingat akan apa yang selama ini telah mereka perbuat.  

    Tindakan kebaikan ini seperti yang ditulis Firman Tuhan sebagai memupuk bara di kepala orang lain.  

    Secara sederhana berarti melakukan hal-hal agar orang lain menyadari kesalahan atau kekeliruannya.

  • Oh begitu ya maksudnya menumpuk bara api di atas kepala, Pak...

  • Ketiga, perubahan perilaku adalah bonus, menjaga diri tak ikut jahat adalah kewajiban.

  • Maksud Bapak, urusan dan bagian kami adalah menjaga diri untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan ya?

  • Ketika parents melakukan hal yang baik bagi orang lain, maka seringkali tanpa disadari, parents juga mengharapkan orang lain itu berubah.  

    Jika tidak berubah, maka parents menjadi kecewa.

    Ketika parents kecewa, parents berhenti melakukan hal yang baik.

    Bahkan kadang parents malah turut menjadi jahat dengan melakukan hal yang buruk.

    Inilah yang sering disebut orang sebagai 'lingkaran setan'. Saya lebih suka menyebutnya lingkaran kejahatan atau lingkaran dosa.

    Satu kejahatan yang dialami akan mengubah orang menjadi jahat kepada orang lain. Demikian seterusnya sampai semakin banyak orang yang tidak lagi berbuat baik.

    Hukum Kasih yang Kristus ajarkan mematahkan hal ini. Balaslah kejahatan dengan kebaikan, entah itu mengubah orang atau tidak.
     

  • Benar. Setuju, Pak!

  • Satu hal yang harus parents pahami: menjaga diri tak ikut atau menjadi jahat atau sebuah kewajiban.  

    Parents melakukan kewajiban ini sambil melihat jika memang terjadi perubahan pada diri orang lain maka hal itu adalah sebuah bonus.  Boleh ada, boleh pula tak ada.
     

  • Terima kasih, Pak.

    Semoga Tuhan memampukan kami mengasihi tetangga yang berulah ini.

  • Anugerah-Nya akan memampukan parents mengasihi tetangga yang juga merupakan ciptaan dan gambar Tuhan.

    Selamat berjuang dengan mengandalkan Tuhan!

    Yang terbaik masih akan datang!