Anak Selalu Mengeluh dan Tak Tahu Terima Kasih? 3 Hal yang Orang Tua Perlu Pahami dan Ajarkan

Anak Selalu Mengeluh dan Tak Tahu Terima Kasih? 3 Hal yang Orang Tua Perlu Pahami dan Ajarkan
  • Lelah rasanya, Pak sad

    Sebagai orang tua, kami cukup banyak berkorban untuk anak.
    Tapi sepertinya dia tidak menyadarinya.

    Sepertinya kasih dan pengorbanan kami itu tidak terbaca oleh anak.

    Sejak kecil sampai sekarang sudah remaja, dia sepertinya sulit untuk bersyukur dan menerima keadaan.

    Selalu merasa ada yang kurang. Sering tidak puas dan meminta lebih.

    Apa perlu menceritakan tentang pengorbanan orang tua pada anak?

  • Terima kasih untuk curahan hatinya, parents smiley

    Saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya merasa parents tidak sendiri terkait dengan pergumulan ini. Walaupun parents tidak menyebutkan berapa usia anak-anak, namun secara umum ini memang keluhan banyak orang tua.

  • Terima kasih juga untuk pengertian Bapak.

  • Saya sudah menemukan ada orang tua yang menangisi anak-anaknya yang sudah berumah tangga dan tinggal di luar kota karena mereka sama sekali tidak peduli.  

    Anak-anak yang sudah berhasil itu sama sekali tidak menunjukkan kepedulian, baik dalam perkataan atau pemberian, kepada orang tua mereka.  

    Miris sekali situasi seperti ini.

    Sebagai orang tua, mereka bukan hanya terluka, namun juga merasa gagal mendidik anak-anak.

  • Nah itu juga yang kami duga bakal terjadi nanti kalau tidak kami cegah sejak kecil.

    Ya, kami tidak sampai khawatir sih, tapi mencoba mencari bagaimana mendidik mereka dalam urusan mengerti makna pengorbanan ini dengan lebih baik.

  • Saya ingin menanggapi masalah ini dengan berbagi 3 perspektif.

  • Apa saja sudut pandang itu, Pak?

  • Pertama, berterima kasih bukanlah kemampuan alami manusia.

  • Tapi kan semua orang senang menerima pemberian atau pengorbanan orang lain, Pak?

  • Ya, manusia senang menikmati pemberian orang lain.

    Namun, rasa dan ungkapan terima kasih bukanlah kemampuan yang sudah melekat di dalam diri mereka.  

    Parents harus mengajarkan anak-anaknya untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian atau bantuan yang mereka terima.

  • Kami sudah berulang kali mengajarkan hal ini sih, Pak.

    Tapi sepertinya tidak berguna...

  • Bukan hanya mengajarkan lewat kata-kata, tetapi juga contoh nyata.

    Bagaimana ungkapan terima kasih yang parents tunjukkan selama ini?

    Barangkali parents perlu lebih jelas dan sering memperlihatkan teladan lewat ungkapan dan ucapan terima kasih. Baik di antara parents sendiri, bahkan juga  pada anak-anak.

    Bukankah teladan berbicara lebih kuat daripada perkataan?
     

  • Sepertinya kami memang perlu memperbaiki area teladan ucapan terima kasih ini, Pak.

  • Kedua, berterima kasih membutuhkan kesadaran bahwa apa yang ada pada saat ini tidak datang begitu saja.
     

  • Not take it for granted ya, Pak?

  • Anak-anak kadang belum bisa memahami karena keterbatasan perspektif mereka.

    Mereka belum mengerti bahwa makanan, sekolah, les, dan segala fasilitas yang mereka nikmati adalah hasil kerja keras orangtuanya.  

    Parents dapat menjelaskan secara sederhana bahwa kerja keras dibutuhkan untuk mendapatkan uang. Uang dibutuhkan untuk membeli kebutuhan hidup.

    Relasi antara Kerja-Uang-Kebutuhan perlu mendapat porsi penjelasan juga untuk memberi sudut pandang yang benar pada anak.

    Jangan lupa melibatkan Tuhan sebagai penyedia kebutuhan. Dia yang memberi nafas, kesehatan dan kemampuan untuk bekerja.

  • Oh begitu ya, Pak...

    Sepertinya harus ditanamkan sejak kecil ya, Pak?

  • Benar.

    Biasanya sejak kecil bisa menanamkan bahwa parents memberikan komisi, bukan uang jajan.

    Jadi anak perlu bekerja sesuai usia untuk mendapatkan sejumlah komisi dan bonus. Ini mempermudah mereka memahami bahwa perlu kerja untuk mendapatkan uang.

    Jika anak-anak sudah mulai beranjak remaja, tak ada salahnya parents memberikan perkiraan komisi atau gaji yang akan mereka terima setiap bulan jika bekerja sesuai tugas-tugas yang disepakati bersama.  

    Hal ini bukan hanya menolong anak-anak mengucap syukur dan berterima kasih, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi realita kehidupan yang tak mudah di masa depan.
     

  • Oh jadi perlu melatih upaya mereka untuk mendapatkan sesuatu ya, Pak?

  • Ketiga, berterima kasih kadangkala dapat lahir dari sebuah pengalaman hidup yang nyata.

  • Pengalaman hidup seperti apa, Pak?

  • Dalam beberapa kesempatan, saya membuat program agar anak-anak dapat mengunjungi panti asuhan atau mereka yang hidup dalam kekurangan.

    Pengalaman menginap di panti asuhan atau di pedesaan akan membuat anak-anak banyak mengeluh pada awalnya. Namun, sesudah itu terbuka kemungkinan besar bagi mereka untuk bersyukur.

  • Oh begitu ya, Pak?

    Kami belum pernah sih mengajak anak-anak ke Panti Asuhan atau menginap di pedesaan.

  • Pengalaman-pengalaman seperti ini bukan diceritakan atau diajarkan, namun mesti dihidupi.  

    Ciptakanlah pengalaman-pengalaman seperti ini sesuai dengan usia anak-anak.

    Ajak anak-anak untuk menyadari bahwa mereka tak harus selalu melihat ”ke atas” namun juga perlu merasakan dan mengalami hidup ”di bawah”.  

    Hal ini akan melatih mereka untuk mengucap syukur sekaligus menaruh empati pada pergumulan orang lain.
     

  • Baik, akan kami coba, Pak.

    Terima kasih.

  • Selamat mencoba dengan mengandalkan Tuhan, parents!