Bagaimana Cara Mengendalikan Lidah Agar Mendatangkan Manfaat Daripada Mudarat?

Bagaimana Cara Mengendalikan Lidah Agar Mendatangkan Manfaat Daripada Mudarat?
  • Saya dikenal sebagai orang yang ceplas ceplos.
 Beberapa orang mengaku sakit hati dengan kata-kata saya.
 Begitu pula istri dan anak-anak.

 Orang berkata mulutmu harimaumu.
 Saya juga tahu kalau lidah perlu dikekang. 
Tapi sepertinya sangat sulit melakukan hal ini.
 Blak-blakan itu sudah jadi karakter yang melekat.

 Bagaimana cara mengendalikan lidah? Suami Suka Ngomong.
  • Pdt Wahyu Pramudya menjawab, Terima kasih untuk pengakuan dan kejujuran parents. Di tengah zaman yang mengagungkan kebebasan bicara baik secara lisan maupun tulisan, orang sering tak berpikir panjang tentang akibat dari kata-kata. Apalagi ketika beberapa orang sudah mengaku sakit hati, termasuk istri dan anak-anak.
  • Iya sih, Pak. Malah memang tidak pernah memikirkan dampak dari kata-kata saya sebelumnya.
  • Ada empat hal yang dibutuhkan untuk belajar mengendalikan lidah agar mendatangkan manfaat daripada mudarat.
  • Apa saja 4 hal itu, Pak? Saya mau mencoba.
  • Pertama, sebuah pengakuan bahwa lidah memang harus dikekang atau dikendalikan. Rasul Yakobus bahkan pernah menuliskan tentang hal ini. Kebutuhan untuk mengekang ini menyadarkan parents bahwa jauh lebih mudah untuk membiarkannya lepas tak terkendali. Bukankah kita lebih sering menyesali apa yang kita katakan daripada apa yang tak terkatakan? Butuh perjuangan untuk mengendalikan lidah.
  • Setuju. Saya sudah menyadari hal ini, Pak. Memang harus mengakuinya ya.
  • Kedua, salah satu hal yang sangat mencegah keluarnya kata-kata adalah penundaan. Ya, parents secara sengaja harus mengatupkan mulut untuk beberapa saat. Lebih baik berdiam diri sejenak, apalagi ketika emosi sedang memuncak. Setelah menunda beberapa saat, biasanya keinginan untuk berkata-kata itu tidak ada lagi. Jika masih ada, parents cenderung lebih tenang, sehingga bisa memilih kata dengan bijaksana.
  • Nah bagian mengerem ini yang memang tidak mudah. Saya kebiasaan gas pol, Pak. Hehehe! Ini yang bikin kata-kata yang keluar jadi ngasal ya, Pak...
  • Ketiga, isilah kehidupan batin parents dengan kehendak dan Firman Tuhan. Apa yang dikatakan seseorang berasal dari hati dan pemikirannya. Jika hati dan pemikirannya penuh dengan ”sampah” maka itu pula yang akan keluar dari bibirnya. Garbage in, Garbage out. Mengingat hal ini menjadi penting untuk mengisi hati dan pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan lewat renungan harian yang bersifat rutin. Firman yang mengisi hati dan pikiran akan memberikan imbangan bagi pengaruh buruk lain yang berasal dari dunia di sekitar parents. Firman yang sama pula akan keluar dari bibir dan lidah parents.
  • Kunci utama sebenarnya ada di sini ya, Pak? Baca Alkitab dan berdoa. Memang saya sudah jarang melakukannya karena kesibukan.
  • Keempat, inilah petunjuk praktis untuk memandu kata-kata parents. Sebelum berkata pikirkan THINK.
  • THINK? Maksudnya apa, Pak? Berpikir dulu sebelum berkata-kata?
  • True (benar): Apakah yang parents katakan adalah benar? Helpful (menolong): Apakah yang parents katakan menolong segala sesuatu menjadi lebih jelas atau mendatangkan manfaat? Inspiring (memberikan inspirasi): Apakah yang parents katakan memberikan inspirasi bagi orang lain? Necessary (penting): Apakah yang parents katakan benar-benar penting alias memberikan kontribusi yang memang belum ada yang mengungkapkannya? Kind (baik): Apakah yang parents katakan mencerminkan kebaikan untuk orang lain dan diri sendiri?
  • Oh THINK itu True, Helpful, Inspiring, Necessary dan Kind ya... Oke baiklah. Saya akan mencoba melakukan 4 saran dari Bapak supaya bisa mengendalikan lidah. Doakan saya ya, Pak?
  • Selamat berjuang mengendalikan kata agar hidup lebih bermakna dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.