Ditinggal Mati Oleh Kekasih Hati? Tiga Hal Ini yang Menentukan Seberapa Cepat Kita Dapat “Move On”

Ditinggal Mati Oleh Kekasih Hati? Tiga Hal Ini yang Menentukan Seberapa Cepat Kita Dapat “Move On”
  • Seorang kakek tua di gereja baru saja ditinggal oleh istrinya. Sebelumnya mereka selalu beribadah bersama, pelayanan berdua. Tekun, rukun dan mesra sekali. Banyak pasangan muda dan keluarga baru di gereja yang belajar teladan mereka.

    Sayang sekali istrinya dipanggil pulang duluan ke rumah Bapa. Sang Kakek pasti terpukul. Tidak mudah menanggung semua ini pasti. Apa yang bisa saya dan keluarga lakukan untuk menolong kakek ini?

    Saya memikirkan hal ini sambil juga memiliki pertanyaan pribadi. Suatu saat pasti saya atau istri akan pulang ke rumah Bapa. Memang ini pertanyaan yang berat dan sering dihindari orang. Tapi kematian hal yang lebih pasti daripada banyak hal lain di dunia.

    Bagaimana mengatasi kesepian dan perasaan kehilangan setelah ditinggal orang yang disayangi?

  •  

    Kematian adalah sebuah kepastian yang parents tak pernah siap untuk menerimanya.

    Ini bukan hanya pendapat saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, tapi ini memang kebenaran yang tak terhindarkan.

    Respons terhadap kematian orang-orang tercinta bisa saja berbeda, namun kehilangan tentu saja tak pernah dapat disembunyikan. Sebagian sanggup melewati fase kehilangan ini. Sisanya seperti tak bisa ”move on” bahkan setelah bertahun-tahun.

  • Iya sih, Pak.

    Makanya kami sekeluarga pengen menghibur Kakek itu.

    Apa yang menyebabkan seseorang sanggup bertahan melewati kehilangan, sementara orang lain tak bisa ”move on”?

  •  

    Pertama, ada atau tidak adanya penyesalan.

  • Bukankah penyesalan itu pasti ada, Pak?

  • Ada yang merasa sangat menyesal karena tidak dapat mendampingi orang tercinta ketika menghembuskan nafas yang terakhir.

    Rasa sesal ini mewujud dalam kecenderungan menyalahkan diri sendiri. Berandai-andai dapat kembali mengulangi momen itu dan hadir dengan tindakan yang berbeda.

  • Ini yang paling sering ya, Pak...

  • Ada yang menyesali buruknya relasi dengan yang telah pergi.

    Sepanjang perjalanan pernikahan mungkin tak atau kurang berupaya untuk memperbaiki relasi.

    Kini setelah pergi, ada yang disesali.

    Penyesalan ini kembali mewujud dalam andai-andai waktu dapat diputar kembali.

  • Sepertinya penyesalan di sini lebih karena tidak melakukan yang terbaik untuk orang tersayang ya, Pak...

    Kalau sudah menggunakan setiap waktu dengan bijak dan benar, pasti tidak menyesal.

  • Ada atau tidaknya penyesalan akan menentukan seberapa segera seseorang dapat pulih dari dukacita yang menerpa.

  • Yang kedua apa, Pak?

  •  

    Kedua, ada atau tidaknya makna hidup yang lain.

  • Makna hidup yang lain itu maksudnya apa, Pak?

  • Beberapa pasangan memutuskan untuk menghentikan kontak dengan pihak di luar mereka.

    Tujuan dan makna hidup hanya mereka temukan dalam keberadaan pasangan.

    Ketika pasangan meninggal dunia, tujuan dan makna hidupnya pun ikut terkubur. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan karena tak menemukan makna atau tujuan.

    Situasi seperti ini tentu membuat pemulihan menjadi sebuah perjalanan berat dan panjang.

  • Tidak bergaul dengan orang selain pasangan.

    Gawat juga ya.

    Tapi ada juga orang yang seperti ini ya, Pak...

    Mengapa sampai seperti itu ya, Pak?

  •  

    Sebenarnya pernikahan memang harus menyatukan dua pribadi, namun bukan meleburkan keduanya.

    Masing-masing memunyai tujuan dan makna hidup personal, selain memperjuangkan kehidupan bersama.

    Inilah yang harus parents pahami ketika menjalani relasi hidup bersama.

  • Oh ternyata melebur kehidupan itu yang menjadi kesalahan mereka ya...

  • Ketiga, ada atau tidaknya keinginan menyesuaikan diri.

  • Menyesuaikan diri terhadap kenyataan dan hal yang baru ya, Pak?

  •  

    Ada beberapa pribadi yang cenderung adaptif dengan situasi yang baru.

    Mereka mampu menyesuaikan diri dengan relatif cepat, sementara ada yang tidak demikian.

    Keinginan dan  kemampuan menyesuaikan diri akan memberikan jalan melewati masa duka yang ada.

  • Bagaimana kalau mengambil langkah ekstrem dengan meninggalkan semua yang lama, Pak?

  •  

    Beberapa orang memilih untuk melangkah dalam situasi hidup yang benar-benar baru untuk melupakan yang lama, misalnya dengan berpindah kota dan memutuskan kontak-kontak lama yang dapat membangkitkan kenangan.

    Ada yang berhasil menata kembali kehidupan dengan cara ini, namun ada juga yang tetap mengalami kesulitan karena memori itu tinggal di dalam hati dan pikiran.

    • Tidak selalu bisa berhasil ya, Pak...
  • Ada pribadi tertentu yang tidak mudah untuk keluar dari situasi yang sulit.

    Proses menyangkali kenyataan hidup bahwa pasangan sudah meninggal, tidak berkeinginan untuk mengubah arah perjalanan hidup yang baru, tentu akan membuat rasa kehilangan dan kesepian seolah tidak pernah berakhir.

  • Kalau kami memberi perhatian dengan meminta Kakek untuk kembali lagi seperti dulu bagaimana, Pak?

  • Kehadiran rekan-rekan yang perhatian meminta Kakek balik seperti kita dulunya juga bisa mengganggu proses dukacita ini, membuat dia tidak pernah bisa mengatasi kehilangan dengan baik.

    Seorang sahabat perlu memberikan waktu mendengarkan dan menemani orang yang sedang berduka menceritakan isi hatinya.

    Seseorang yang memiliki teman yang baik melewati masa dukanya, maka dia akan berhasil untuk mengatasi persoalan kehilangan dan kesepian ini.

  • Setelah memahami 3 hal ini, kami bisa memahami situasi dan kondisi Kakek, lalu menentukan bagaiman menghiburnya ya, Pak...

  • Tepat.

    Selalu berdoa dan mengandalkan Tuhan.

    Selamat menemani dan menghibur Kakek.