Merawat Kemesraan Suami-Istri Sembari Mengajar Anak Tentang Relasi. Ini 3 Cara Praktisnya

Merawat Kemesraan Suami-Istri Sembari Mengajar Anak Tentang Relasi. Ini 3 Cara Praktisnya
  • Anak-anak sekarang sudah lulus SD dan lulus SMP. Mereka sudah beranjak remaja. Kami merasa perlu menjaga kualitas hubungan sebagai suami istri. Dari buku yang kami baca, anak-anak perlu melihat bagaimana relasi yang sehat dari kedua orang tuanya agar memahami tentang hubungan dan komitmen. Bagaimana cara suami istri tetap mesra dan harmonis setelah anak-anak beranjak remaja?
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Parents terkasih, saya bersyukur parents terus membaca buku untuk meningkatkan kualitas relasi sekaligus mempersiapkan masa depan anak-anak, terkait dalam relasi mereka dengan pasangan kelak.
  • Wah kami merasa tersanjung, Pak!
  • Memang benar bahwa anak-anak akan belajar dari relasi parents. Bahkan kemungkinan besar mereka akan mencari pasangan yang mirip karakternya dengan ayah atau ibu, jika mereka melihat teladan yang baik. Sebaliknya, mereka akan kesulitan mendapatkan gambaran relasi yang sehat, apabila hal itu tidak nampak di depan mata mereka.
  • Benar. Lewat keluarga mereka belajar tentang relasi ya, Pak...
  • Ada tiga hal yang perlu parents perhatikan terkait mempertahankan kemesraan dan keharmonisan rumah tangga, dalam kaitan dengan pertumbuhan anak-anak di masa remaja.
  • Apa saja 3 hal itu, Pak?
  • Pertama, jadilah otentik. Otentik berarti apa adanya, alias tidak bermain sandiwara. Anak-anak yang beranjak remaja mampu mengenali dan membedakan dengan cepat apakah parents berlaku otentik atau artifisial alias dibuat-buat. Otentik artinya membiarkan anak-anak melihat hal-hal yang baik, juga tak menutupi bahwa ada pergumulan di dalam hidup rumah tangga. Yang terpenting anak-anak melihat bukan kesempurnaan, yang memang tak dapat dimiliki, namun pertumbuhan.
  • Asli, tidak dibuat-buat. Menghadirkan kenyataan tanpa kebohongan. Otentik. Lalu apa yang kedua, Pak?
  • Kedua, ketika anak beranjak remaja, mulailah bicara tentang situasi-situasi konkret yang dihadapi dalam setiap relasi. Anak-anak perlu mendapatkan asupan informasi dari parents agar harapan mereka pada pasangan kelak tak terlalu tinggi, alias realistis. Parents dapat mengisahkan perjumpaan, pernikahan dan pergumulan yang ada dalam batas-batas yang sesuai dengan usia dan kedewasaan anak.
  • Cerita pengalaman yang riil ya, Pak... Baiklah. Lalu yang ketiga?
  • Ketiga, ajaklah anak-anak berbicara tentang melibatkan Tuhan dalam relasi. Ini adalah hal yang penting yang seringkali terabaikan oleh anak-anak. Anak-anak, khususnya karena pengaruh media, seringkali berpikir bahwa cinta saja cukup untuk membangun rumah tangga. Mereka perlu diajar dan mendapatkan teladan bahwa kehadiran Tuhan mutlak dalam sebuah relasi.
  • Melibatkan Tuhan dalam setiap relasi. Wah tiga saran yang perlu kami lakukan. Terima kasih, Pak!
  • Nah, selamat bertumbuh dan bertambah mesra, sembari menjadi kitab terbuka bagi anak-anak.