Anak Tumbuh Remaja, 3 Perubahan Ini Mesti Orang Tua Pahami demi Keharmonisan Relasi

Anak Tumbuh Remaja, 3 Perubahan Ini Mesti Orang Tua Pahami demi Keharmonisan Relasi
  • Remaja memang susah dimengerti.
 Mood mereka begitu gampang berubah.
 Pertanyaan yang mereka lontarkan tidak pernah mudah untuk kami jawab.
 Belakangan ini mereka sering menanyakan hal-hal yang filosofis dan mendasar tentang kehidupan. 
Karena tidak terlalu bisa menjawab, kami sering mengabaikan dan meremehkan pertanyaan mereka. 
Ini memang bukan cara yang benar dan tepat untuk menghadapi remaja.
 Tapi kami bingung... 
Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari remaja? Papa Mama pusing
  • Selamat datang di dunia baru: generasi remaja di era digital yang tengah berkembang dengan pesat ini. Ketika anak-anak beranjak remaja, parents mulai menyadari dan menghadapi adanya gap (jarak) yang tak kasat mata memisahkan relasi dengan anak-anak. Jika parents tidak menyadari dan bahkan tidak melakukan apa pun untuk menjembatani jarak yang ada ini, maka dapat dipastikan anak-anak bertumbuh kembang tanpa kehadiran dan partisipasi parents di momen krusial ini.
  • Perlu cepat menyadari dan menghadapi gap ini ya, Pak...
  • Agar parents dapat menjembatani gap tak kasat mata dalam relasi dengan remaja, maka pahamilah 3 (tiga) hal ini.
  • Apa saja itu, Pak?
  • 1. Perkembangan fisik Remaja mengalami perkembangan fisik yang luar biasa. Bukan sekedar perubahan tinggi badan, mereka juga mengalami perubahan bentuk tubuh dan wajah. Perkembangan luar biasa ini bisa menimbulkan penolakan dalam diri remaja. Mereka bisa merasa minder dengan ukuran tubuh (terlalu tinggi ataupun kurang tinggi, terlalu kurus ataupun terlalu gemuk). Mereka bisa ketakutan dengan tumbuhnya rambut-rambut halus, payudara, jakun, dan perubahan yang sebelumnya tidak ada. Mereka bisa mengalami masalah dengan jerawat, bau badan dan sebagainya sejalan dengan perubahan hormon.
  • Iya sih ya, Pak. Perubahan memang tidak pernah mudah.
  • Ketika mereka mengalami penolakan atau sedikitnya kekagetan dalam diri mereka, yang paling diharapkan dari parents adalah PENERIMAAN. Itulah mengapa remaja sensitif merasa diserang bila parents tidak memberi penerimaan yang cukup dalam area ini. Memberi mereka waktu yang cukup untuk beristirahat/bangun lebih siang saat libur. Menolong mereka mengatasi masalah fisik mereka. Tidak mencela penampilan mereka. Ini semua adalah contoh-contoh penerimaan yang mereka butuhkan.
  • Menerima mereka dengan segala kekagetan dan penolakan karena perubahan yang terjadi ya, Pak. Baiklah. Ada contoh nyata yang bisa Bapak bagikan?
  • Jangan lanjutkan pemberian atau pemanggilan nama berdasarkan ciri-ciri tubuh yang mungkin dulu terasa lucu seperti: gendut, chubby, hitam, keriting dalan sejenisnya. Seiring dengan waktu, hal-hal seperti ini lebih terasa sebagai bentuk pelecehan daripada keakraban.
  • Oh yang kami pandang lucu malah menurut mereka itu pelecehan ya, Pak... Kami tidak akan melakukannya lagi. Mending memilih nama panggilan sayang yang tidak bernada mengejek. Benar begitu kan, Pak?
  • Tepat sekali, parents.
  • Lalu apa lagi hal yang perlu kami pahami, Pak?
  • 2. Perkembangan emosi Perkembangan emosi tak sejelas perkembangan fisik, namun terjadi. Misalnya, parents dengan mudahmerasakan mood mereka gampang berubah. Masa remaja ini masa transisi, mereka sudah bukan anak-anak lagi tetapi mereka juga belum dewasa. Dalam berelasi, membuat keputusan, memandang kehidupan ini, mereka masih labil alias mudah berubah-ubah. Dalam masa labil ini, anak remaja membutuhkan parents dengan emosi yang stabil untuk menjadi mentornya. Remaja perlu memiliki teladan orang dewasa yang stabil secara emosi, Sehingga mereka bisa meniru dan dibimbing dalam berelasi, membuat keputusan dan memandang kehidupan sebagai orang dewasa yang takut akan Tuhan.
  • Ternyata sepenting itu mereka membutuhkan kami sebagai orang dewasa terdekat mereka ya, Pak? Tidak mau lagi ditemani. Mau pergi bersama teman lebih lama daripada dengan kami. Punya waktu khusus bersama teman-teman. Tidak senang di rumah. Kami pikir mereka malah semakin menjauhi kami. Ternyata mereka justru membutuhkan kami...
  • 3. Perkembangan kognitif Perkembangan yang nyata lainnya adalah perkembangan kognitif. Perkembangan ini mendorong rasa ingin tahu yang besar, kreativitas, keberanian berekspresi bahkan kenekadan yang mungkin tidak pernah ditemui dalam masa kehidupan yang lain. Dalam keadaan seperti ini, yang remaja harapkan dari parents adalah menjadi fasilitator bagi mereka. Menjadi fasilitator bukan berarti memberi fasilitas, lalu semua beres. Parents perlu menyediakan diri menjadi teman mereka, mengikuti kesenangan mereka, pemikiran mereka, cita-cita mereka. Apa saja yang menurut mereka penting. Dengan demikian parents mampu memberikan fasilitas yang berguna untuk mengisi perkembangan kognitif mereka.
  • Tidak hanya memberi uang atau barang. Tapi malah ikut terlibat mengikuti apa yang jadi kesenangan merka ya? Wow! Ini hal yang baru bagi kami, Pak. Semoga kami mampu. Tidak bisa kebayang pasti seru juga ya menemani dan menyelami dunia remaja...
  • Ketika anak-anak bertumbuh menjadi remaja, parents juga perlu bertumbuh pula. Bertumbuh dalam cara, tipe dan kualitas berelasi dengan anak-anak yang juga tengah bertumbuh. Selamat bertumbuh dengan mengandalkan Tuhan.
  • Terima kasih, Pak!