Pertengkaran Anak, Kapan Orang Tua Bisa Ikut Campur?

Pertengkaran Anak, Kapan Orang Tua Bisa Ikut Campur?
  • Saya menyaksikan sendiri seorang anak laki-laki kira-kira berusia 9-10 tahun berlari lalu mengadu pada Papanya sambil menunjuk temannya. Lalu si Papa mendatangi teman anaknya, kemudian menegur hingga anak itu menangis. Apakah pantas orang tua terlibat sejauh itu untuk membela anak? PCD, Papa Cinta Damai
  • Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya menjawab, Dalam batas-batas tertentu, pertengkaran antar anak adalah hal yang wajar. Tak jarang anak bertengkar, dan hanya dalam beberapa menit, mereka sudah bermain kembali. Namun, bukan berarti parents harus berdiam diri saja. Sebaliknya, parents yang terlalu reaktif juga sering menyebabkan munculnya masalah yang tak perlu dan bahkan mengganggu perkembangan anak itu sendiri.
  • Jadi tidak boleh dibiarkan begitu saja, tapi jangan juga terlalu reaktif. Lalu kapan waktunya orang tua boleh ikut campur dalam pertengkaran anak, Pak?
  • Inilah situasi-situasi di mana parents dapat turut campur dalam pertengkaran anak: Pertama, ketika pertengkaran antar anak itu sudah berada dalam kontak fisik yang membahayakan. Misalnya ketika anak-anak itu mulai berkelahi Atau malah sudah menggunakan alat untuk menyakiti temannya sendiri.
  • Wah, iya, kalau sudah gitu, gawat, Pak! Lalu kapan lagi, Pak?
  • Kedua, ketika pertengkaran itu berulang terus menerus dengan orang yang sama. Nah, parents perlu mempelajari latar belakang yang ada di balik pertengkaran yang seringkali terjadi. Percakapan dengan anak adalah hal yang kunci.
  • Bertengkar dengan teman yang sama juga perlu mendapat perhatian ya, Pak. Baiklah, kami akan coba mengajak anak ngobrol tentang ini. Lalu ada lagi, Pak?
  • Ketiga, ketika pertengkaran itu berubah menjadi perundungan (bullying). Perundungan adalah situasi di mana satu pihak dominan mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan pihak lain, baik lewat perkataan atau pun perbuatan.
  • Oh kalo dalam hal bullying, boleh ikut campur. Baiklah. Lalu bagaimana bentuk intervensi yang tepat, Pak?
  • Baru saja saya mau mengajak Bapak untuk memikirkan lebih jauh tentang bentuk intervensi parents. Nah, selain memahami situasi-situasi itu, bukan berarti parents dapat masuk dan melakukan intervensi dalam pertengkaran antar anak. Bentuk intervensi nya pun beragam.
  • Nah ini dia. Nyambung, Pak. Lalu apa saja model-model intervensi yang bisa kami pakai, Pak?
  • Pertama, intervensi dengan menghubungi parents dari anak yang menjadi “lawan” anak. Komunikasi antarkeluarga menjadi penting untuk memiliki kesepahaman terkait dengan pertengkaran anak yang terjadi. Masing-masing bisa menilai apakah ini masih dalam tahap wajar atau sudah memasuki situasi-situasi yang membahayakan.
  • Membuka jembatan komunikasi orang tua ya, Pak. Saran yang bagus nih.
  • Kedua, intervensi dengan menghentikan dan bukan membalas tindakan anak lain terhadap anak kita. Kata “menghentikan” di sini lebih bersifat defensif. Tidak ofensif alias menyerang anak orang lain. Penyerangan terhadap anak orang lain malah akan menghasilkan konflik orang tua.
  • Menjadi pembawa damai dengan tidak membalas atau menyerang. Saya sangat setuju dengan ini, Pak.
  • Lewat pertengkaran, anak-anak dapat belajar untuk lebih mengerti bagaimana berperilaku yang seharusnya. Demikian pula, parents dapat memakai kesempatan ini untuk mengenal karakter anak, mengajar anak untuk mengampuni, sambil mempersiapkan masa depannya dengan mengasah kemampuan anak dalam berelasi dan menghadapi konflik.
  • Saya senang sekali dengan jawaban Bapak. Terima kasih, Pak.