Bagaimana Cara Mengajak Pasangan Untuk Lebih Rutin Saat Teduh Bersama Setiap Hari?

Bagaimana Cara Mengajak Pasangan Untuk Lebih Rutin Saat Teduh Bersama Setiap Hari?
  • Selama ini suami selalu sibuk bekerja. Berangkat pagi, pulang malam sudah lelah.

    Kami jarang punya waktu berdoa seperti dulu lagi. Bahkan untuk baca Alkitab saja hanya hari Sabtu, ketika suami libur.

    Bagaimana cara mengajak pasangan untuk lebih rutin saat teduh bersama setiap hari?

  • Tampaknya Ibu dan suami pernah memiliki kebiasaan yang baik, yaitu berdoa dan membaca Alkitab bersama.

    Saya, Hanna Yulianik, sangat mengapresiasi hal ini. Memang itu penting untuk pertumbuhan rohani pengikut Kristus.

    Sayangnya, akibat adanya kesibukan-kesibukan pekerjaan, akhirnya kebiasaan yang baik itu kini mengalami hambatan. Tapi kabar baiknya, kerinduan Ibu yang tidak pudar untuk bersaat teduh bersama pasangan, sebenarnya merupakan indikator yang menunjukkan keinginan kuat untuk membangun relasi dan komunikasi sebagai pasangan.

    Karena itu, saya menyarankan beberapa hal praktis yang dapat dilakukan terkait dengan membangun komunikasi tersebut.

  • Wah Ibu bisa saja memuji saya...

    Terima kasih.

    Wah, apa nih yang bisa kami lakukan, Bu?

  • Pertama, cari waktu yang baik untuk dapat membicarakan masalah ini dengan pasangan.

    Biasanya waktu yang baik itu ditandai dengan kondisi parents dan pasangan yang sama-sama sedang rileks, tidak banyak pikiran.

    Salah satu kemungkinannya adalah pada hari Sabtu, saat suami libur dan bisa membaca Alkitab bersama-sama Ibu.

    Jangan lupa mendoakan agar waktu yang baik ini dapat segera tiba.

    Karena parents harus ingat bahwa hal-hal semacam ini masuk dalam ranah peperangan rohani. Iblis pasti tidak akan senang bila parents berkesempatan untuk membangun kehidupan rohani.

  • Mendoakan dan mencari waktu yang tepat untuk ngobrol dengan suami tentang ini ya...

  • Kedua, bicarakan masalah ini dengan suami dalam suasana penuh kasih.

    Pengertian suasana penuh kasih adalah keadaan di mana parents dan suami dapat mengemukakan pergumulan masing-masing dengan leluasa, apa adanya.

    Minimal ada tiga hal yang ingin dicapai melalui langkah ini, yaitu:

    1. Memberi kesempatan kepada pasangan untuk dapat mengemukakan masalah ini dari sudut pandangnya; 

    2. Memberi kesempatan kepada diri kita sendiri untuk belajar berempati, melihat masalah ini dari sudut pandang pasangan, dan 

    3. Membuka diri terhadap kemungkinan adanya penyebab lain yang membuat kebiasaan yang baik itu tidak lagi dapat berjalan.

  • Wah bisa merencanakan romantic getaway alias kencan dalam kota nih untuk membicarakan urusan penting ini dengan suami!

  • Ide yang manis!

    Ketiga, cari cara-cara kreatif sebagai solusi bersama dengan pasangan.

    Tidak menutup kemungkin bahwa penyebabnya hanyalah karena kebosanan terhadap sebuah metode berdoa atau membaca Alkitab.

    Mengubah metode bukanlah suatu hal yang salah. Misalnya saja, kalau sebelumnya bersaat teduh dengan menggunakan buku saat teduh, parents dapat mencoba dengan cara membaca sebuah kitab secara berurutan tanpa menggunakan buku saat teduh.

    Kalau sebelumnya cara berdoanya bergantian, kita dapat mencoba hal baru, dengan cara menyebutkan sebuah pokok doa yang kemudian didoakan secara bersama-sama.

  • Variasi kreatif sebagai solusi.

    Ini juga bisa kami bicarakan saat kencan nanti.

  • Satu hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup: pertumbuhan rohani itu bersifat fluktuatif.

    Artinya, kalau hari ini pertumbuhan rohani parents cukup baik, besok belum tentu akan memiliki pertumbuhan rohani yang tetap baik. Begitu pula sebaliknya.

    Sama sekali tidak ada jaminan bahwa kalau hari ini parents memiliki kerohanian yang baik maka besok atau seminggu ke depan kerohanian parents juga akan sebaik hari ini.

    Sangat fluktuatif. Bisa lebih baik, bisa juga lebih buruk. 

  • Oh begitu ya, Bu...

    Jadi fluktuatif itu hal yang wajar dalam pertumbuhan rohani ya?

  • Menyadari kenyataan bahwa pertumbuhan rohani itu fluktuatif, maka parents harus tetap waspada.

    Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

    1 Petrus 5:8

  • Caranya waspada seperti apa, Bu?

  • Waspada dengan cara: 

    1. Tidak terlalu berpuas diri saat parents merasa kerohanian sedang baik. 

    2. Tidak menganggap sepele ketika kerohanian parents sedang tidak baik karena berasumsi bahwa “toh pertumbuhan rohani itu fluktuatif”. Sehingga kemudian parents tidak bersegera membangun hubungan pribadi kita dengan Tuhan. 

  • Sepertinya ini salah satu area yang Tuhan percayakan untuk kami jaga dan pelihara ya, Bu?

  • Semoga parents dikaruniai hikmat yang sepadan di setiap dinamika fluktuasi pertumbuhan rohani ini, sambil mengingat kebenaran Firman Tuhan:

    “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” (1Tesalonika 5:11).

    Firman Tuhan yang menumbuhkan parents. Bacalah setiap hari sambil saling membangun.

  • Terima kasih, Bu!

    Saya sudah hampir selesai merancang rencana kencan kami.

    Sekarang tinggal mendoakannya.