Suami Berulang Kali Ingkar Janji, Bagaimana Memercayai Lagi?

Suami Berulang Kali Ingkar Janji, Bagaimana Memercayai Lagi?
  • Setelah berulang kali gagal menepati janji, saya mulai skeptis tiap kali suami berjanji.

    Mulai dari sering terlambat, lupa hari penting dan membatalkan janji.  Padahal dia berulang kali meminta maaf dan berjuang untuk berubah. Tapi, tetap saja mengulangi kesalahan serupa di momen berbeda.

    Bagaimana mengampuni pasangan yang mengulangi kesalahannya berkali-kali?

  • Banyak hal terjadi dalam relasi suami-istri: ada sukacita, namun ada yang melukai perasaan.  

    Terkait dengan suami yang berulangkal ingkar janji, saya, Pdt Wahyu' wepe' Pramudya mengajak memikirkan dahulu tiga hal ini sebelum menjadi skeptis.

  • Baiklah, Pak.

    Apa saja ketiga hal yang perlu dipikirkan itu?

  • Mari ingat kembali pada masa pacaran, apakah memang sudah ada kebiasaan ingkar janji?  

    Apakah ini sebuah kesengajaan atau lebih menunjuk pada ketidakmampuan mengingat alias pelupa?

  • Hmm, mengingat kembali ya, Pak...

  • Cara paling mudah untuk memeriksa ini adalah dengan mengingat apa yang terjadi di masa pacaran.

    Siapa yang lebih sering mengingatkan hal-hal penting, perlu diurus, tanggal-tanggal penting, dan janji-janji?  

    Bila sejak dulu pasangan memang pelupa, parents yang mengambil bagian penting dalam hal-hal penting, maka hal ini bukan sesuatu yang baru muncul dalam perjalanan pernikahan.

     

  • Oh begitu ya, Pak...

  • Kadangkala parents mengharapkan pasangan berubah dalam perjalanan pernikahan.  

    Nah, harapan ini tak realistis tentu saja.

    Pernikahan tak akan mengubahkan apa pun, hanya akan menampakkan realita yang ada.  

    Realita yang mungkin tak terlihat semasa pacaran dulu. 
     

  • Saya akan meluangkan waktu untuk mengingat kembali, Pak.

    Lalu apa lagi yang perlu saya pikirkan?

  • Kedua, apakah kebiasaan ingkar janji bertambah parah sesudah menikah?

  • Sepertinya iya sih, Pak...

  • Jika kebiasaan lupa atau ingkar janji sudah ada sebelum menikah, maka apakah hal ini bertambah parah sesudah pernikahan?  

    Jika ya, maka kita harus memikirkan apa yang menyebabkan hal ini bertambah parah?

    Apakah ada beban keluarga atau pekerjaan yang makin bertambah?

    Atau yang terjadi justru ingkar janji yang bersengaja untuk mengabaikan tanggung jawab tertentu?

  • Pertanyaannya makin sulit, Pak...

    Hehehe!

  • Rangkaian pertanyaan tadi layak mendapatkan perhatian jika ternyata kebiasaan lupa atau ingkar janji itu bertambah.

    Syukurlah jika perjalanan pernikahan justru membuat kebiasaan lupa atau ingkar janji itu makin berkurang.  

    Kehadiran parents berarti telah Tuhan pakai untuk menolong pasangan menjadi lebih baik lagi. Baik dalam mengingat maupun dalam bertanggung jawab terhadap janjinya.
     

  • Banyak evaluasi yang perlu saya pikirkan ya...

  • Oh ya, jangan melupakan aspek pertambahan usia yang juga bisa mempengaruhi kemampuan mengingat ya...

  • Benar juga!

  • Ketiga, apakah ada hal-hal yang dapat menolong pasangan untuk berubah?

  • Ada sih, Pak.

  • Sebelum menjadi skeptis arena banyak janji dibatalkan, maka masih adakah hal-hal tertentu yang dapat parents lakukan untuk menolong pasangan berubah?

  • Rasanya ada sih, Pak. 

    Sepertinya sudah saya coba semua, tapi tidak berhasil.

  • Kadang parents terlalu cepat menyerah untuk menolong pasangan berubah.  

    Parents mengingatkan dengan cara yang sama terus menerus dan respons pasangan sama.  Tak berubah.  

    Tentu saja parents tak dapat mengulang cara sama yang selama ini tak terbukti efektif bukan?
     

  • Melakukan hal yang sama berulang-ulang mengharapkan hasil berbeda itu kegilaan ya, Pak?

    Saya pernah membaca seperti ini, tapi kadang melupakannya dalam praktik.

  • Tepat.

    Jika memang pasangan cenderung pelupa, maka parents bisa menolongnya dengan catatan dan peringatan.  

    Namun, jika ini adalah kesengajaan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, maka parents punya urusan yang lebih serius untuk menolongnya.

  • Apa saya sanggup menolong suami, Pak?

  • Anugerah Tuhan akan memampukan.

    Berserah dan berharap pada-Nya.

    Fokus pada kasih-Nya yang tak bersyarat.

    Lalu wujudkan dengan mencintai suami dan menolongnya.

    Cinta selalu mewujud dalam kesediaan berkorban bagi pasangan bukan?

  • Iya.

    Terima kasih, Pak.

  • Selamat berjuang dengan kekuatan-Nya!

    Yang terbaik masih akan datang!