Anak Laki-Laki Terlalu Berani, Anak Perempuan Terlalu Hati-Hati. Apa yang Harus Orang Tua Lakukan? 3 Hal Ini Saja!

Anak Laki-Laki Terlalu Berani, Anak Perempuan Terlalu Hati-Hati.  Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?  3 Hal Ini Saja!
  • Anak laki-laki kami sangat berani sampai sepertinya terlalu sering melakukan kegiatan yang menantang bahaya. Sedangkan anak perempuan kami terlalu berhati-hati dan penuh pertimbangan sampai sulit mencoba hal-hal baru.

    Apa yang harus kami lakukan?

    Bagaimana mengajar anak untuk tahu kapan harus berhati-hati dan kapan perlu berani?

  • Sikap berhati-hati maupun berani pada dasarnya adalah baik.

    Namun, tentu saja tetap perlu dikendalikan sehingga tak berlebihan dan menjadi bahaya tersendiri.

    Nah, jika boleh saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, menyarankan sebelum berbicara kepada anak-anak, parents dapat melakukan 3 (tiga) hal ini terlebih dulu:

  • Iya sih, Pak.

    Baik. Apa yang perlu kami lakukan, Pak?

  •  

    Pertama, kenali terlebih dahulu kecenderungan pribadi parents.

  • Kecenderungan pribadi?

  • Saya tergelitik untuk bertanya pada parents terlebih dahulu.

    Parents lebih menyukai dan mendukung anak dengan sikap berani atau yang berhati-hati?

    Jawaban atas pertanyaan ini akan membuat parents menyadari preferensi yang ada di dalam diri. Preferensi ini akan menentukan jawaban dan perlakuan parents terhadap anak-anak.

  • Oh begitu ya, Pak...

  •  

    Jika parents berdua adalah sosok yang cenderung berani dan merasa puas dengan kecenderungan ini, maka parents akan mendorong anak-anak untuk memunyai sifat dan perilaku yang sama.

    Anak yang tidak menunjukkan perilaku seperti ini akan parents beri masukkan dan kritik.

  • Jadi perlu mengenali itu dulu ya, Pak...

  •  

    Ya.

    Kecenderungan sifat dan perilaku parents secara pribadi akan menentukan pola pengasuhan terhadap anak-anak.

    Hal ini sebaiknya disadari terlebih dahulu.

  • Setelah menyadari, lalu apa lagi, Pak?

  •  

    Kedua, akuilah keunikan pribadi dan perilaku anak.

  • Setiap anak unik dan tidak sama ya, Pak?

  •  

    Setelah parents mengetahui kecenderungan sifat dan perilaku diri, maka langkah selanjutnya adalah menghargai keunikan pribadi anak.

    Walau dilahirkan dari sepasang orang tua yang punya kecenderungan sifat dan perilaku yang sama, belum tentu anak-anak akan menjadi seperti orang tuanya. Hal ini tidak mengherankan, juga bukan sebuah kesalahan.

  • Iya, kami paham tentang ini, Pak.

  •  

    Anak-anak bertumbuh dan berelasi dengan lingkungannya sehingga bisa menjadi sosok yang berbeda dengan kedua orang tuanya.

    Apresiasi kekuatan yang ada di dalam diri anak, sebelum memberikan koreksi atas apa yang dirasakan masih kurang dalam diri anak.

    Apresiasi dapat disampaikan dalam bentuk perkataan, ”Wah luar biasa ya, kamu berhati-hati sebelum membuat keputusan. Sikap hati-hati adalah hal yang baik. Teruskan!

  • Apresiasi dulu, koreksi kemudian.

    Cara koreksi yang baik seperti apa, Pak?

  •  

    Upaya koreksi pun dapat dilakukan dalam situasi yang lebih rileks.

    Misalnya lewat perkataan, ”Sesekali coba yang baru ya. Supaya kamu mendapatkan pengalaman yang baru. Coba ya?

  • Wow! Bagus sekali.

    Cara yang sangat mendukung dan tidak menghakimi ya, Pak?

  • Tidak ada yang senang dihakimi, bukan?

     

    Hindarilah memperbandingkan antar anak, sebab hanya akan menghasilkan luka dan tak efektif untuk mengubah perilaku anak-anak.

  • Setuju, Pak.

    Ini area yang perlu kami perbaiki.

    Kadang-kadang kami keceplosan untuk membandingkan anak-anak.

  •  

    Ketiga, hadirlah dalam pergumulan anak-anak terkait sifat dan perilakunya.

  • Hadir maksudnya menemani ya, Pak?

  •  

    Setiap sifat dan perilaku anak akan membawa konsekuensi tertentu. Terkadang konsekuensi tersebut menyenangkan, namun tak jarang menyedihkan.

    Dalam pelbagai situasi ini, parents dapat menemani anak-anak agar dapat menarik makna dari perisitiwa terjadi.

  • Selain menemani, apa yang bisa kami lakukan untuk membuat kehadiran kami lebih berarti, Pak?

  •  

    Kehadiran parents dalam pergumulan anak dapat lebih berdampak dengan mengajukan 3 (tiga) pertanyaan ini.

  • Apa saja itu, Pak?

  •  

    Pertama, apa perasaan anak ketika mengalami peristiwa tertentu?

    Lewat pertanyaan ini, parents menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak bahwa apa yang terjadi dalam hidup anak-anak adalah penting bagi parents.

  • Mereka penting bagi kami.

    Kami peduli dengan apa yang mereka alami.

    Bagus sekali, Pak.

    Pertanyaan kedua?

  •  

    Kedua, apa yang anak-anak pelajari dari peristiwa atau pengalaman tersebut? 

    Di bagian ini parents menyatakan keinginan untuk memahami perspektif anak, bukan memaksa anak untuk memunyai perspektif yang sama dengan parents.

  • Menyelami sudut pandang mereka ya, Pak...

    Kemudian apa pertanyaan ketiga, Pak?

  •  

    Ketiga, apa yang anak-anak butuhkan dari parents ketika menghadapi situasi yang relatif sama kelak di kemudian hari?

    Nah, pada bagian inilah parents dapat memberikan sesuatu yang betul-betul dibutuhkan anak-anak. Anak merasa nyaman dan kehadiran orang tua pun berdampak positif.

  • Pertanyaan-pertanyaan ini seperti langkah yang berani sekaligus hati-hati ya, Pak?

    Sangat tepat untuk anak.

  •  

    Pada akhirnya, parents perlu belajar bahwa kehadiran orang tua bukan dalam rangka mengambil alih masalah anak.

    Parents hadir untuk mendampingi dan menguatkan anak-anak.

    Parents ada untuk membuat anak-anak mampu belajar dari pengalaman sehingga menjadi lebih bijak.

    Tetap berani, namun bijak. Belajar berani, namun berhati-hati.

  • Wah sungguh ini sesuatu yang sangat berguna bagi kami!

    Kami sangat terbantu. Sekarang kami tahu harus melakukan apa.

    Terima kasih, Pak!

  • Tetap mengandalkan Tuhan dalam doa. Sambil melibatkan Dia yang sanggup mengubah parents dan anak.

    Selamat berjuang!