Anak Mengeluh Mama Terlalu Kepo Urusan Pergaulan dengan Teman-Temannya. Orang Tua Harus Bagaimana?

Anak Mengeluh Mama Terlalu Kepo Urusan Pergaulan dengan Teman-Temannya.  Orang Tua Harus Bagaimana?
  • Saya baru dapat curhat dari salah satu teman sewaktu kami arisan. Dia bertengkar dengan anak perempuannya. Menurut anak, dia terlalu ikut campur dalam urusan pertemanannya.

    Sampai sering mencari info tentang anaknya sedang di mana, lagi ngapain, sama siapa dengan cara mengirim pesan WA ke teman anaknya. Seperti stalker gitu kata anaknya.

    Wajar apa tidak sih orang tua seperti itu? Sejauh apa orang tua boleh terlibat dalam pergaulan anak dengan temannya?

  • Parents, inilah salah satu dilema pengasuhan anak.

    Saya, Pdt Wahyu' wepe' Pramudya sangat paham kalau parents ingin mengetahui dan sekaligus mengawasi karena tak ingin pergaulan yang buruk merusak anak.  Namun, di sisi lain anak yang sedang bertumbuh remaja mengeluh karena parents masuk terlalu dalam dalam pergaulannya.

    Tentu saja tidak mau tahu sama sekali pergaulan anak juga bukan pilihan yang tepat.  

  • Terus apa yang harus kami lakukan, Pak?

  • Ada sebuah pepatah yang memberikan arahan penting terkait pengasuhan anak:

    There are two gift we should give our children: one is roots and the other is wings.  

    Ada dua hadiah yang harus kita berikan kepada anak-anak: satu adalah akar dan yang lain adalah sayap.  

    Pepatah ini memberikan arah pengasuhan anak.

  • Akar dan sayap?

    Maksudnya seperti apa, Pak?

  • Pertama, memberikan akar kepada anak.

    Seperti pohon yang tidak dapat bertumbuh tanpa akar yang makin mendalam, demikianlah anak-anak.  

    Anak-anak membutuhkan akar berupa nilai-nilai kehidupan mendasar yang harus mereka yakini.  

    Nilai-nilai ini harus bersumber dari Firman Tuhan, lalu diajar dan dipraktikkan bersama dalam hidup berkeluarga. 

  • Oh itu maksudnya akar...

    Setuju, Pak.

    Syukurlah kami juga sudah melakukan ini dalam terang kebenaran Firman Tuhan.

  • Kedua, memberikan sayap kepada anak.

    Seperti burung yang terbang dengan kedua sayapnya, anak-anak perlu bertumbuh dengan cita-cita atau visi kehidupan.  

    Cita-cita atau visi kehidupan ini tentu saja adalah hasil percakapan antara parents dan anak, bukan hasil pemaksaan orang tua.  Bukan pula hanya fantasi anak-anak yang belum dipercakapkan bersama dengan parents.

  • Oke.

    Sayap di sini maksudnya cita-cita dan visi kehidupan yang diobrolin bersama...

    Tentu saja dengan melibatkan Tuhan ya, Pak?

    Kan Dia pemilik kehidupan.

  • Tepat sekali.

    Hidup ini bukan tentang parents atau tentang anak.

    Hidup ini tentang Tuhan. 

    Jadi melibatkan Dia dalam menanamkan akar dan menumbuhkan sayap tentu saja menjadi suatu yang penting dan perlu.
     

  • Jadi kapan harus memberikan akar dan sayap ini, Pak?

    Sejak dini ya?

  • Tugas parents untuk memberikan akar dan sayap ini harus dilakukan sebelum anak berusia 18 tahun.  

    Pada usia awal memasuki tahap dewasa, anak-anak mungkin telah meninggalkan rumah, atau terlanjur terbentuk dengan keyakinan dan cita-cita tertentu.

     Nah, dalam proses ini seringkali muncul kesulitan-kesulitan spefisik.  Misalnya terkait dengan pergaulan anak tersebut.

  • Berarti sangat tepat jika kami memulainya sejak dulu.

    Hanya bagian memberikan sayap ini yang masih agak kurang maksimal.

    Lalu pertanyaan saya yang ini masih belum terjawab, Pak:

    Sejauh apa orang tua boleh terlibat dalam pergaulan anak dengan temannya?

  • Satu hal yang harus parents refleksikan sebagai orang tua adalah ketika rasa ingin tahu mendesak dan bahkan terkesan mencampuri terlalu dalam pergaulan anak, barangkali itu menunjukkan parents tidak terlalu percaya diri bahwa parents telah melakukan tugas memberikan akar dengan baik.  

    Parents meragukan hasil pengasuhan sendiri. Akibatnya parents masuk terlalu dalam pada pergaulan anak.  Anak pun merasa tidak nyaman.

    Ini perlu dihindari.

     

    Keterampilan untuk masuk dalam pergaulan mereka itu seni.

    Kemampuan untuk membedakan kapan perlu masuk dan kapan harus menahan diri itu hikmat.

    Kedua area ini, hikmat dan seni, perlu berjalan beriringan dalam anugerah Tuhan.

    Minta anugerah-Nya, lakukan dengan kasih Kristus, perhatikan kebutuhan dan kepribadian unik dari masing-masing anak.

    Niscaya parents tidak bingung lagi kapan harus masuk atau tidak.

     

    Tidak ada pedoman yang tegas, rambu yang jelas dan arah yang pasti untuk urusan ini. Selamat mengandalkan Tuhan.

  • Baiklah.

    Kami akan mencoba.

    Sambil mengingat soal akar dan sayap wink

    Terima kasih, Pak.

  • Mari kita berjuang keras memberikan akar dan sayap, sehingga anak bertumbuh kokoh dengan keyakinan dasar yang mantap dan melesat ke masa depan dengan cita-cita yang jelas untuk memuliakan nama Tuhan dan menikmati kasih-Nya.

    Selamat berjuang! Yang terbaik masih akan datang!