Mengajarkan Toleransi kepada Anak, Ini 3 Langkah Praktisnya

Mengajarkan Toleransi kepada Anak, Ini 3 Langkah Praktisnya
  •  

    Sebentar lagi keluarga besar kami akan merayakan Idul Fitri. Kami akan berniat mudik ke kota kelahiran saya. Nah, kami berbeda keyakinan dengan keluarga besar.

    Bagaimana mengajarkan toleransi kepada anak-anak kami yang selama ini tak banyak bergaul dengan teman berbeda keyakinan?

  •  

    Parents, selamat menempuh perjalanan mudik.

    Menurut saya, Pdt Wahyu 'wepe' Pramudya, perjalanan ini merupakan kesempatan untuk menjelaskan kepada anak-anak bahwa kita hidup bersama di Indonesia walau berbeda keyakinan.

    Di tengah maraknya diskirimasi dan kekerasan yang dilakukan pemeluk agama terhadap yang beda dengan mereka, parents dapat mengajarkan anak-anak untuk bersikap toleran.

  • Kita samakan perspektif dulu tentang sikap toleran ya, Pak?

    Bagaimana sikap toleran itu menurut Bapak?

  •  

    Sikap toleran adalah sikap menerima dan menghargai perbedaan yang ada.

    Sikap toleran bukanlah menutup mata terhadap perbedaan.

    Toleransi justru menuntut adanya pengakuan terhadap perbedaan, lalu kita memilih untuk menghargai yang berbeda itu.

  • Wow! Ini persis seperti yang saya pikirkan, Pak.

    Lalu bagaimana mengajarkan toleransi kepada anak-anak?

  • Ini 3 langkah praktisnya dalam konteks perayaan Idul Fitri.

    Pertama, ajarkan dan dampingin anak untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada anggota keluarga lain yang merayakannya.

    Anak-anak perlu memahami bahwa mengucapkan selamat atas hari raya keagaamaan tertentu tidak membuat mereka secara otomatis menjadi penganut agama tersebut.

    Ucapan selamat ini adalah salah satu bentuk turut bergembira bersama dengan mereka yang juga sedang bahagia.

  • Benar juga ya, Pak...

    Ini perlu kami perhatikan agar anak tidak salah kaprah.

  •  

    Kedua, dorong anak menanyakan hal-hal terkait dengan hari raya Idul Fitri yang ingin mereka ketahui pada saudara-saudara yang merayakannya.

    Anak-anak biasanya mempunyai rasa ingin tahu yang besar.

    Nah kesempatan mudik memberi ruang yang lebar bagi anak-anak untuk bertanya langsung makna hari raya Idul Fitri kepada mereka yang menganutnya.

    Anak-anak bukan hanya menggunakan Google dan membaca di layar smartphone mereka, namun bertatap muka dengan sumber jawaban mereka.

    Interaksi semacam ini untuk memberikan pengalaman yang baru bagi anak dalam relasi dengan penganut agama yang berbeda.

  • Tanya langsung pada sumbernya ya, Pak?

    Benar juga sih, supaya anak mendapat pengalaman langsung.

  •  

    Ketiga, ingatkan anak-anak akan komitmen berbangsa kita, Indonesia.

    Indonesia terbentuk karena visi dan harapan yang sama, bukan karena persamaan identitas etnis, suku atau pun agama.

    Komitmen ini harus ditanamkan sejak kecil, dirawat, dan ditumbuhkembangkan demi masa depan Indonesia. Apalagi sebagian anak-anak zaman now tinggal dan bersekolah di tempat yang sudah tersegmentasi berdasarkan strata sosial atau agama.

  • Komitmen berbangsa Indonesia.

    Wah saya sampai terharu, Pak!

    Terima kasih.

  •  

    Selamat menempuh perjalanan mudik.

    Salam untuk keluarga besar di kampung halaman parents

  • Terima kasih, Pak.

  • Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin bagi saudara-saudari yang merayakannya.