BUKU
Anak - Berkat atau Gangguan?
By Christian Pramudia

Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan,

demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat

penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.

Mazmur 127:3-5a

 

Mungkin parents sedang dalam perjalanan menjadi orangtua. Saat melihat anak, apa yang parents lihat? Mesin penghancur pikiran atau pusaka dari Tuhan? Penghancur rumah atau pusaka dari Tuhan? Sumber rasa malu di hadapan teman atau pusaka dari Tuhan?

 

Maukah parents meminta Tuhan menolong membetulkan cara pandang? “Tuhan, tolong saya agar bisa melihat anak saya sebagai karunia pemberianmu.” Parents mungkin perlu mendoakan itu berkali-kali dalam sehari. Itu bisa menjadi awal suatu perubahan yang menyenangkan dalam keluarga. Gerbang masuk kepada sukacita hubungan dengan anak.

Anak-anak lebih peka akan perilaku parents terhadap mereka daripada yang kita bayangkan. Mereka sering berespon sama seperti perilaku yang mereka terima. Mereka bertindak persis seperti parents berlaku atas mereka. Dengan cara itu disiplin dimulai. Disiplin itu berpola. Terapkan pola, jalankan disiplin.

 

Oh, tentu parents sangat mengasihi anak. Namun mereka punya banyak sekali tuntutan yang amat mengganggu. Jadi kita memberontak. Parents membiarkan mereka mengetahui secara tidak langsung kalau mereka itu gangguan bagi kita. Maka mereka akan menjadi lebih dari sekedar gangguan. Semakin parents memberontak, semakin anak menjadi-jadi.

 

Mereka tidak mendapatkan kasih dan rasa sayang dengan cara bertindak semakin ‘mengganggu’. Parents semakin tersulut emosi untuk marah. Tapi setidaknya mereka mendapat perhatian. Bagi mereka, sadar atau tidak, perhatian semacam itu lebih baik dari tidak ada perhatian sama sekali. Sayangnya, mereka akan bertumbuh dalam permusuhan, kompleksitas masalah dan dendam.

Hingga dengan cepat suatu hari kita menyadari mereka sudah tidak ada. Kita tidak lagi  mengingat sepatu kotor, ruang yang berantakan, kejadian memalukan yang mereka sebabkan atau kekacauan yang mereka buat. Kita hanya ingat waktu bahagia bersama mereka. Dan kita berharap hal itu ada lagi. Itu bisa terjadi jika kita melihat mereka sebagai berkat dari Tuhan daripada suatu beban atau gangguan.

Anak bukan hanya pusaka berharga. Mereka juga seperti panah. Panah merupakan sumber perlindungan, dan mungkin pemazmur menunjuk pada pemeliharaan dan perlindungan yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya. Tapi panah tidak seperti pedang. Iia bisa pergi ke tempat yang tak terjangkau oleh prajurit jika menggunakan pedang. Begitu juga dengan anak kita. Dari sebagian besar panah ini, keluarga dalam Tuhan telah mencapai ujung bumi, membawa berita injil kepada hati yang gelap berdosa.

Panah harus dibuat. Mereka tidak jadi begitu saja. Tuhan memberikan kita seorang anak seperti sepotong kayu, dan meminta kita untuk membentuknya. Jadi kita meraut, membersihkan, dan membentuk kayu menjadi panah yang lurus dan kuat.

 

Anak bukan hanya suatu milik pusaka. Mereka adalah pemberian yang kudus. Tuhan meminjamkan mereka pada parents untuk sementara. Kita perlu mempersiapkan mereka agar bisa digunakan-Nya. Mereka berasal dari Dia, dan saat kita mengetahuinya, kita lebih bersemangat terlibat dalam proses pembentukan-Nya.

 

Salah satu cara dramatis untuk mengetahui hal itu adalah mendedikasikan anak untuk Tuhan. Jika mereka memang dari Tuhan, marilah kita mengakui itu dengan menguduskan mereka untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya. Seperti apa yang Hannah dan Elkanah lakukan pada anak mereka, Samuel (1 Sam. 1:9-28).


Marilah kita berjanji pada Tuhan bahwa dengan pertolongannya kita akan membentuk hidup masa muda mereka menjadi seperti manusia yang diinginkan-Nya. Bukan menjadi alat untuk mewujudkan mimpi parents yang belum tercapai.

 

 

Ulasan dari Confident Children and How They Grow oleh Richard L. Strauss dari bible.org

Bagikan Pendapatmu